Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Usai Tolak Nyanyikan Lagu Kebangsaan, 5 Pesepak Bola Putri Iran Diberi Suaka di Australia

Thomas Dwi Priyandoko • Selasa, 10 Maret 2026 | 07:04 WIB

TImnas sepak bola putri Iran. (Foto: The Sun)
TImnas sepak bola putri Iran. (Foto: The Sun)

KALTIMPOST.ID-Lima pemain tim nasional sepak bola putri Iran mendapat izin tinggal di Australia setelah mengajukan suaka karena khawatir mengalami persekusi jika kembali ke negara asalnya.

Keputusan ini diumumkan pemerintah Australia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengenai situasi para pemain tersebut.

Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke mengatakan lima pemain timnas putri Iran kini dipersilakan tetap tinggal di Australia dan dijamin keselamatannya. Pemerintah juga membuka kesempatan bagi anggota tim lainnya untuk mengajukan izin tinggal.

Para pemain Iran sebelumnya berada di Australia untuk mengikuti turnamen AFC Women's Asian Cup yang digelar di Gold Coast.

Situasi mereka menjadi sorotan setelah beberapa pemain menolak menyanyikan lagu kebangsaan Iran sebelum pertandingan melawan Korea Selatan. Sikap tersebut memicu kecaman dari media pemerintah Iran yang menyebut tindakan itu sebagai bentuk “penghinaan”.

Serikat pemain sepak bola dunia FIFPRO juga menyuarakan kekhawatiran terhadap keselamatan para pemain setelah mereka dilabeli sebagai “pengkhianat masa perang”.

Laporan media Iran menyebut lima pemain yang mengajukan suaka adalah Zahra Sarbali, Mona Hamoudi, Zahra Ghanbari, Fatemeh Pasandideh, dan Atefeh Ramazani-Zadeh.

Sementara itu sebagian pemain lain masih mempertimbangkan masa depan mereka. Beberapa di antaranya khawatir keselamatan keluarga di Iran jika memutuskan tetap tinggal di luar negeri.

Kasus ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.(*)

 

Editor : Thomas Priyandoko
#trump #Albanese #iran