Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Naiknya Harga Pertamax Memicu Inflasi di Balikpapan dan PPU, Ongkos Logistik Membengkak, Bahan Keperluan Pokok Pun Jadi Mahal  

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 9 Juli 2026 | 18:33 WIB
Beras
Beras

KALTIMPOST.ID-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak berhenti di angka yang terpampang di papan digital stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Dampaknya merambat ke rantai distribusi, lalu perlahan terasa di pasar tradisional, rak-rak toko, hingga meja makan masyarakat. Ongkos angkut yang meningkat membuat harga sejumlah keperluan pokok ikut terdorong naik.

Fenomena itu terekam dalam perkembangan inflasi Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) sepanjang Juni 2026.

Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat, penyesuaian harga pertamax menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya tekanan harga di kedua daerah tersebut.

Baca Juga: Rektor Uniba Harap Kerja Sama dengan Polri Tak Sekadar Seremonial, Fokus Kembangkan SDM Unggul

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menjelaskan, kenaikan harga energi memberikan efek berantai terhadap berbagai komoditas, terutama pangan yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi.

“Tidak hanya mendorong kenaikan biaya transportasi, peningkatan harga energi juga memicu kenaikan harga sejumlah bahan pangan akibat meningkatnya ongkos distribusi,” ujarnya.

Data BI menunjukkan, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar setelah harga pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.600 menjadi Rp 16.650 per liter mulai 10 Juni 2026.

Selain itu, tarif angkutan udara juga meningkat seiring masih berlakunya kebijakan fuel surcharge penerbangan domestik di tengah tingginya harga avtur di pasar global.

Kenaikan biaya transportasi tersebut kemudian memengaruhi harga berbagai komoditas pangan. Di Balikpapan, bawang merah, jagung manis, dan beras menjadi kelompok bahan pangan yang mengalami kenaikan paling signifikan.

Menurut Robi, pasokan bawang merah dan jagung manis dari Pulau Jawa maupun Sulawesi berkurang akibat cuaca yang kurang mendukung. Di saat bersamaan, biaya distribusi yang meningkat membuat harga di tingkat konsumen ikut terkerek.

Sementara itu, beras premium juga mengalami kenaikan karena dipengaruhi stok yang lebih terbatas, meningkatnya biaya logistik, serta naiknya harga bahan kemasan plastik.

Baca Juga: Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan Sebut Posko Pengaduan SPMB 2026/2027 Nihil Laporan, Pelaksanaan Dinilai Berjalan Lancar

Situasi serupa terjadi di PPU. Selain bensin, inflasi daerah turut dipengaruhi kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, jagung manis, hingga minyak goreng.

Khusus minyak goreng, tekanan harga berasal dari masih tingginya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional.

Kondisi tersebut diperkuat kenaikan biaya kemasan plastik dan distribusi sehingga harga jual di tingkat konsumen ikut meningkat.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Sejumlah bahan pangan justru mencatat penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi.

Di Balikpapan, harga cabai rawit turun karena mulai memasuki musim panen. Penurunan juga terjadi pada semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat. Sementara di PPU, harga daging ayam ras, semangka, ikan tongkol, tomat, dan sawi hijau ikut melemah.

Melimpahnya pasokan ayam beku dari Pulau Jawa serta meningkatnya distribusi ayam segar dari peternak lokal menjadi faktor utama turunnya harga daging ayam.

Adapun harga ikan tongkol menurun setelah hasil tangkapan nelayan meningkat seiring membaiknya kondisi gelombang laut.

Baca Juga: Patut Dicontoh! SPBU di Balikpapan Ini Berani Tolak Pengetap BBM Bersubsidi dengan Mengawasi Ketat Pengendara yang Membeli Pertalite Berulang

Robi mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan inflasi tidak hanya dipengaruhi satu komoditas, melainkan hasil interaksi antara pasokan, distribusi, cuaca, hingga dinamika harga energi.

Karena itu, pengendalian inflasi memerlukan sinergi berbagai pihak agar keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga.

“Bank Indonesia akan terus bersinergi dengan seluruh TPID untuk mengimplementasikan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera secara konsisten, terukur, dan berkesinambungan sehingga inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional,” ujarnya.

Melalui penguatan produksi pangan lokal, operasi pasar, kerja sama antardaerah, dan upaya menjaga kelancaran distribusi, BI optimistis tekanan harga pada semester II 2026 dapat tetap terkendali sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #bahan bakar minyak (bbm) #pertamax naik #ibu kota nusantara #Kutai Barat