KALTIMPOST.ID, BONTANG - Di balik panggung Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kota hingga provinsi, ada satu nama yang mencuri perhatian. Muhammad Raifandra Azzalfan.
Pelajar kelas XII SMA 1 Bontang itu berhasil menembus persaingan ketat hingga dinobatkan sebagai juara pertama tingkat provinsi. Langkahnya kini berlanjut ke tingkat nasional. Semuanya berawal dari kebiasaan sederhana di rumah.
Raifandra mengenal dunia olah vokal sejak masih kecil. Ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan musik. Di rumah, ia sering mendengar orang tua dan kakaknya bernyanyi. Dari kebiasaan itu, ketertarikannya muncul. “Saya suka nyanyi dari kecil,” kata Raifandra.
Namun keseriusannya baru muncul ketika ia duduk di bangku SMA. Masa SMP membuatnya tak banyak berkompetisi karena pandemi Covid-19 menghentikan berbagai lomba. “Mulai seriusnya di SMA,” bebernya.
Kesempatan yang lebih terbuka membuatnya ingin tampil lebih jauh. Menariknya, Raifandra bukan jebolan kursus vokal mana pun. Ia belajar secara mandiri. Referensinya dari YouTube, penyanyi favorit, dan saran guru seni musik di sekolah.
“Saya belajar sendiri. Biasanya tiru teknik dari penyanyi yang saya suka. Kalimat-kalimat pendek yang mencerminkan prosesnya yang natural,” ucap pelajar kelahiran 10 Agustus 2007 ini.
Menuju FLS3N, persiapan panjang ia jalani. Hampir setiap hari ia menyisihkan waktu untuk latihan. Termasuk melatih pernapasan, pemanasan vokal, hingga memperkuat artikulasi. “Latihannya rutin,” tutur dia.
Sebelum mewakili sekolah, Raifandra juga menjalani seleksi internal. SMA 1 Bontang menggelar lomba antarkelas sebagai tahap pemilihan peserta terbaik. Guru seni musik kemudian memilih perwakilan. “Saya terpilih mewakili sekolah,” terang pelajar yang berdomisili di Jalan Selat Lombok RT 5, Tanjung Laut ini.
Tantangan semakin terasa ketika membawakan lagu pilihan. Di tingkat kota dan provinsi, ia tampil dengan lagu “Manusia Kuat” milik Tulus. Menurutnya, lagu itu tidak mudah. Terutama pada bagian nada tinggi dan penghayatan. “Lagunya menantang. Penekanannya ada pada emosi dan kestabilan suara,” sebutnya.
Pelaksanaan lomba tingkat kota digelar secara online. Setiap peserta wajib mengunggah rekaman ke dalam drive panitia. Situasi ini justru menambah tekanan tersendiri.
Para peserta dari sekolah lain memiliki karakter vokal kuat dan teknik mumpuni. Beberapa bahkan mengikuti kursus, dan hal itu sempat membuatnya minder. Tapi ia tetap maju. Tanpa disangka, ia keluar sebagai juara pertama tingkat kota. “Enggak nyangka bisa juara,” ungkapnya.
Langkah berikutnya adalah tingkat provinsi. Lomba digelar di Balikpapan pada 6–8 Agustus lalu. Di tahap ini, seluruh peserta adalah juara dari kota masing-masing. Suara mereka kuat, tekniknya matang. “Kaget dengar suara mereka,” paparnya.
Namun ia kembali memantapkan diri, fokus pada latihan dan doaKeyakinannya membuahkan hasil. Ia kembali menjadi juara pertama tingkat Kalimantan Timur. Menuju nasional, tantangan semakin besar.
Peserta berasal dari seluruh provinsi, dan menurutnya, semuanya memiliki kualitas unggul. Pada ajang ini, ia membawakan dua lagu “Senandung Negeriku” untuk lagu wajib dan “Belang Hatta” untuk lagu daerah. “Semua pesaing kuat,” ujarnya singkat.
Kini, Raifandra membawa nama Kota Bontang di panggung tertinggi FLS3N. Targetnya tetap realistis yakni tampil maksimal dan memberikan yang terbaik.
Ia sudah membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, serta keberanian menghadapi rasa minder dapat membawa seseorang melampaui batasnya sendiri. Berdasarkan jadwal, perlombaan tingkat nasional akan dimulai Kamis (20/11/2025) di Jakarta. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo