Anak Usia 6 Tahun di Tanjung Laut Meninggal, Diskes Bontang Tegaskan Bukan karena DBD

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:51 WIB
KONFERENSI PERS: Kepala Diskes Bontang memberikan keterangan terkait anak usia 6 tahun di Tanjung Laut yang meninggal beberapa hari lalu. (ADIEL KUNDHARA/KP)
KONFERENSI PERS: Kepala Diskes Bontang memberikan keterangan terkait anak usia 6 tahun di Tanjung Laut yang meninggal beberapa hari lalu. (ADIEL KUNDHARA/KP)

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Kematian seorang anak berusia enam tahun yang sempat didiagnosis demam berdarah dengue (DBD) di Kelurahan Tanjung Laut, Bontang dipastikan tidak serta-merta dikategorikan sebagai kematian akibat DBD.

Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang menyebut pasien memiliki penyakit penyerta yang kemudian mengalami komplikasi hingga menyebabkan kondisi memburuk.

Baca Juga: PLN Bontang Kembali Padamkan Listrik, Puluhan Kawasan Terdampak Siang Ini

Kepala Diskes Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, kesimpulan tersebut mengacu pada laporan medis dan kronologi perawatan yang diterima pihaknya dari RSUD Taman Husada Bontang.

Menurutnya, pasien sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit swasta selama kurang lebih lima hari. Setelah itu, pasien dirujuk ke RSUD Taman Husada untuk memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai kondisi klinis.

“Berdasarkan laporan medis yang kami terima, kondisi pasien mengalami komplikasi yang berkaitan dengan penyakit penyerta,” kata Toetoek saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga: Pemkab Kutai Barat Ikuti Pidato Kenegaraan, Bupati Tegaskan Dukung Kebijakan Nasional

Pasien memang didiagnosis DBD pada awal penanganan. Namun, dalam perjalanan perawatan, tenaga medis menemukan adanya penyakit penyerta yang turut memengaruhi kondisi pasien.

Karena itu, Diskes Bontang tidak memasukkan kematian tersebut sebagai kematian murni akibat DBD. Toetoek menegaskan, penyebab kematian harus merujuk pada diagnosis dan kronologi medis yang menjadi kewenangan tenaga medis serta bagian dari rekam medis pasien.

“Bukan karena DBD-nya. Berdasarkan kronologis yang kami terima, kematiannya disebabkan komplikasi penyakit penyerta,” ucapnya.

Baca Juga: Belasan Tahun Menanti Pelunasan, Ahli Waris Tagih Penyelesaian Lahan Pelabuhan Kudungga

Toetoek juga menyebut kondisi trombosit pasien saat berada di RSUD masih tergolong baik. Hal tersebut menjadi salah satu bagian dari pertimbangan medis dalam melihat kondisi pasien secara keseluruhan.

Dengan demikian, Dinkes meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan setiap kematian pasien yang memiliki diagnosis DBD sebagai kematian akibat DBD. Apalagi, pasien dapat memiliki penyakit penyerta yang berpengaruh terhadap perjalanan penyakit dan kondisi klinis.

Diskes Bontang tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan kasus DBD. Hingga Agustus 2026, tercatat 131 kasus DBD di Kota Bontang. Dari jumlah tersebut, Dinkes menyebut baru terdapat satu kematian yang dikategorikan murni akibat DBD tahun ini.

Baca Juga: Kerja Bakti Teras Samarinda Tahap II, 275 Personel Turun Bersih-Bersih

Sementara pasien terbaru tidak dimasukkan dalam kategori tersebut karena terdapat komplikasi penyakit penyerta.

“Kami tidak bisa menyampaikan bahwa yang bersangkutan meninggal karena DBD-nya. Diagnosa dan penyebab kematian tetap mengacu pada kronologis medis,” tutur dia.

Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap DBD, Dinkes tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menjaga lingkungan dan segera memeriksakan diri ketika mengalami demam menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Toetoek juga meminta masyarakat menghormati privasi pasien dan keluarga. Informasi medis yang bersifat pribadi tidak dapat disampaikan secara terbuka karena merupakan bagian dari rekam medis.

Diskes bersama fasilitas pelayanan kesehatan, lanjut dia, akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan DBD di Bontang. Upaya pengendalian juga dilakukan melalui berbagai program, termasuk PSN 3M Plus dan program tambahan pengendalian vektor.

“Kami terus melakukan pemantauan dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar yang berlaku,” terangnya.

Bahkan, Diskes Bontang telah melakukan pengasapan di tempat sekolah pasien meninggal dunia tersebut. Tujuannya agar tidak terjadi penyebaran kasus akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut. (*)

Editor : Sukri Sikki
Diskes Bontang diagnosis Toetoek Pribadi Ekowati Tanjung Laut dbd