Kisah Widodo dan Ikhtiar BI Balikpapan Hidupkan Mesin Ekonomi Umat, Jaga Denyut Kemandirian Pangan

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:56 WIB
KEMANDIRIAN: Widodo menjual hasil panennya di Pasar Murah yang berlangsung di Dome Balikpapan selama tiga hari, 11-13 September. ULIL/KP
KEMANDIRIAN: Widodo menjual hasil panennya di Pasar Murah yang berlangsung di Dome Balikpapan selama tiga hari, 11-13 September. ULIL/KP

KALTIMPOST.ID - Di saat sebagian besar warga Balikpapan masih terlelap dalam dinginnya subuh, Widodo sudah bergelut dengan tanah podsolik merah kuning di kawasan Teritip, Balikpapan Timur. Usianya beranjak senja. Kini sudah 64 tahun, namun dengan telaten merawat barisan pohon pepaya madu dan aneka varietas pisang yang tumbuh subur, tanpa sentuhan pupuk kimia sintetis.

Widodo bukan sosok baru dalam dunia pertanian lokal. Mantan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Balikpapan ini telah membaktikan hidupnya selama lebih dari tiga dekade untuk mengedukasi diri dan lingkungan sekitarnya tentang pentingnya budi daya ramah lingkungan.

Kelemahan mendasar petani tradisional, menurutnya, kerap bertumpu pada ketergantungan membeli pupuk dan pestisida pabrikan. Pola tersebut perlahan ia dobrak dengan memanfaatkan kotoran sapi dari peternak sekitar yang menumpang di lahannya.

Baca Juga: Kualitas Udara Biduk-Biduk Memburuk Akibat Karhutla, Ribuan Warga Berau Terserang ISPA

Di titik ini, kebun Widodo menjadi gambaran kecil mengenai gagasan ekonomi yang lebih besar, yakni bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap limbah dapat diubah menjadi sumber daya. Tanah pun dijaga agar tidak kehilangan kesuburannya.

Menurut Widodo, penggunaan bahan organik membantu menjaga kondisi tanah dan mendukung berkembangnya mikroorganisme. "Kelemahan petani itu serbacepat beli, pupuk beli, pestisida beli. Tanah kita podsolik merah kuning, harus pakai kompos agar gembur dan mikroorganisme berkembang," jelasnya dengan sorot mata yang teduh.

Sistem pertanian yang dibangunnya membuat biaya produksi lebih terkendali karena sebagian kebutuhan dapat dibuat sendiri. Widodo menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi kerap dimulai dari sesuatu yang sederhana, kemampuan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar.

Baca Juga: Nusron Wahid Tak Muncul saat KPK Menggeledah Kementerian ATR/BPN

MENEMBUS PASAR KOTA DAN TANTANGAN HAMA

Pertanian organik, baginya, juga bukan semata persoalan lingkungan. Ada dimensi ekonomi yang ikut tumbuh. Untuk pepaya madu, misalnya, masa dari penanaman hingga panen sekitar sembilan bulan. Dalam kondisi tanaman tertentu, hasil panennya dapat mencapai sekitar 100 kilogram per minggu.

Dari kebun seluas 1 hektare, ada belasan tanaman produktif. Hasil panen tersebut belum termasuk beragam varietas pisang unggul seperti pisang susu, cavendish, mauli, hingga kepok tanjung tanpa jantung. Sebagian hasil yang rutin dipasok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota ini. Ada pula durian, lengkeng, rambutan, alpukat, jambu hingga kristal yang turut ditanam.

"Saya bersyukur tinggal di Balikpapan ini. Kalau petani hortikultura, buah-buahan dan sayuran itu sangat menjanjikan," katanya. Sekilo pepaya madu ia jual dengan harga Rp 12 ribu, Rp 20 ribu untuk per sisir pisang, sedangkan sayuran seperti kangkung dihargai Rp 5 per ikat.

Setiap akhir pekan, ia meluncur ke pusat keramaian warga di Taman Bekapai maupun Taman Tiga Generasi. Hasil buminya yang segar dan alami diserbu para pelanggan hanya dalam tempo beberapa jam.

