KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Industri pariwisata Kalimantan Timur menghadapi tekanan cukup berat memasuki paruh kedua 2026. Selain daya beli masyarakat yang melemah, tingginya harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor utama yang menahan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).
Kondisi pasar wisata domestik hingga menjelang akhir Agustus kata Joko Purwanto, selaku Owner Trans Borneo Adventure Tours & Travel masih jauh dari harapan. Menurutnya, kombinasi antara kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan mahalnya biaya penerbangan membuat masyarakat semakin selektif dalam mengalokasikan anggaran untuk perjalanan wisata.
“Sekarang ekonomi juga sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi harga tiket, akhirnya banyak menurun, ya, pariwisata khususnya yang domestik ini,” ucap Joko.
Ia menyebut tekanan tersebut terlihat jelas dari jumlah rombongan wisatawan domestik yang masuk melalui layanan biro perjalanan. Bahkan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penurunannya diperkirakan telah mencapai lebih dari 50 persen. “Drop, sangat drop. Mungkin lebih dari 50 persen wisata nusantaranya,” kata Joko.
Baca Juga: BGN Tambah Dapur Makan Bergizi Gratis 2026 Tanpa Tambah Anggaran
Menurutnya, persoalan tiket pesawat menjadi semakin terasa ketika calon wisatawan sudah menentukan tujuan dan hendak melakukan pemesanan. Tidak sedikit rencana perjalanan yang akhirnya dibatalkan atau dialihkan setelah calon wisatawan mengetahui besarnya biaya penerbangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri pariwisata memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan daya beli masyarakat dan konektivitas transportasi.
Ketika ongkos perjalanan meningkat, sektor pariwisata ikut terkena dampaknya karena perjalanan wisata pada dasarnya merupakan pengeluaran yang relatif mudah ditunda ketika rumah tangga melakukan efisiensi.
Tekanan juga dirasakan dari segmen perjalanan rombongan pemerintahan. Joko mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran ikut memengaruhi permintaan perjalanan yang selama ini menjadi salah satu pasar bagi pelaku biro perjalanan.
Baca Juga: Ganti Pawai Pembangunan, Jalan Sehat Samarinda Siapkan Doorprize Umrah hingga Motor
“Di samping itu juga tamu-tamu pemerintahan, karena dengan adanya efisiensi anggaran ini kan juga pengaruh, sangat pengaruh,” ujarnya.
Meski demikian, tidak seluruh pasar mengalami pelemahan. Segmen perjalanan yang berkaitan dengan kebutuhan bisnis masih relatif berjalan. Perjalanan yang dilakukan karena kepentingan bisnis dinilai memiliki karakter berbeda karena tidak sepenuhnya dapat ditunda meskipun kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan.
“Kecuali yang datang ke Kalimantan ini orang yang bisnis, itu masih jalan. Tapi kalau untuk urusan wisata sama rombongan-rombongan itu sangat minim sekali,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat pelaku usaha perjalanan perlu mengubah strategi pasar. Ketergantungan terhadap wisatawan domestik menjadi semakin berisiko ketika biaya penerbangan tinggi dan daya beli masyarakat melemah.
Di sisi lain, sejumlah agenda nasional yang akan digelar di Balikpapan pada September dinilai tetap memberikan efek ekonomi, terutama bagi sektor hotel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, dampaknya terhadap biro perjalanan belum tentu sebesar sektor akomodasi.
Joko menilai event tetap penting karena setiap kedatangan orang dari luar daerah pada akhirnya menciptakan perputaran ekonomi. Hanya saja, karakter setiap event menentukan seberapa besar manfaat yang diterima masing-masing sektor.
Baca Juga: Kuota Pertalite Melimpah Kenapa Antrean Mengular? DPRD Bontang Semprot Distribusi Pertamina
“Event itu bagus untuk menggerakkan perekonomian dan pariwisata. Itu tidak memandang bentuknya apa, mau olahraga, mau bisnis, itu namanya pariwisata,” tuturnya.
Menurut dia, event olahraga dengan peserta individual misalnya, cenderung membuat peserta sudah mengatur sendiri transportasi maupun layanan penjemputan. Karena itu, manfaat langsung kepada biro perjalanan bisa lebih kecil dibandingkan kegiatan yang membawa rombongan dalam jumlah besar.
Meski demikian, sektor UMKM tetap berpotensi menikmati limpahan aktivitas ekonomi dari meningkatnya jumlah orang yang datang. Pengunjung membutuhkan makanan, minuman, oleh-oleh, transportasi lokal, hingga berbagai kebutuhan selama berada di daerah tujuan.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya memperkuat ekosistem pariwisata daerah. Tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memastikan konektivitas, harga transportasi, akomodasi, destinasi, hingga pelaku UMKM mampu menangkap belanja wisatawan.
Baca Juga: Berbahaya Bagi Pengunjung! DPRD Paser Temukan Kabel Listrik Semrawut di Hutan Kota
Bagi pelaku biro perjalanan, pemulihan pasar domestik akan sangat bergantung pada membaiknya daya beli sekaligus keterjangkauan biaya perjalanan. "Selama harga tiket masih tinggi, wisatawan domestik diperkirakan akan tetap berhitung lebih ketat sebelum memutuskan bepergian," ungkapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo