Sensus Ekonomi 2026, Menangkap Arah Baru Ekonomi Indonesia: Dari Rumah Tanpa Toko, Sambal Wiwit Menjelajah Rak Oleh-oleh Nusantara

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:56 WIB
RUMAHAN: Wiwit meracik sambal bawang dayak di dapur rumahnya. Ruang sederhana itu menjadi saksi perubahan cara berusaha, ketika rumah juga menjadi pusat produksi yang menjangkau pasar nasional. RORO MIRA/KP
RUMAHAN: Wiwit meracik sambal bawang dayak di dapur rumahnya. Ruang sederhana itu menjadi saksi perubahan cara berusaha, ketika rumah juga menjadi pusat produksi yang menjangkau pasar nasional. RORO MIRA/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Aroma sambal yang mendidih memenuhi udara. Ada dapur yang selalu sibuk, nyaris tak pernah berhenti bekerja. Dari rumah sederhana itu, produk menembus berbagai daerah. Kisah Wiwit jadi potret ekonomi yang terus berubah.

Asap tipis mengepul dari dapur sederhana di sebuah rumah di Samarinda. Di atas kompor, cabai giling, bawang dayak, dan suwiran ikan tuna yang totalnya 60 kilogram terus diaduk di dalam wajan besar yang lebarnya hampir satu meter. Empat liter minyak goreng sudah disiapkan untuk tahap berikutnya.

Tangan Wiwit Andriyanti nyaris tak berhenti bergerak. Sedikit saja lengah, cita rasa sambal yang selama ini membuat pelanggannya kembali membeli bisa berubah.

Baca Juga: PLN Siapkan Penyambungan 75 MVA, Siap Dukung Operasional PT Borneo Indobara 

Tak ada papan nama usaha di depan rumah itu. Tak ada rolling door layaknya usaha pada umumnya. Namun dari dapur yang tak terlalu luas, ribuan botol sambal bawang dayak dikirim ke berbagai daerah, mulai Banjarmasin, Palu, Makassar, Jakarta, Yogyakarta, Medan hingga Batam.

Sulit membayangkan rumah yang tampak biasa dari luar itu menjadi pusat produksi yang memasok puluhan distributor dengan ribuan produk. Gambaran seperti inilah yang kini semakin banyak muncul di Indonesia. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi. Pergeseran itu yang ingin dipotret Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Ekonomi (SE) 2026.

Perjalanan Wiwit bermula dari dunia yang benar-benar berbeda. Sebelum dikenal sebagai produsen sambal, ia lebih dulu menggeluti bisnis fesyen dan kecantikan dengan mengandalkan empat toko fisik di beberapa pusat perbelanjaan sejak 2003.

Namun pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Ditambah biaya operasional makin tinggi, sewa toko, hingga rumitnya mengelola karyawan membuatnya mulai mencari jalan lain untuk bertahan. "Kalau punya toko fisik itu harus dipantau terus. Sewanya mahal. Belum lagi pandemi bikin pelanggan sepi," ujarnya ditemui medio Juli lalu.

Baca Juga: Balikpapan Jadi Tuan Rumah Hari Mangrove Sedunia 2026 Kaltim, Tanam 12 Ribu Bibit di Pantai Lamaru

Pandemi diakui menjadi masa sulit namun juga menjadi titik balik. Ia mulai memproduksi sambal bawang dayak dari dapur rumahnya. Apalagi rempah lokal itu punya segudang manfaat kesehatan yang tentu banyak dicari kala Covid-19 merebak. Sekadar mencari cara agar tetap bertahan. Tak disangka, usaha kecil itu justru tumbuh melampaui bisnis yang pernah ia bangun sebelumnya.

"Kalau saya ditanya rezeki dan keberkahan, saya merasakannya di kuliner. Dulu pas usaha fesyen itu orang sekali belanja bisa ratusan ribu sampai jutaan, setelah pandemi, pegang Rp15-20 ribu sehari pas awal-awal itu sudah bersyukur sekali," urainya mengenang, matanya mulai berkaca-kaca.

DAPUR TANPA ETALASE

Seiring waktu, bukan hanya jenis usahanya yang berubah, tetapi juga cara menjalankannya. Alih-alih membuka toko, Wiwit memilih membangun jaringan distributor dan promosi digital. Satu daerah hanya dipegang satu orang. Ia bahkan rela mengeluarkan biaya promosi sendiri agar mitranya berkembang.

"Tujuannya supaya jualan mereka ramai. Saya tidak mau untung sendiri. Kami harus sama-sama hidup," sebut perempuan kelahiran 1981 itu. Strategi tersebut membuahkan hasil. Produk sambalnya kini dipasarkan melalui lebih dari 50 toko yang tersebar di tujuh provinsi. Di Samarinda saja, produknya telah masuk ke 15 gerai ritel modern.

Jika ada pembeli yang memesan langsung melalui media sosial, Wiwit justru mengarahkannya ke toko mitra terdekat. "Saya tanya dulu tinggal di mana. Kalau di Balikpapan saya arahkan ke toko terdekat. Harga saya samakan dengan supermarket, sama Rp30 ribuan, supaya mereka beli di sana," jelas ibu dengan satu anak itu.

Baca Juga: Tak Kalah Dibanding MotoGP, Idemitsu Blu Cru Yamaha Sunday Race Terheboh Se-Asia Pasifik  

Cara berdagang pun berubah. Rumah menjadi pusat produksi, media sosial berubah menjadi etalase, sedangkan jaringan distributor menjadi ujung tombak pemasaran.

Di dapur ritme usaha diatur. Saat stok mulai menipis, tiga pekerja lepas dipanggil untuk membantu mengolah cabai, menyuwir ikan, memasak hingga mengemas sekitar 500 botol sambal dalam sekali produksi untuk setiap varian, total enam varian. Setelah target terpenuhi, dapur kembali tenang sebelum produksi berikutnya dimulai.