"Sabtu dan Minggu itu nongkrong jualan di Taman Bekapai. Mulai jam enam pagi warga sudah berduyun-duyun membeli, jam setengah sembilan sudah habis," tutur Widodo seraya tersenyum.

Menariknya, meski usianya telah melewati kepala enam, Widodo tidak gaptek atau gagap teknologi. Ia malah dengan cekatan melayani pembeli yang membayar nontunai menggunakan kode QRIS dari ponsel pintarnya.

"Tringg", jemarinya cekatan memeriksa notifikasi pembayaran kala pengunjung datang ke standnya. Itulah yang terlihat dalam Pasar Murah yang berlangsung di Dome Balikpapan selama tiga hari, 11-13 September. Ada puluhan UMKM termasuk Widodo yang menjajakan berbagai buah dan sayuran. Akhir pekan jelang tengah hari itu pun lapaknya telah kosong. Ludes diborong pengunjung.

Baca Juga: Bukannya Turun Malah Naik! Harga iPhone 15 sampai 17 Mendadak Meroket usai Seminggu iPhone 18 Rilis

"Tidak ada kesulitan pakai QRIS, prosedurnya justru memperlancar penjualan kami di mana-mana," ucap bapak tiga anak tersebut. Dirinya membuktikan, bahwa petani tradisional pun mampu beradaptasi dengan ekosistem ekonomi digital perkotaan.

TRANSFORMASI WAKAF PRODUKTIF PENOPANG KETAHANAN

Potret kegigihan di Teritip mencerminkan betapa besarnya potensi sektor hulu jika dikelola secara terpadu dan berkelanjutan. Gagasan membangun ketahanan pangan serupa didorong secara masif oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan melalui instrumen wakaf produktif.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi menegaskan, ekosistem ekonomi syariah harus dibangun dari hulu ke hilir. Paradigma wakaf yang selama ini identik dengan aset pasif seperti tanah makam atau bangunan masjid mulai dialihkan ke sektor riil yang menghasilkan perputaran ekonomi.

Baca Juga: Menteri Keuangan Berganti, Bagaimana Nasib Tambahan TKD Rp 90 Triliun dan Jatah Kaltim?

"Syariah adalah mesin ekonomi baru, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga dunia. Kita harus bangun ekosistem dari hulu sampai hilir, mulai dari makanan halal hingga wakaf produktif," tegas Robi.

Melalui platform digital Satu Wakaf, masyarakat kini dapat berpartisipasi menyalurkan donasi mulai dari nominal Rp 10 ribu secara transparan. Dana yang terkumpul tidak dibiarkan mengendap, melainkan diinvestasikan ke sektor produktif seperti peternakan ayam petelur di lingkungan pesantren.

Salah satu percontohan nyata berjalan di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Balikpapan serta Pesantren Trubus Iman di Paser. Lahan pesantren yang mulanya tidur dioptimalkan menjadi sentra produksi pangan yang mampu menopang kebutuhan santri sekaligus menghasilkan pendapatan mandiri.

"Kalau mereka punya lahan yang tidak terpakai, itu bisa kita manfaatkan, baik peternakan, perkebunan maupun pertanian. Mereka dilatih sehingga bisa menjadi pelaku ekonomi yang tangguh," beber Robi dengan penuh semangat.

MEMBANGUN LEGASI TANPA KETERGANTUNGAN

Bagi Robi, tolak ukur keberhasilan program pemberdayaan bukan dinilai dari besarnya seremoni peresmian proyek. Keberhasilan sejati teruji saat sistem yang dibangun tetap berputar mandiri meski pihak pendamping atau otoritas terkait sudah berganti.

Baca Juga: Islamic Center hingga Plaza Gelap! Balikpapan Utara dan Selatan Mati Listrik sampai Jam 24.00

"Saya ingin memastikan bahwa apa yang sudah dilakukan BI masih berkelanjutan ke depan. Bantuan harus meninggalkan kemampuan, bukan menciptakan ketergantungan," lugas Robi.

Selain pendampingan teknis dan manajerial, BI Balikpapan membidik penjajakan kerja sama bisnis (business matching) senilai Rp 2 miliar. Sinergi ini menghubungkan pelaku usaha syariah potensial dengan lembaga perbankan guna memperluas akses pembiayaan usaha.

Dengan begitu, pesantren tidak semata menjadi penerima bantuan. Lembaga pendidikan tersebut didorong memiliki aktivitas ekonomi yang dapat menopang kebutuhan operasionalnya. Bagi Robi, keberlanjutan berarti meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan.

Karena itu, model yang sudah berjalan mulai diarahkan untuk direplikasi ke pesantren lain. Sejumlah pesantren dikumpulkan dan dilatih agar dapat memahami pengelolaan usaha. "Ya, kita replikasi sehingga akan nambah banyak lagi pesantren atau masyarakat yang bisa belajar," harapnya.

Baca Juga: Sidang Korupsi JMB Ungkap Riwayat HPL 01 Separi, Berawal dari Lahan Transmigrasi 19798

Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ekonomi syariah tidak berdiri sendiri. Di lapangan, ia membutuhkan pertemuan banyak institusi. BI menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Kementerian Agama, pemerintah daerah dan lembaga-lembaga keislaman untuk membangun ekosistem yang mencakup penghimpunan dana, tata kelola, pemilihan proyek hingga keberlanjutan usaha.

Di sisi lain, Kementerian Agama memiliki peran penting dalam memastikan kegiatan ekonomi masyarakat juga berjalan dalam koridor halal. Langkah hilirisasi tersebut disempurnakan dengan jaminan rantai pasok halal yang dikawal Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan.

Pasokan produk olahan maupun pangan hewani dipastikan memenuhi standar kelayakan konsumsi secara ketat sejak dari hulu ke hilir. Karena itu, pentingnya sinergi dengan BI, terutama dalam penguatan kualitas usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kepala Kemenag Balikpapan Masrivani menjelaskan, ketersediaan bahan baku halal di Balikpapan telah didukung oleh operasional rumah potong unggas resmi yang andal. Salah satu fungsi Kementerian Agama yang berkaitan langsung dengan sektor tersebut ialah pengawasan dan edukasi halal melalui Satuan Tugas Halal, dalam mendukung Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Pihaknya bersama BPJPH terus mempercepat pendampingan dan sertifikasi halal bagi para pelaku UMKM lokal. "Tugas kita sebagai satgas adalah melakukan pengawasan dan edukasi yang masif agar seluruh produk makanan minuman berdaya saing tinggi dan tuntas tersertifikasi," jelas Masrivani.

Baca Juga: Ramai Siswa Diliburkan tapi MBG Tetap Jalan, Diskominfo Kaltim Buka Suara

Menurut Masrivani, pendampingan diperlukan agar pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami proses untuk mendapatkan sertifikasi halal. Ia menyebut bahan yang berasal dari hewan menjadi salah satu area yang membutuhkan perhatian lebih dalam proses pemenuhan aspek halal.

Balikpapan sendiri telah memiliki sejumlah fasilitas rumah potong hewan yang dapat membantu menyediakan bahan baku sesuai kebutuhan halal bagi pelaku usaha. Namun, pekerjaan rumahnya belum selesai. Edukasi kepada pelaku UMKM dan masyarakat tetap diperlukan agar kesadaran mengenai sertifikasi halal semakin kuat.

Salah satu wujud kolaborasi Bank Indonesia dan Kemenag itu tersebut Zona KHAS (Kuliner Halal, Aman, dan Sehat) Taman Bekapai adalah pusat kuliner publik di Taman Bekapai yang diresmikan pada Juni 2025 untuk menjamin kehalalan dan kebersihan makanan. Yang menjadi bagian dari upaya mempertemukan masyarakat, pelaku usaha dan lembaga terkait dalam edukasi halal. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Pertanian Organik ekonomi syariah BI BALIKPAPAN UMKM Balikpapan kemandirian pangan