Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bertahun-tahun Keliru, PBB Akhirnya Resmi Ganti Peta Dunia

A
Penulis: Ari Arief❯

Advertisement

Peta Proyeksi Mercator yang umum dipakai saat ini.(BardoczPeter/Getty Images)
Peta Proyeksi Mercator yang umum dipakai saat ini.(BardoczPeter/Getty Images)

KALTIMPOST.ID,NEW YORK-Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengadopsi peta dunia baru yang mencerminkan ukuran negara secara sebenarnya. Keputusan ini diambil usai pemungutan suara atas resolusi "Perbaiki Peta" yang didorong oleh negara-negara anggota Uni Afrika dan Bahama.

Advertisement

Resolusi tersebut disahkan dengan dukungan mutlak. Sebanyak 164 negara anggota menyatakan setuju, enam negara memilih abstain, dan hanya Amerika Serikat yang menentang.

Langkah ini bertujuan memberikan representasi yang adil bagi wilayah-wilayah di dunia, terutama Benua Afrika. Selama ini, distorsi pada peta lama dinilai membuat wilayah Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan mengalami pengecilan simbolis yang memengaruhi persepsi global.

Advertisement

Sebagian besar peta yang digunakan saat ini berbasis pada Proyeksi Mercator ciptaan pembuat peta asal Eropa, Gerardus Mercator, pada 1569. Meski berguna untuk navigasi, skala peta ini terdistorsi karena memperbesar wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa secara tidak proporsional.

Sebagai contoh, pada Proyeksi Mercator, Greenland tampak setara dengan Benua Afrika. Padahal secara realitas, Afrika berukuran 14 kali lebih besar dari Greenland, sementara luas Greenland sebenarnya hampir sama dengan Republik Demokratik Kongo.

Dalam resolusinya, PBB mencatat bahwa distorsi ukuran ini berdampak serius. Ketidakakuratan tersebut dinilai mengerdilkan realitas sosial-ekonomi, kebutuhan infrastruktur, potensi pembangunan, hingga memicu prasangka geopolitik bagi negara-negara di belahan bumi selatan.

Sebagai gantinya, PBB mengusulkan penggunaan proyeksi Equal Earth (Bumi Setara) yang diperkenalkan sejak 2018. Proyeksi baru ini menggambarkan luas permukaan dunia secara jauh lebih akurat, di mana ukuran Afrika dan Brasil terlihat lebih besar, sementara Eropa dan Greenland menyusut ke skala sebenarnya.

Dukungan juga datang dari Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, memastikan negaranya akan meninggalkan Proyeksi Mercator.

"Amerika Serikat, Rusia, dan China mendapatkan penonjolan visual yang tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," ujar Barrot.

Selain mengimbau negara anggota, draf resolusi PBB ini juga mendesak platform teknologi global dan penyedia peta digital—seperti Google Maps—untuk mulai berdiskusi dan mengadopsi proyeksi baru yang lebih akurat.(*)

Advertisement
Editor : Thomas Priyandoko
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cara Mudah Urus Sertifikat Tanah Gratis lewat Program PTSL 2027

Cara Mudah Urus Sertifikat Tanah Gratis lewat Program PTSL 2027

Pemerintah permudah kepemilikan SHM lewat PTSL ATR/BPN & PKP. Siapkan dokumen, gunakan aplikasi Sentuh Tanahku, dan ikuti pendampingannya!

Arsy Hermansyah Jadi Delegasi Sidang PBB di GM MUN Jakarta 2026, Ashanty Ungkap Pesan Haru

Arsy Hermansyah Jadi Delegasi Sidang PBB di GM MUN Jakarta 2026, Ashanty Ungkap Pesan Haru

Arsy Hermansyah menjadi delegasi di simulasi sidang PBB GM MUN 2026. Aksi putri Ashanty berpidato bahasa Inggris buat sang Bunda haru.

Di Tengah Sorotan PBB, Indonesia Ungkap Fakta Papua dan Rangkul Kepulauan Solomon lewat Kerja Sama

Di Tengah Sorotan PBB, Indonesia Ungkap Fakta Papua dan Rangkul Kepulauan Solomon lewat Kerja Sama

Indonesia tepis tudingan HAM Papua di PBB, tegaskan perlindungan warga sipil, dan pererat kerja sama bilateral dengan Kepulauan Solomon.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer