Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Inflasi Balikpapan Capai 2,80 Persen, BPS Pastikan Masih Terkendali

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 12 Juli 2026 | 20:03 WIB
KLAIM TERKENDALI: Sejumlah kelompok pengeluaran masih mengalami deflasi sehingga membantu menjaga keseimbangan laju inflasi di Balikpapan.
KLAIM TERKENDALI: Sejumlah kelompok pengeluaran masih mengalami deflasi sehingga membantu menjaga keseimbangan laju inflasi di Balikpapan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan menilai perkembangan inflasi selama Juni 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali meskipun terjadi peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan harga masih didominasi oleh beberapa kelompok pengeluaran tertentu dan belum berlangsung secara menyeluruh.

"Sepanjang Juni 2026, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,80 persen secara year on year (yoy). Sementara inflasi bulanan mencapai 0,86 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,24 persen," sebut Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.

Angka tersebut mencerminkan adanya peningkatan harga pada sebagian komoditas strategis, terutama transportasi, pangan, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Baca Juga: Harga Sayuran Turun, Laju Inflasi Balikpapan Berhasil Diredam

Meski demikian, sejumlah kelompok pengeluaran masih mengalami deflasi sehingga membantu menjaga keseimbangan laju inflasi. Penurunan harga pada kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menjadi salah satu faktor yang menahan kenaikan inflasi lebih tinggi.

Menurut Marinda, perkembangan tersebut menunjukkan kondisi harga barang dan jasa di Balikpapan masih relatif stabil.

"Inflasi yang terjadi masih dipengaruhi oleh beberapa komoditas tertentu. Pada saat yang sama terdapat komoditas lain yang mengalami penurunan harga sehingga inflasi tetap berada dalam kondisi yang terkendali," katanya.

Baca Juga: Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Inflasi Balikpapan, Beras hingga Ikan Ikut Naik

Selain transportasi dan pangan, kenaikan harga juga dipicu oleh emas perhiasan, sigaret kretek mesin, biaya pemeliharaan kendaraan, serta upah asisten rumah tangga.

Di sisi lain, penurunan harga bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, sayuran, tas sekolah dan beberapa komoditas lainnya memberikan efek penahan terhadap kenaikan indeks harga konsumen.

Marinda menambahkan, pemantauan perkembangan harga akan terus dilakukan sebagai bagian dari penyusunan statistik resmi yang menjadi dasar pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi.

"Stabilitas harga penting untuk menjaga daya beli masyarakat, menciptakan kepastian bagi pelaku usaha, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Balikpapan pada semester kedua tahun 2026," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#daya beli masyarakat #harga pangan #inflasi Balikpapan #deflasi Balikpapan #BPS Balikpapan