"Saya tidak suka kebanyakan karyawan. Sedikit saja, tapi fokus dan saya kasih gaji yang layak. Yang penting cara kerjanya sudah ada, jadi enggak perlu ngos-ngosan. Saya juga atur agar ada hari libur, jadi bisa istirahat juga," bebernya.

Cara kerja itulah yang membuat banyak orang tak percaya seluruh proses dilakukan dari rumah. Mengingat produk yang dihasilkan bisa belasan ribu per bulan. "Ada yang bilang ini cuma repacking. Padahal saya masak sendiri dari awal. Orang datang ke dapur baru percaya. Bedanya mungkin karena saya sudah punya alur kerja, jadi enggak kelihatan capek," katanya.

Baca Juga: PT Mandau Berlian Sejati Kenalkan New Mitsubishi Xforce Hybrid di Balikpapan, Promo Menarik hingga Angsuran Setara Cash

DATA UNTUK KEBIJAKAN

Fenomena yang dialami Wiwit dinilai bukan lagi kasus yang berdiri sendiri. Ketua Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kaltim Dedy Cahyadi mengatakan transformasi digital telah mengubah cara masyarakat membangun usaha.

Menurutnya, pandemi mempercepat perubahan perilaku penjual maupun konsumen. Jika dulu usaha identik dengan toko fisik, kini semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan rumah sebagai pusat produksi sekaligus memasarkan produknya melalui platform digital.

Dedy menilai perubahan tersebut didorong oleh perilaku konsumen yang juga berubah. Marketplace, media sosial, ulasan pelanggan, hingga ekosistem digital membuat masyarakat semakin nyaman berbelanja secara dalam jaringan (daring).

"Platform digital sekarang ekosistemnya sudah matang. Ada promo, perlindungan transaksi, sampai review pelanggan. Itu membuat orang semakin percaya berbelanja secara online," bebernya.

Di era digital, ukuran keberhasilan usaha pun ikut bergeser. Jika dulu besarnya toko menjadi simbol kesuksesan, kini indikatornya berganti menjadi jumlah transaksi, ulasan pelanggan, hingga tingkat kepercayaan konsumen.

Ketua Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kaltim Dedy Cahyadi
Ketua Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kaltim Dedy Cahyadi

Namun, menurut Dedy, perubahan besar tersebut harus diikuti dengan pendataan yang akurat. Sebab, tanpa data yang benar, pemerintah akan sulit menyusun kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha digital.

"Kalau datanya sudah salah dari awal, kemudian kebijakan diambil dari data yang salah, tentu teman-teman UMKM yang berjualan melalui platform digital tidak akan mendapatkan perlindungan yang tepat," ujarnya.

Ia menambahkan, ketika pemerintah memiliki data yang lengkap mengenai pelaku usaha berbasis digital, berbagai kebijakan dapat disusun lebih tepat sasaran, mulai dari regulasi platform digital, perlindungan UMKM, hingga pemberian insentif.

"Kalau datanya sudah jelas, pemerintah bisa memberikan kebijakan maupun insentif yang tepat sasaran. Jadi pelaku UMKM digital tidak hanya didata, tetapi juga mendapat dukungan agar usahanya bisa terus berkembang," papar Dedy.

Baca Juga: PPU Juara Umum Open Tournament Arung Jeram Wali Kota Cup 2026, Raih Tiga Medali Emas

PETA EKONOMI BARU

Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai mengatakan perubahan model usaha seperti yang dialami Wiwit memang menjadi salah satu fenomena yang ingin dipetakan melalui SE 2026. Menurutnya, dalam satu dekade terakhir perkembangan teknologi telah melahirkan banyak jenis usaha baru, sementara sebagian rantai usaha lama mulai berkurang bahkan menghilang.

"Disrupsi teknologi ini ada rantai usaha yang perlahan hilang misal kayak warung internet (warnet), tetapi yang baru juga banyak muncul. Yang ingin kita ukur adalah seberapa besar perubahan itu," ujarnya ditemui di tempat kerjanya, Jalan Kemakmuran Samarinda.

Mas'ud menjelaskan, gejala perubahan tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat melalui berbagai survei yang dilakukan BPS. Namun, besaran perubahan dan persebarannya baru dapat diketahui secara utuh melalui sensus.

"Kalau survei itu sifatnya sampel. Gejala perubahan bisa terlihat, tetapi besarannya dan persebarannya harus diperbarui melalui sensus karena sensus ini semua (masyarakat) didata tanpa terkecuali," ungkapnya.

Hasil pendataan tersebut nantinya akan menjadi dasar pemerintah membaca arah perkembangan ekonomi Indonesia, termasuk menyusun kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha di era digital.

Kepala BPS Kaltim Mas
Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai

Dapur Wiwit mungkin hanya satu dari jutaan rumah di Indonesia. Namun, di tempat sederhana itu tergambar perubahan wajah ekonomi yang berlangsung dalam satu dekade terakhir. Usaha tak lagi selalu berdiri di ruko atau pusat perbelanjaan.

Tumbuh dari rumah, bergerak melalui ruang digital, menjangkau pasar lintas daerah, dan pada akhirnya menjadi bagian dari potret besar yang sedang dihimpun BPS melalui SE 2026. Agar setiap perubahan yang terjadi benar-benar tercermin dalam data, melahirkan kebijakan yang tepat, dan menjadi fondasi kokoh untuk mengawal arah ekonomi Indonesia maju. (ndu)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
sambal bawang dayak ekonomi indonesia Sensus Ekonomi 2026 usaha rumahan UMKM Samarinda