Usai 33 Tahun Mengabdi, Dokter Emil Justru Makin Aktif Berlari

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:46 WIB
PRODUKTIF: Emil Bachtiar Moerad memanfaatkan masa purna tugas dengan tetap produktif. Didukung kepastian manfaat hari tua, masa setelah pengabdian sebagai ASN tetap bisa dijalani dengan tenang dan penuh aktivitas.
PRODUKTIF: Emil Bachtiar Moerad memanfaatkan masa purna tugas dengan tetap produktif. Didukung kepastian manfaat hari tua, masa setelah pengabdian sebagai ASN tetap bisa dijalani dengan tenang dan penuh aktivitas.

KALTIMPOST.ID - Langkah kaki Emil tak berhenti meski masa pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) telah usai. Pagi diisi dengan berlari, sementara hari-harinya tetap produktif melalui praktik kedokteran. Di balik masa purnatugas yang tetap aktif, ada hak pensiun yang menjadi bagian dari perlindungan finansial melalui layanan TASPEN.

Pagi bagi Emil Bachtiar Moerad bukan waktu untuk berlama-lama menikmati kasur. Hampir setiap pagi, dokter spesialis pernapasan dan paru itu memilih mengenakan sepatu olahraga dan berlari.

Di tengah udara pagi, langkahnya menjadi bagian dari rutinitas yang terus dijaga sejak memasuki masa pensiun, 8 tahun lalu. Bukan sekadar mengisi waktu luang, olahraga menjadi caranya menjaga kesehatan agar tetap produktif di usia senja.

Bagi Emil, pensiun bukan berarti berhenti beraktivitas. Justru setelah tak lagi disibukkan dengan tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN), ia memiliki keleluasaan untuk mengatur waktu. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menekuni olahraga yang sebelumnya bukan menjadi bagian rutin dari kesehariannya.

Baca Juga: Anggaran Turun, DPUPR-Pera Kaltim Prioritaskan Perbaikan 120 Km Jalan Rusak di Wilayah Utara

RITME BARU

Ketertarikannya pada lari bermula pada 2019, setahun setelah pensiun. Saat itu, ia merasa waktu luang setelah pensiun perlu diisi dengan kegiatan yang membuat tubuh tetap bergerak. Emil sempat mencoba berjalan kaki dan bersepeda sebelum akhirnya menemukan olahraga lari yang dirasa paling cocok.

Dari aktivitas sederhana tersebut, ia kemudian mulai mengikuti sejumlah ajang lari. Salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika menuntaskan half marathon di Bromo Marathon dengan waktu sekitar 4,5 jam pada 2019. Ia juga pernah mengikuti berbagai perlombaan di sejumlah kota, seperti Magelang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, hingga Bali.

“Yang pertama merasa free,” kata Emil saat menceritakan perasaannya setelah pensiun, senyumnya mengembang. Kebebasan waktu itu tidak membuatnya memilih berhenti dari dunia kedokteran. Emil tetap menjalani praktik sebagai dokter spesialis pada hari kerja, Senin hingga Jumat. Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari kesehariannya sekaligus menjaga hubungan dengan pasien dan lingkungan profesi yang telah lama digelutinya.

Baca Juga: Kaltim Juara Umum MTQ Internasional di Sarawak Malaysia, Borong Gelar Juara Hafazan dan Tilawah

“Saya sudah ngomong dalam diri, saya harus tetap praktik,” ujar pria kelahiran 1953 tersebut. Baginya, praktik bukan hanya soal memperoleh penghasilan. Ada interaksi dengan pasien dan sesama tenaga medis yang membuat hari-harinya tetap bermakna. “Karena dengan praktik bukan hanya rezeki saja yang masuk, tapi bisa komunikasi sama orang,” tuturnya.

TETAP MENGABDI

Selain praktik, Emil masih terlibat dalam kegiatan profesional kedokteran, termasuk di Komite Internship Dokter Indonesia. Ia ikut mendukung pembekalan bagi dokter-dokter yang baru menyelesaikan pendidikan dan akan menjalani program internship. Dengan aktivitas tersebut, masa pensiun tidak membuat pengabdiannya di bidang kesehatan terputus.

Namun, menjalani masa purnatugas secara aktif juga membutuhkan kesiapan dari sisi keuangan. Emil mengaku penghasilan dari praktik masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masih ada si bungsu yang harus dibiayai kuliahnya. Oleh sebab itu, manfaat pensiun yang diterimanya tidak menjadi sumber utama untuk membiayai pengeluaran rutin, melainkan disimpan sebagai tabungan.

“Sehari-hari saya masih bisa dari sini. Jadi uang pensiun tadi memang tak kumpulin, buat tabungan, dana darurat. Pernah tak ambil buat beli sesuatu waktu itu,” ungkapnya saat ditemui di Poli Paru, RS Dirgahayu Samarinda, Senin (26/10).

Pengalaman Emil memperlihatkan bahwa manfaat pensiun menjadi salah satu penopang keuangan setelah seseorang tidak lagi bekerja sebagai ASN. PT TASPEN (Persero) mengelola empat program utama bagi ASN, yakni Tabungan Hari Tua (THT), Program Pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM).

Baca Juga: Bonus Rp3 Miliar di Tangan, Ini Rencana Mulia Nurisa Dian

BEKAL MASA DEPAN

Branch Manager PT TASPEN (Persero) Samarinda Muhammad Yusuf Rahardhianto mengatakan, salah satu layanan yang paling rutin dimanfaatkan peserta adalah pembayaran manfaat pensiun bulanan bagi ASN yang telah memasuki masa purnabakti.

“Dalam pelaksanaannya, kami memastikan pembayaran manfaat pensiun dilakukan berdasarkan prinsip 5T, yaitu Tepat Orang, Tepat Waktu, Tepat Jumlah, Tepat Tempat dan Tepat Administrasi,” jelas Yusuf, (27/10).

Prinsip tersebut menjadi pedoman dalam memastikan manfaat diterima oleh peserta yang berhak, sesuai jumlah dan waktu yang ditentukan, serta melalui proses administrasi yang benar. Dengan demikian, ketepatan pelayanan tidak hanya berkaitan dengan pencairan dana, tetapi juga memastikan hak diterima oleh penerima yang semestinya.

Baca Juga: MA Kabulkan Kasasi, Surat Penyetaraan Pendidikan Wapres Gibran Dinyatakan Tidak Sah

Untuk memperluas akses pelayanan, TASPEN menyediakan layanan secara langsung melalui kantor cabang maupun kanal digital. Peserta dapat mengakses informasi dan mengajukan klaim secara daring melalui tos.taspen.co.id.

TASPEN juga bekerja sama dengan mitra bayar, baik perbankan maupun PT Pos Indonesia, untuk mendukung penyaluran manfaat dan layanan terkait, terutama bagi peserta yang berdomisili jauh dari kantor cabang. “Kami berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, fleksibel, dan menjangkau peserta di berbagai wilayah,” ungkap Yusuf.

Meski layanan digital telah tersedia, TASPEN tetap memberikan alternatif bagi peserta yang membutuhkan pelayanan melalui mitra bayar. Menurut Yusuf, kanal digital menjadi pelengkap, bukan pengganti seluruh pelayanan tatap muka. Pendampingan juga dapat melibatkan keluarga atau kerabat agar peserta yang mengalami kesulitan menggunakan teknologi tetap bisa mengakses layanan.

Bagi Emil, pengalaman mengurus hak pensiun berlangsung tanpa kendala berarti. Ia menilai proses yang dijalani cukup mudah dan cepat. “Aman saja. Gampang. Cepat sekali, tidak ada kendala. Datang, kasih berkas, kelar,” katanya.

Kini, hari-hari Emil diisi dengan kombinasi aktivitas yang membuatnya tetap bergerak. Masa purnatugas, bagi Emil, bukan garis akhir dari produktivitas. Ia justru menemukan cara baru untuk menjaga kesehatan, tetap berkontribusi, sekaligus menyiapkan bekal keuangan untuk masa mendatang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Inspirasi Pensiun Emil Bachtiar Moerad gaya hidup sehat taspen pensiun ASN