Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Warga Bontang Kini Bisa Pantau Sebaran DBD per RT, Dinkes Siapkan Peta Digital

Adhiel kundhara • Jumat, 10 Juli 2026 | 09:24 WIB
Petugas melakukan fogging fokus di wilayah yang ditemukan kasus positif DBD guna menekan penyebaran nyamuk penular penyakit. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)
Petugas melakukan fogging fokus di wilayah yang ditemukan kasus positif DBD guna menekan penyebaran nyamuk penular penyakit. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG – Masyarakat Bontang kini dapat memantau penyebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) secara lebih mudah melalui situs digital yang disediakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang.

Platform bernama Begawai (Bersatu Cegah DBD dengan Inovasi Nyamuk Berwolbachia) tersebut menyajikan berbagai informasi terkait kasus DBD, mulai dari jumlah laporan, lokasi penyebaran, hingga perkembangan kasus secara berkala.

Penanggung Jawab DBD Dinkes Bontang, Siti Rahimah, mengatakan situs tersebut dirancang untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi terkait kondisi DBD di Kota Taman.

Baca Juga: Mbappe Jadi Man of the Match Perancis vs Maroko, Antar Les Bleus Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026

Menurut dia, lokasi kasus positif DBD telah dipetakan secara digital berdasarkan wilayah kelurahan hingga tingkat RT.

“Bahkan peta yang ada di situs bisa membaca lokasi berdasarkan RT. Ini merupakan bentuk inovasi dari kami,” ujar Siti Rahimah.

Selain memuat peta sebaran kasus, situs tersebut juga menampilkan data pasien berdasarkan kelompok usia serta perkembangan kasus dari minggu ke minggu.

Informasi itu diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat, tenaga kesehatan, hingga kalangan media dalam memantau situasi DBD di Bontang.

Berdasarkan data Juni 2026, terdapat lima kasus positif DBD yang tersebar di tiga kelurahan. Rinciannya, masing-masing dua kasus ditemukan di Kelurahan Loktuan dan Tanjung Laut, serta satu kasus di Kelurahan Berebas Tengah.

Meski jumlah kasus positif hanya lima, Dinkes mencatat terdapat 32 notifikasi dengue selama periode tersebut.

Baca Juga: Gelombang Efisiensi Tambang Terjang Kutai Barat, PAMA Tetap Jaga Nafkah Pekerja Lokal

“Dari lima kasus itu, tiga dialami anak usia 1 sampai 4 tahun. Kemudian satu kasus pada kelompok usia 5 sampai 14 tahun dan satu kasus pada kelompok usia 15 sampai 44 tahun,” jelasnya.

Menurut Siti Rahimah, jumlah kasus pada Juni tahun ini tergolong rendah dibandingkan periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, pada Juni 2020 tercatat 10 kasus DBD. Sementara angka tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada Juni 2021 dengan total 57 kasus.

“Kalau kasus terbanyak di Juni itu pada 2021 lalu dengan 57 kasus,” katanya.

Meski tren kasus menunjukkan penurunan, masyarakat diminta tidak lengah. Dinkes tetap mengimbau warga untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Warga juga dianjurkan menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air serta membersihkan wadah yang berpotensi menjadi sarang jentik, seperti vas bunga, tatakan dispenser, hingga drum penampungan air.

Dinkes menegaskan bahwa fogging atau pengasapan bukan solusi utama dalam pencegahan DBD. Sebab, metode tersebut hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak mampu menghilangkan jentik yang masih berkembang.

Karena itu, partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran DBD di Kota Bontang. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#DBD Bontang #Begawai #peta DBD #kasus dbd #Dinkes Bontang