Yang mana, berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,86 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Secara tahunan, inflasi mencapai 2,80 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kaltim sebesar 3,20 persen.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,68 persen. Lima komoditas utama yang memicu kenaikan harga ialah bensin, angkutan udara, bawang merah, jagung manis, dan beras,” beber Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Lonjakan harga bensin dipicu penyesuaian harga Pertamax (RON 92) yang naik mulai 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.650 per liter dari sebelumnya Rp 12.600 per liter.
Sementara itu, tarif angkutan udara ikut meningkat sebagai dampak lanjutan kebijakan fuel surcharge penerbangan domestik yang masih diberlakukan di tengah tingginya harga avtur dunia.
Tekanan inflasi juga datang dari sektor pangan. Harga bawang merah dan jagung manis naik akibat terbatasnya pasokan dari sentra produksi di Pulau Jawa dan Sulawesi yang terdampak cuaca kurang bersahabat. Kenaikan biaya distribusi turut memperbesar tekanan harga di tingkat konsumen.
“Sementara beras premium mengalami kenaikan harga karena pasokan yang terbatas, disertai meningkatnya biaya logistik dan harga kemasan plastik,” timpalnya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi.
Cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar karena memasuki masa panen di berbagai daerah sentra produksi.
Selain itu, semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat juga mengalami penurunan harga.
Baca Juga: Ketua DPRD Mahulu Minta KONI Perkuat Koordinasi, Pastikan Anggaran Pembinaan Atlet Masuk APBD 2027
Bank Indonesia menilai perkembangan harga di Balikpapan masih relatif terkendali karena didukung kecukupan stok pangan, kelancaran distribusi, serta berbagai program stabilisasi harga yang dijalankan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Sepanjang Juni 2026, pemerintah daerah bersama BI menggelar berbagai program stabilisasi, antara lain Gerakan Pangan Murah, pasar murah, hingga operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
Ke depan, BI tetap mewaspadai sejumlah risiko, mulai dari musim kemarau, dampak El Nino terhadap produksi pangan di Pulau Jawa hingga meningkatnya kebutuhan pangan seiring percepatan operasional sejumlah program pemerintah yang diperkirakan meningkatkan permintaan komoditas pangan.
“Kami meyakini inflasi di Balikpapan dan Penajam Paser Utara akan tetap terkendali dalam sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujarnya. (rd)
Editor : Romdani.