KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - PT Ekosistem Ternak Borneo tak hanya memproduksi telur ayam konsumsi biasa. Perusahaan asal Samarinda itu juga mengembangkan telur omega-3 melalui formulasi pakan racikan sendiri yang telah diuji di laboratorium.
Owner PT Ekosistem Ternak Borneo Bambang Saputro mengatakan kualitas telur ditentukan oleh komposisi pakan, bukan sistem kandang maupun warna kuning telur seperti yang banyak diyakini masyarakat. “Kualitas telur itu ditentukan dari pakan. Banyak anggapan warna kuning telur yang lebih oranye berarti lebih sehat. Itu belum tentu benar,” ujarnya.
Menurut Bambang, seluruh telur sebenarnya mengandung omega-3. Namun kadarnya berbeda-beda, bergantung pada nutrisi yang dikonsumsi ayam petelur. Telur biasa umumnya mengandung sekitar 40 hingga 50 miligram omega-3, sedangkan telur produksi PT Ekosistem Ternak Borneo memiliki kandungan lebih dari 100 miligram berdasarkan hasil uji laboratorium.
Baca Juga: Banting Setir dari Bisnis Kuliner, Bambang Bangun Ekosistem Peternakan Telur Berbasis Kemitraan
Ke depan, perusahaan menargetkan kandungan tersebut meningkat hingga sekitar 300 miligram. Untuk menghasilkan telur tersebut, perusahaan menggunakan alga yang masih diimpor dari Tiongkok sebagai sumber omega-3. Bahan tersebut dipilih karena dinilai lebih stabil dan tidak menimbulkan risiko alergi.
“Kalau mau menghasilkan telur omega-3, formulasi pakannya memang berbeda. Bahannya juga masih harus impor,” katanya. Inovasi tersebut mengantarkan Bambang meraih sejumlah penghargaan pada 2025. Ia dinobatkan sebagai Peternak Mandiri dan Milenial oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur atas kontribusinya dalam penyediaan protein hewani di daerah.
Pada tahun yang sama, Bambang juga menerima Apresiasi 16th SATU Indonesia Awards 2025 Tingkat Provinsi Kaltim bidang kewirausahaan yang diselenggarakan Astra berkat inovasi bisnis yang dikembangkan melalui PT Ekosistem Ternak Borneo.
Selain memproduksi pakan dan telur, perusahaan juga mengembangkan kandang cage free yang mengacu pada standar animal welfare atau kesejahteraan hewan. Meski produktivitasnya masih lebih rendah dibanding kandang konvensional karena ayam lebih aktif bergerak, Bambang menilai sistem tersebut memiliki prospek yang baik seiring meningkatnya perhatian terhadap praktik peternakan berkelanjutan.
Baca Juga: Jelajah Alam Melapeh 2026 Diserbu 40 Klub Trail, Peserta Datang dari Balikpapan hingga IKN
“Kami ingin terus berinovasi, baik dari sisi kualitas pakan maupun sistem pemeliharaan, supaya peternakan di Kalimantan Timur bisa berkembang dan memiliki daya saing,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo