KALTIMPOST.ID - Erling Haaland tak pernah kehilangan naluri pembunuhnya di depan gawang. Kali ini, insting itu berpeluang kembali menyakiti masa lalunya sendiri.
Kamis (6/11) dini hari nanti, Manchester City akan menjamu Borussia Dortmund di Stadion Etihad. Sebuah laga yang bukan sekadar adu taktik, melainkan reuni emosional antara Haaland dan klub yang membesarkannya di level Eropa.
Bagi publik Dortmund, Haaland bukan sosok asing. Ia pernah menjadi mesin gol BVB selama tiga musim (2019–2022) sebelum hijrah ke City. Namun, reuni kali ini jelas tak akan manis bagi tim asal Jerman tersebut.
Bomber asal Norwegia itu tengah dalam performa terbaiknya. Dari 13 penampilan musim ini, Haaland sudah menorehkan 17 gol, termasuk 4 gol di tiga laga fase League Liga Champions. Catatan yang membuatnya kembali ditakuti di benua biru.
Dalam pertemuan terakhir kedua tim di Liga Champions 2022–2023, Haaland menjadi penentu kemenangan City atas Dortmund dengan skor tipis 2–1 di Etihad. Kini, di tempat yang sama, sang predator siap mengulang cerita yang sama (siaran langsung SCTV/beIN Sports 3/beIN Sports Connect/Vidio, pukul 04.00 Wita).
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, tak segan menyamakan ketajaman Haaland dengan legenda seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Menurutnya, City kini sangat bergantung pada insting tajam sang striker.
“Dia benar-benar membumi dan hidup untuk mencetak gol. Tanpa Haaland, jujur saja, akan sulit bagi kami bersaing,” ujar Pep dikutip dari TBR Football.
Terbaru, Haaland kembali jadi bintang dengan mencetak dua gol dalam kemenangan City 3–1 atas AFC Bournemouth pada lanjutan Premier League, 3 November lalu.
Meski begitu, City tak boleh lengah. Dalam klasemen sementara fase League, Dortmund justru berada satu tingkat di atas mereka—peringkat keenam dibanding City di posisi ketujuh. Menariknya, pasukan Niko Kovac tampil lebih produktif dengan 12 gol dari tiga laga, atau rata-rata empat gol per pertandingan.
Namun, catatan itu belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan mereka. Di Bundesliga, BVB justru tumpul dengan hanya 15 gol dari sembilan laga—terendah di antara delapan besar klasemen.
“Kami beruntung menghadapi tim-tim di Eropa yang belum begitu mengenal permainan kami. Di Bundesliga, semua sudah paham cara kami bermain,” ujarnya kepada Ruhr Nachrichten.
Kini, pertanyaannya sederhana namun menggigit: apakah Dortmund akan kembali jadi korban kebuasan sang mantan di Etihad? Ataukah kali ini, mereka berhasil menaklukkan momok yang dulu mereka besarkan sendiri? (*)
Editor : Ery Supriyadi