KALTIMPOST.ID, BONTANG - PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Samarinda dalam kondisi aman.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok Pertalite, Pertamax, maupun Bio Solar masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam beberapa hari ke depan.
Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut III Fuel Pertamina, Hermawan Bagus Prabowo, menjelaskan bahwa berdasarkan data per 12 Juni, ketahanan stok BBM di Fuel Terminal Samarinda masih berada pada level yang aman.
Untuk produk JBT atau BBM penugasan, stok yang tersedia mencapai sekitar 2.950 kiloliter. Jumlah tersebut setara dengan ketahanan pasokan sekitar 6,5 hari.
“Untuk stok saat ini di Fuel Terminal Samarinda, produk penugasan berada di angka kurang lebih 2.950 kiloliter dengan coverage sekitar 6,5 hari,” kata Hermawan Bagus Prabowo dalam rapat koordinasi bersama Pemkot Bontang, Jumat (12/6/2026), di Pendopo Rujab Wali Kota Bontang.
Sementara itu, untuk Pertamax, Pertamina mencatat ketersediaan stok sekitar 1.399 kiloliter dengan ketahanan pasokan mencapai 6,8 hari. Kondisi serupa juga terjadi pada Bio Solar yang memiliki stok mencapai sekitar 3.540 kiloliter.
Menurut Bagus, ketahanan stok Bio Solar bahkan mencapai sekitar 8,4 hari sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar bersubsidi tersebut.
“Bio Solar saat ini memiliki coverage yang cukup tinggi, sekitar 8,4 hari. Jadi secara umum stok BBM di Samarinda masih dalam kondisi aman,” ucapnya.
Meski demikian, Pertamina mengakui masih menemukan sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait antrean kendaraan di beberapa SPBU. Salah satu penyebabnya diduga berasal dari kendaraan yang melakukan modifikasi tangki sehingga mampu menampung BBM melebihi kapasitas standar.
Bagus meminta dukungan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi terkait untuk mengawasi praktik tersebut. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.
“Kami membutuhkan dukungan pemerintah daerah untuk mengawasi kendaraan yang menggunakan tangki modifikasi, baik roda dua maupun roda empat. Ini penting agar distribusi BBM berjalan sesuai aturan,” tutur dia.
Ia juga menyoroti perlunya penguatan implementasi aturan turunan dari Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Tahun 2022 yang mengatur penyaluran BBM bersubsidi. Dengan pengawasan yang lebih ketat, antrean panjang di SPBU diharapkan dapat diminimalkan.
Selain itu, Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan pengelola SPBU guna memastikan penyaluran BBM berjalan lancar. Pengawasan dilakukan tidak hanya oleh Pertamina, tetapi juga melibatkan berbagai pihak di lapangan.
Bagus turut mengajak masyarakat untuk berperan aktif melaporkan apabila menemukan indikasi pelanggaran, seperti pengisian berulang, penggunaan tangki modifikasi, maupun praktik yang berpotensi mengganggu distribusi BBM subsidi.
“Apabila masyarakat menemukan pelanggaran di lapangan, silakan dokumentasikan dan laporkan kepada kami. Informasi dari masyarakat sangat membantu dalam menjaga penyaluran BBM agar tetap tepat sasaran,” terangnya.
Pertamina memastikan akan terus menjaga pasokan BBM di Samarinda dan wilayah sekitarnya, termasuk Kota Bontang. Optimalisasi distribusi dilakukan agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah tingginya konsumsi bahan bakar. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo