KALTIMPOST.ID-Banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kota Bontang pada pertengahan bulan lalu turut berdampak pada lahan pertanian warga. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang memastikan akan melakukan pendataan terhadap petani yang terdampak sebelum menyalurkan bantuan.
Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem, mengatakan langkah pertama yang dilakukan pihaknya adalah memastikan kondisi di lapangan melalui koordinasi dengan penyuluh pertanian dan kelompok tani. Pendataan menjadi dasar untuk menentukan bentuk bantuan yang tepat bagi petani.
“Pertama tentu kita data dulu kelompok tani yang terdampak, kemudian kita lihat kebutuhan mereka apa saja,” kata Aznem, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, banjir memang berpotensi merusak tanaman hortikultura milik petani, seperti bayam dan berbagai jenis sayuran lainnya yang banyak dibudidayakan di wilayah Bontang. Namun pemberian bantuan bibit tidak bisa dilakukan secara terburu-buru jika kondisi cuaca masih belum stabil.
Aznem menjelaskan, penyaluran bibit harus mempertimbangkan situasi di lapangan agar tidak sia-sia. Jika banjir masih berpotensi terjadi, maka bantuan penanaman baru dikhawatirkan kembali rusak.
“Kalau kita langsung kasih bibit sementara cuaca masih seperti ini, percuma saja. Baru ditanam, datang lagi banjirnya,” ucapnya.
Karena itu, komunikasi antara petugas lapangan dengan kelompok tani menjadi faktor penting dalam menentukan waktu penyaluran bantuan. Penyuluh pertanian biasanya akan turun langsung untuk melihat kondisi tanaman dan memberikan pendampingan kepada petani.
DKP3 memiliki dua skema bantuan yang bisa dilakukan. Pertama, memanfaatkan stok benih yang tersedia di dinas untuk dibagikan kepada petani yang terdampak. Stok tersebut biasanya berupa bibit sayuran yang siap ditanam.
Namun jika stok benih di dinas tidak mencukupi, DKP3 akan menggandeng perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR).
"Kita bisa komunikasikan dengan perusahaan melalui program CSR mereka,” tutur dia. Menurutnya, perusahaan di Bontang selama ini cukup responsif ketika diajak berkolaborasi dalam program ketahanan pangan, terutama yang menyasar petani, nelayan, maupun peternak.
Ia mencontohkan program Gerakan Menanam Cabai Rawit di pekarangan rumah tangga yang saat ini dijalankan DKP3. Meski tidak memiliki anggaran khusus dalam APBD murni, program tersebut tetap bisa berjalan berkat dukungan pihak perusahaan.
“Di anggaran kita memang tidak ada, tapi kita kolaborasi dengan perusahaan. Mereka antusias membantu,” terangnya. Bantuan yang diberikan melalui kolaborasi tersebut biasanya berupa bibit cabai, pupuk, hingga media tanam seperti kompos, top soil, dan polybag.
Skema serupa juga akan diterapkan untuk membantu petani yang lahannya terdampak banjir. Setelah data kelompok tani dan kebutuhan tanaman terkumpul, DKP3 akan berkomunikasi dengan perusahaan untuk mencari dukungan bantuan.
“Kalau sudah ada datanya, kita bisa bicarakan berapa kelompok tani yang terdampak dan apa saja kebutuhan mereka,” sebutnya. Ia menilai perusahaan di Bontang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu ketahanan pangan masyarakat. Terlebih program yang dijalankan bersifat berbasis warga dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Perusahaan di Bontang ini sangat konsen ketika bicara ketahanan pangan, apalagi yang berbasis masyarakat,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki