CFD Balikpapan Bisa Jadi Mesin Ekonomi Baru, UMKM dan Perempuan Didorong Naik Kelas

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 19:52 WIB
PANGGUNG PROMOSI: Masyarakat beraktivitas di Taman Tiga Generasi Balikpapan saat CFD, akhir pekan lalu. Ramainya kunjungan warga ini diharapkan bisa menghidupkan UMKM dan ekraf. ANGGI/KP
PANGGUNG PROMOSI: Masyarakat beraktivitas di Taman Tiga Generasi Balikpapan saat CFD, akhir pekan lalu. Ramainya kunjungan warga ini diharapkan bisa menghidupkan UMKM dan ekraf. ANGGI/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tak hanya dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga dan bersosialisasi, Car Free Day (CFD) di Balikpapan didorong untuk menjadi penggerak ekonomi lokal.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Balikpapan Yuli Shinta Noviyanti mengungkapkan, aktivitas yang menghadirkan kerumunan masyarakat setiap akhir pekan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ruang promosi, pemasaran dan pengembangan ekonomi kreatif. Khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Yuli menilai keberadaan ruang publik seperti CFD perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Menurutnya, keramaian masyarakat merupakan potensi pasar yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen.

“CFD itu bukan hanya tempat orang berolahraga. Kalau dikelola dengan baik, CFD bisa menjadi ruang ekonomi bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. Ada masyarakat yang datang, ada aktivitas, ada kebutuhan, sehingga di situ muncul peluang usaha,” kata Yuli, Senin (24/8).

Baca Juga: SMA 4 Berau Terbaik di Kaltim, Raih Juara SSK Paripurna 2026, Bersiap Bersaing di Tingkat Nasional

Menurutnya, kehadiran UMKM di ruang publik memberikan keuntungan karena pelaku usaha dapat berinteraksi langsung dengan calon konsumen. Interaksi tersebut penting untuk mengetahui selera pasar, menerima masukan mengenai produk sekaligus membangun hubungan dengan pelanggan.

Berbeda dengan pemasaran yang hanya mengandalkan platform digital, ruang publik memberikan pengalaman langsung kepada konsumen. Produk kuliner dapat dicicipi, kerajinan dapat dilihat secara langsung, sementara produk fesyen dan berbagai karya kreatif dapat diperkenalkan melalui interaksi tatap muka.

Yuli mengatakan, peluang tersebut semakin besar apabila CFD tidak hanya diisi pedagang makanan dan minuman, tetapi juga dikembangkan menjadi ruang bagi berbagai subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari fesyen, kriya, kuliner, fotografi, seni pertunjukan, produk dekorasi, hingga berbagai produk kreatif berbasis komunitas dapat diberikan ruang secara bergantian.

Baca Juga: PBSI Kaltim Beber Tantangan Bulu Tangkis Daerah, Target Lahirkan Atlet hingga Panggung Internasional

“Jangan sampai yang tampil hanya itu-itu saja. Kita bisa membuat kurasi, sehingga ada ruang untuk kuliner, fesyen, kerajinan, produk kreatif perempuan, komunitas dan usaha-usaha baru. Dengan begitu masyarakat juga mendapatkan pilihan dan CFD menjadi lebih hidup,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan CFD sebagai ruang ekonomi lokal juga harus dibarengi dengan pembinaan. UMKM yang diberi kesempatan berjualan perlu didorong agar tidak hanya mengejar transaksi harian, tetapi juga meningkatkan kualitas produknya.

Kemasan, harga, kebersihan, pelayanan, pencatatan keuangan, legalitas hingga pemasaran digital menjadi sejumlah aspek yang menurutnya perlu diperhatikan. Dengan pembinaan tersebut, UMKM yang berawal dari lapak CFD dapat berkembang menjadi usaha yang memiliki pasar lebih luas.

“Kalau kita bicara UMKM naik kelas, jangan hanya diberikan tempat berjualan. Mereka juga harus dibekali. Bagaimana membuat kemasan yang bagus, bagaimana menghitung harga, bagaimana melakukan promosi dan bagaimana masuk ke pasar digital. Jadi CFD menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhirnya,” jelas Yuli.

Bagi Iwapi, penguatan ekonomi kreatif juga memiliki kaitan erat dengan pemberdayaan perempuan. Banyak perempuan yang memiliki keterampilan dan kemampuan menghasilkan produk, tetapi masih menjalankan usaha dalam skala rumah tangga. Keterbatasan akses pasar sering kali membuat produk tersebut sulit berkembang.

Karena itu, ruang publik dinilai dapat menjadi jembatan bagi perempuan untuk mulai memperkenalkan produk kepada masyarakat. Perempuan yang selama ini memproduksi makanan, kue, kerajinan, fesyen maupun produk kreatif lainnya dari rumah dapat memperoleh kesempatan untuk menguji pasar secara langsung.

Baca Juga: Bank Mandiri Buka KCP Grand City Balikpapan, UMKM Bisa Akses Pembiayaan hingga Puluhan Miliar

“Banyak perempuan sebenarnya punya kemampuan usaha. Ada yang pintar memasak, membuat kerajinan, menjahit, membuat hampers atau berbagai produk lainnya. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana produknya dipasarkan. Ruang seperti CFD bisa menjadi salah satu tempat mereka memperkenalkan hasil karya,” tutur Yuli.

Ia menambahkan, pemberdayaan perempuan melalui UMKM bukan hanya mengenai peningkatan pendapatan, tetapi juga membangun kemandirian dan kepercayaan diri. Ketika perempuan mampu menghasilkan pendapatan dari usaha sendiri, kontribusinya terhadap ekonomi keluarga semakin kuat.

Dalam jangka panjang, pengembangan UMKM perempuan juga dapat menciptakan lapangan kerja baru. Ketika sebuah usaha berkembang, kebutuhan tenaga produksi, pemasaran, pengemasan maupun distribusi ikut meningkat. Artinya, satu usaha kecil berpotensi membangun rantai ekonomi baru di lingkungannya.

Yuli juga mendorong agar pemerintah dan pengelola ruang publik membuat sistem yang memberikan kesempatan secara adil kepada pelaku UMKM. Kurasi diperlukan agar produk yang ditampilkan memiliki kualitas dan keragaman, sementara rotasi peserta dapat dilakukan sehingga kesempatan tidak hanya dinikmati kelompok usaha tertentu.

Baca Juga: Karhutla Melanda Muara Muntai Kukar, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api di Lahan Gambut

“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Jangan hanya ramai ketika launching atau ketika ada acara besar. Setelah itu selesai. Kalau kita ingin ekonomi lokal bergerak, kegiatan seperti ini harus konsisten dan pelaku UMKM harus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan,” ucapnya.

Menurut Yuli, sinergi antara pemerintah, organisasi pengusaha, komunitas dan pelaku UMKM menjadi kunci. Pemerintah dapat menyediakan ruang dan regulasi, organisasi seperti Iwapi dapat membantu penguatan kapasitas pengusaha perempuan, sementara komunitas kreatif dapat menghadirkan kegiatan yang membuat ruang publik semakin menarik.

CFD juga dapat dikembangkan sebagai etalase produk lokal Balikpapan. Masyarakat yang datang tidak hanya memperoleh ruang untuk berolahraga, tetapi sekaligus mengenal berbagai produk yang dibuat oleh warga kota sendiri.

Konsep tersebut dinilai dapat menciptakan perputaran ekonomi yang lebih dekat dengan masyarakat. Uang yang dibelanjakan di CFD masuk kepada pelaku usaha lokal, kemudian digunakan kembali untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja dan mengembangkan usaha. Efek berantai inilah yang menurut Yuli perlu diperkuat.

Ekonomi kreatif tidak selalu membutuhkan ruang komersial besar untuk berkembang. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang baik, ruang publik pun dapat menjadi tempat lahirnya transaksi dan jejaring usaha.

“Kalau masyarakat membeli produk UMKM lokal, sebenarnya mereka ikut membantu menggerakkan ekonomi kota. Karena uangnya berputar di pelaku usaha lokal. Itu yang harus kita bangun bersama,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, CFD di Balikpapan berpeluang memiliki fungsi yang lebih luas. Dari ruang olahraga, berkembang menjadi ruang interaksi sosial sekaligus pasar kreatif. Bagi UMKM, CFD menjadi kesempatan mendapatkan pelanggan baru. Bagi pelaku ekonomi kreatif, menjadi panggung untuk memperkenalkan karya.

Baca Juga: Mau Beli Pertalite dan Solar di SPBU Ini di Balikpapan? Catat Jadwal dan Aturan Baru Per 1 September

Sementara bagi perempuan, ruang tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi. "Ruang publik semacam CFD bukan sekadar tempat berkumpul pada akhir pekan, tetapi dapat menjadi salah satu simpul ekonomi lokal yang mempertemukan kreativitas, usaha masyarakat dan kebutuhan konsumen dalam satu ruang," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekonomi Kreatif Balikpapan UMKM perempuan CFD Balikpapan IWAPI Balikpapan UMKM Balikpapan