Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Inflasi Bontang Tetap Terkendali, IPH Juni 2026 Naik 0,32 Persen Dipicu Bawang Merah

Adhiel kundhara • Rabu, 8 Juli 2026 | 13:32 WIB
FAKTOR UTAMA: Komoditas bawang merah menjadi salah satu penyebab kenaikan IPH yang berdampak pada inflasi di Kota Bontang. (ADIEL KUNDHARA/KP)
FAKTOR UTAMA: Komoditas bawang merah menjadi salah satu penyebab kenaikan IPH yang berdampak pada inflasi di Kota Bontang. (ADIEL KUNDHARA/KP)

KALTIMPOST.ID, BONTANG – Perkembangan inflasi di Kota Bontang pada Juni 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali. Meski terjadi kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month). Kenaikan tersebut dinilai tidak signifikan sehingga tidak mengganggu stabilitas harga kebutuhan masyarakat.

Data Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA) Sekretariat Kota Bontang menunjukkan, secara nasional inflasi bulanan (m-to-m) pada Juni 2026 tercatat 0,44 persen, sedangkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,34 persen. Sementara itu, inflasi Kalimantan Timur tercatat 0,70 persen secara bulanan dan 3,20 persen secara tahunan.

Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Sekretariat Kota Bontang, Moch Arif Rochman, mengatakan, kenaikan IPH sebesar 0,32 persen menunjukkan adanya peningkatan harga dibandingkan Mei 2026. Namun, angkanya masih tergolong rendah sehingga kondisi inflasi di Bontang tetap terjaga.

Baca Juga: 112 Kasus Narkoba Diungkap di Kutim, 131 Tersangka Diamankan dalam Enam Bulan

"Ya, naik dari bulan sebelumnya sebesar 0,32 persen. Namun kenaikannya tidak signifikan, sehingga inflasi masih terjaga," kata Arif saat dikonfirmasi, Selasa (8/7/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga pada Juni dipengaruhi oleh beberapa komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama inflasi. Berdasarkan data, bawang merah memberikan kontribusi terbesar terhadap IPH dengan persentase 0,4849 persen, disusul beras sebesar 0,4815 persen dan cabai merah sebesar 0,3471 persen.

Menurut Arif, meningkatnya harga ketiga komoditas tersebut dipicu mulai terbatasnya pasokan dari daerah penghasil maupun distributor. Kondisi itu menyebabkan harga di tingkat pasar mengalami penyesuaian, meski tidak sampai memicu lonjakan inflasi yang tinggi.

Baca Juga: BPS Jemput Bola ke Diskominfo Kubar, Sensus Ekonomi 2026 Makin Mudah bagi ASN

"Penyebab utamanya karena pasokan dari daerah penghasil dan distributor mulai terbatas. Tetapi secara umum kondisi masih terkendali dan tidak menimbulkan kenaikan inflasi yang signifikan," ucapnya.

Pemkot Bontang bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok.

Beberapa upaya yang dilakukan antara lain monitoring dan evaluasi harga sembako di pasar serta distributor, pengawasan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan Wartek-In, operasi pasar LPG 3 kilogram, hingga koordinasi intensif dengan Bulog, Pertamina, distributor, dan daerah pemasok guna mengamankan stok.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan program Gerakan Tanam Cabai Rawit Pekarangan Rumah Tangga (Gembira Pak RT) sebagai salah satu strategi menjaga pasokan komoditas cabai rawit pada tingkat rumah tangga.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bontang optimistis laju inflasi dapat tetap terkendali pada bulan-bulan berikutnya. Stabilitas harga dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (*)

Editor : Duito Susanto
#inflasi bontang #iph juni 2026 #kenaikan harga #gerakan pangan murah #bawang merah