Kuota Pertalite Melimpah Kenapa Antrean Mengular? DPRD Bontang Semprot Distribusi Pertamina

KALTIMPOST.ID- Polemik antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Pertalite di sejumlah SPBU Kota Bontang terus berlangsung hingga saat ini. DPRD Bontang menilai persoalan tersebut bukan semata-mata disebabkan tingginya konsumsi masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan pola distribusi dan pasokan BBM yang belum optimal.
Persoalan itu mengemuka dalam rapat pembahasan antrean BBM bersama pemerintah di ruang DPMPTSP Bontang, Jumat (28/8/2026). DPRD mempertanyakan mekanisme penyaluran Pertalite ke SPBU, termasuk jumlah pasokan yang diterima dan waktu kedatangan BBM.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang Winardi mengatakan, setiap SPBU disebut telah melakukan deposit pemesanan BBM sekitar 16 kiloliter (KL). Namun, jumlah yang diterima tidak selalu sesuai dengan pemesanan.
Baca Juga: DPRD Bontang Pertanyakan Pasokan Pertalite: Pesan 16 Kiloliter yang Datang Hanya 8 Kiloliter
“Mentang-mentang Pertamina yang punya jadi seenak-enaknya mengatur. Benahi itu distribusinya,” kata Winardi. Selain jumlah pasokan, persoalan waktu pengiriman juga menjadi sorotan. BBM yang seharusnya tiba sekitar pukul 08.00 Wita, disebut baru diterima SPBU sekitar pukul 16.00 Wita. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh langsung terhadap ketersediaan Pertalite dan panjangnya antrean kendaraan.
Data distribusi yang dibahas menunjukkan pola pasokan berbeda di sejumlah SPBU. Di SPBU Kopkar Kilometer 6, misalnya, Pertalite disalurkan sekitar 16 KL dan disebut dapat datang satu mobil setiap hari. Sementara untuk Pertamax, polanya di hari pertama 16 Kl, hari kedua 16 KL, dan di hari ketiga 8 KL.
Sementara tangki yang dimiliki SPBU ini untuk Pertalite tembus 60 KL dan pertamax 30 KL. Sepekan belakangan ini distribusi pertalite di SPBU ini mendapat tambahan imbas sanksi yang menimpa SPBU Tanjung Laut. Menjadi 24 KL tiap harinya.
SPBU Akawy juga menerima pasokan Pertalite dengan volume dengan skema selang-seling. Antara 8 KL dan 16 KL. Untuk Pertamax, pasokannya tercatat sekitar 8 KL dengan jeda satu hari tanpa pengiriman. Kapasitas tangki yang dimiliki SPBU ini untuk seluruh produk masing-masing 22 KL.
Sementara itu, SPBU Kilometer 3 mendapatkan Pertalite sekitar 8 KL setiap hari. Untuk Pertamax, pengiriman berada di kisaran 8 KL dua hari sekali. Adapun Solar dikirim dengan volume yang tidak tetap, antara 8 KL hingga 16 KL. Kapasitas tangki disebut sekitar 33 KL untuk pertalite. Sedangkan untuk Solar, kapasitasnya sekitar 32 KL, dengan pengiriman yang dapat dilakukan dalam volume 8 KL atau 16 KL.
Ketua Komisi B DPRD Bontang Rustam mempertanyakan mengapa kapasitas penyimpanan yang tersedia belum diimbangi dengan distribusi yang lebih optimal. Menurutnya, jika stok dan kapasitas penyimpanan memungkinkan, pasokan seharusnya dapat diatur lebih baik sehingga masyarakat tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.
“Ini tiap SPBU bisa menampung semua, kenapa harus ditahan? Apa alasannya,” tanya Rustam. Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Bontang disebut masih memiliki sisa kuota Pertalite. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pembahasan, terdapat sekitar 2.475 KL sisa kuota dari 2025. Sementara berdasarkan data semester I, sisa kuota Pertalite juga tercatat sekitar 12.656 KL.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




