Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Banting Setir dari Bisnis Kuliner, Bambang Bangun Ekosistem Peternakan Telur Berbasis Kemitraan

Nasya Rahaya • Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:47 WIB
TRANSFORMASI BISNIS: Berawal dari menutup lima cabang usaha kuliner, Bambang kini mantap membangun ekosistem peternakan berbasis kemitraan yang menggandeng peternak lokal.
TRANSFORMASI BISNIS: Berawal dari menutup lima cabang usaha kuliner, Bambang kini mantap membangun ekosistem peternakan berbasis kemitraan yang menggandeng peternak lokal.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Berawal dari limbah kepala udang, Bambang Saputro sukses membangun PT Ekosistem Ternak Borneo. Kini perusahaan tersebut memasok hingga 2.000 piring telur per pekan melalui sistem kemitraan.

Keputusan besar Bambang Saputro lahir ketika sebuah usahanya sedang berada di titik terbaiknya. Saat lima cabang usaha kuliner yang dirintis mulai berkembang, ia justru memilih menutup seluruh usahanya dan memulai perjalanan baru yang berbeda yakni peternakan ayam petelur.

Keputusan itu tentu bukan tanpa risiko. Selama hampir satu dekade, lulusan Sarjana Pertanian dari Universitas Mulawarman tersebut membangun berbagai usaha kuliner. Mulai bakery, bubur ayam, donat, nasi uduk, nasi kuning hingga lalapan yang sempat memiliki lima cabang di Samarinda dan Muara Badak.

Baca Juga: Jelajah Alam Melapeh 2026 Diserbu 40 Klub Trail, Peserta Datang dari Balikpapan hingga IKN

Usaha itu bahkan membawanya menjadi salah satu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terbaik asal Samarinda yang lolos mempresentasikan bisnisnya di hadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno.

Namun di balik pencapaian tersebut, Bambang melihat persoalan yang terus berulang. Bisnis kuliner dinilainya memiliki margin keuntungan yang relatif tipis, membutuhkan pengawasan operasional yang tinggi, serta pasar yang tidak selalu stabil.

“Bisnis kuliner itu harus benar-benar tekun. Operasionalnya berat dan marginnya tidak besar. Akhirnya saya memutuskan mencari peluang usaha lain yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Keputusan berpindah sektor ternyata tidak diawali dengan keinginan menjadi peternak. Ide bisnis itu hadir saat ada kawannya menawarkan limbah kepala udang.

Baca Juga: Anton Widiastanto, Eks Drummer Sheila On 7 Resmi Menikah di Usia 47 Tahun

Bambang melihat peluang, dirinya yakin ada yang bisa dikembangkan dari limbah ini. Di tengah pencarian tersebut ia menemukan fakta bahwa limbah kepala udang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. “Saya mulai belajar pakan ternak dari situ. Awalnya benar-benar otodidak,” katanya.

Karena tak punya latar belakang, dia memutuskan belajar dari nol. Selama sekitar enam bulan, hampir setiap hari Bambang menghabiskan waktu sejak pukul 03.00 hingga sekitar pukul 20.00 Wita untuk membaca jurnal ilmiah mengenai nutrisi unggas, membeli berbagai buku peternakan, hingga mengikuti kelas daring bersama pakar dari luar negeri. Ia juga belajar langsung kepada sejumlah praktisi.

“Semua jurnal saya baca. Semua buku saya beli. Saya memang belajar dari nol,” katanya. Bekal pengetahuan tersebut kemudian digunakannya untuk memproduksi pakan sendiri. Namun perjalanan usahanya tidak langsung berjalan mulus.

Ia sempat mencoba memasarkan pakan hasil racikannya. Sayangnya, keuntungan yang diperoleh terlalu tipis sehingga usaha tersebut tidak mampu berkembang. “Usaha itu sempat bangkrut. Marginnya ada, tetapi hanya cukup membayar operasional dan karyawan,” kenangnya.

Alih-alih menyerah, Bambang memilih menguji sendiri kualitas pakannya. Ia membeli 100 ekor ayam petelur dari peternak lokal di Samarinda sebagai tahap awal. Ayam-ayam tersebut menjadi media uji coba formulasi pakan yang telah ia racik.

Bukan hanya memperhatikan tingkat pertumbuhan dan produktivitas ayam, Bambang juga mengirim sampel telur ke Laboratorium Saraswati Bogor karena hingga kini belum tersedia laboratorium pengujian telur di Kalimantan.

Baca Juga: Alasan Hotman Paris Pilih Bela Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Sebut Ada Dugaan Kejanggalan, Akui Tak Mengejar Bayaran

Pengujian dilakukan terhadap 32 parameter kandungan nutrisi. Hasilnya membuat Bambang semakin yakin melanjutkan usahanya. “Dari situ kami tahu formulasi pakan kami berhasil. Setelah itu baru kami berani mengembangkan usaha,” katanya.

Awalnya hanya delapan piring telur yang berhasil dijual. Kini penjualan PT Ekosistem Ternak Borneo telah mencapai sekitar 1.000 hingga 2.000 piring telur setiap pekan atau sekitar 30 ribu hingga 60 ribu butir telur.

Menurut Bambang, salah satu keunggulan telur lokal adalah kesegaran. Telur langsung disortir dan dipasarkan sehingga waktu penyimpanan menjadi lebih singkat dibanding telur yang didatangkan dari luar Pulau. “Kalau sudah lebih dari tiga minggu, kandungan nutrisinya mulai menurun. Karena itu kami selalu menjaga telur yang dijual tetap segar,” ujarnya.

Bertumbuhnya permintaan tidak lantas membuatnya membangun kandang sendiri dalam jumlah besar. Sebaliknya, ia memilih mengembangkan model bisnis berbasis kemitraan. “Saya sering mengibaratkan seperti Gojek. Gojek tidak punya semua motor. Saya juga tidak harus punya semua kandang,” katanya.

Baca Juga: Tak Hanya Jajal Medan, Komunitas Trail JAM Series 6 Salurkan Sembako untuk Warga Kubar

Melalui konsep closed ecosystem, PT Ekosistem Ternak Borneo memasok pakan, memberikan pendampingan kepada peternak, kemudian membeli seluruh hasil produksi telur dari mitra. Sebaliknya, peternak memperoleh kepastian pasokan pakan, pendampingan teknis, serta kepastian pasar.

Menurut Bambang, pola tersebut membuat peternak dapat fokus memelihara ayam tanpa harus memikirkan fluktuasi harga maupun pemasaran hasil produksi.

Salah satu peternak mitranya di Handil, misalnya, mampu memperoleh margin sekitar Rp32 juta hingga Rp40 juta per bulan melalui pola kerja sama tersebut. “Tugas peternak memelihara ayam. Tugas kami menjual telurnya. Jadi semua fokus pada keahliannya masing-masing,” ujarnya.

Saat ini perusahaan telah memiliki enam mitra kandang di berbagai daerah dan terus memperluas jaringan kemitraan, termasuk bekerja sama dengan sejumlah pesantren. Ke depan, ia menargetkan PT Ekosistem Ternak Borneo mampu menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar telur lokal di Kaltim pada 2028 sekaligus memperluas jaringan peternak binaan di berbagai daerah.

“Kalau modal masih bisa dicari. Yang paling sulit adalah membangun SDM. Itu pekerjaan rumah terbesar kami sekarang,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Bambang Saputro PT Ekosistem Ternak Borneo bisnis telur Kaltim peternakan ayam petelur kemitraan peternak