KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi di Kalimantan Timur akan mereda pada triwulan II 2026. Laju inflasi diproyeksikan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Penurunan tekanan inflasi ditopang mulai meredanya dampak low base effect diskon tarif listrik yang terjadi pada awal 2025. Selain itu, pasokan sejumlah komoditas pangan diperkirakan membaik seiring musim panen bawang merah dan aneka cabai di Jawa Timur.
"Inflasi pada triwulan II 2026 diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dan masih berada pada rentang target sasaran inflasi," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Baca Juga: Pemkab Mahulu dan Kemitraan Perkuat Kolaborasi Dukung Program EnABLE untuk Pengurangan Emisi
Tren tersebut mulai terlihat pada April 2026. Inflasi tahunan Kaltim turun menjadi 2,50 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan Maret yang mencapai 3,31 persen (yoy). Sementara itu, inflasi bulanan hanya 0,11 persen (month to month/mtm), turun dari 0,72 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Meski demikian, Jajang mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Dari sisi permintaan, pemberian gaji ke-13 kepada aparatur sipil negara (ASN) pada Juni 2026 diperkirakan akan mendorong konsumsi masyarakat. Di sisi lain, ketidakpastian global diprakirakan menekan harga emas sehingga dapat mengurangi tekanan inflasi di Kaltim.
Baca Juga: DLH Kaltim ke Pulau Miang Pekan Depan, Sudah Kantongi Dugaan Sumber Pencemaran
Namun dari sisi pasokan, komoditas aneka cabai masih menghadapi risiko penurunan produksi akibat potensi fenomena El Nino, meskipun diperkirakan terbatas. (*)
Editor : Sukri Sikki