KALTIMPOST.ID, BONTANG- Pengerjaan renovasi kantor kelurahan Tanjung Laut terus dikebut. Target penyelesaian proyek ini berakhir pada 12 Desember 2025. Pekerjaan kini memasuki tahap akhir. Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) memastikan progres masih dalam jalur penyelesaian.
Kabid Tata Ruang dan Bangunan Dinas PUPRK Robysai Manassa Mallisa mengatakan saat ini progres pengerjaan yakni 80,60 persen. Terdapat deviasi pekerjaan sejumlah 0,79 persen. “Deviasi itu muncul karena keterlambatan pengiriman material,” kata Robysai.
Ia menegaskan bahwa hambatan itu tidak mengganggu jadwal utama pekerjaan. Robysai mengungkapkan penyebab keterlambatan tersebut berasal dari pihak penyedia material. “Saya tidak tahu detail dari mana materialnya. Tapi memang ada keterlambatan pengiriman,” ucapnya.
Robysai memastikan bahwa kontrak proyek tetap berjalan sesuai kesepakatan awal. Sisa waktu yang ada dianggap masih berpotensi untuk dikejar. Mengingat saat ini sudah masuk tahap penyelesaian akhir. “Tinggal pengerjaan yang kecil seperti pengecatan dan lain sebagainya,” tutur dia.
Robysai menyebut bagian yang paling besar adalah pengerjaan ACP. Ia menilai pekerjaan di bagian interior sudah hampir selesai.
Sebelumnya Dinas PUPRK juga meminta kontraktor menambah tenaga kerja. Penambahan itu dilakukan agar percepatan di lapangan bisa dicapai. Ia menjelaskan tenaga kerja sebelumnya sekitar 24 orang. Kini sudah mencapai sekitar 30 orang.
Ia menegaskan ketepatan waktu tetap menjadi perhatian. Ia menyampaikan mekanisme denda tetap diberlakukan jika tidak selesai. Robysai berharap seluruh tahapan dapat rampung sesuai kontrak. Ia menyebut percepatan terus dilakukan. Ia optimistis tidak ada kendala besar menjelang deadline. “Mudah-mudahan selesai,” terangnya.
Pembangunan kantor Kelurahan Tanjung Laut ini dikucur Rp5,3 miliar melalui APBD Bontang. Tender dimenangkan oleh CV Ricas Gumilang. Kantor ini nantinya berlokasi di eks Kecamatan Bontang Selatan. Artinya kantor kelurahan tidak akan menempati bangunan lama di Jalan Jenderal Soedirman mengingat keterbatasan lahan di lokasi tersebut. (*)
Editor : Ismet Rifani