Angkat Kisah Pembatik Lokal, Pelajar SMKN 2 Bontang Juara 1 FLS3N Nasional

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:40 WIB
BERHASIL: Pelajar SMK 2 Bontang mampu menjadi jawara dalam ajang FLS3N tingkat nasional kategori film pendek. ADIEL KUNDHARA/KP
BERHASIL: Pelajar SMK 2 Bontang mampu menjadi jawara dalam ajang FLS3N tingkat nasional kategori film pendek. ADIEL KUNDHARA/KP

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Tak pernah membayangkan bisa menjadi juara di tingkat nasional, tiga pelajar SMK Negeri 2 Bontang berhasil membuktikan bahwa karya yang lahir dari keberanian mencoba mampu bersaing di panggung yang lebih besar.

Berbekal ide kreatif, proses panjang, dan keberanian mengangkat cerita berbeda, Reya Deka Yusdiawan (XI TKJ), Tasya Yasmin Salsabila (XI APHPI), dan Faris Zuhdi Naufal (XI TKJ) menorehkan prestasi dalam lomba film pendek Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).

Di balik keberhasilan tersebut, ada proses seleksi, perdebatan menentukan konsep, hingga perjuangan menyelesaikan film yang mengangkat kekayaan seni budaya dan lanskap Kota Bontang.

Guru pendamping tim, Reza, mengatakan persiapan telah dimulai sejak Maret hingga April. Pihak sekolah terlebih dahulu menjaring siswa yang memiliki minat terhadap dunia perfilman melalui workshop dan pelatihan bedah film.

Baca Juga: Erau Pelas Benua Kutim Ditutup, Bupati Ardiansyah Tekankan Pelestarian Adat dan Alam

Dari kegiatan tersebut, sekolah melihat potensi siswa yang bisa dikembangkan untuk mengikuti kompetisi. Proses seleksi kemudian mengerucut dari sekitar 40 peserta menjadi 10 kandidat sebelum akhirnya ditetapkan tiga siswa yang dinilai memiliki kemampuan dan potensi untuk mewakili sekolah.

“Setelah workshop bedah film selesai, saya dan beberapa guru berdiskusi untuk melihat siapa yang memang berpotensi. Kami juga melihat latar belakang kegiatan ekstrakurikuler mereka, terutama jurnalistik dan teater, karena ada keterkaitan dengan dunia perfilman,” kata Reza.

Menurut dia, ketiga siswa terpilih memiliki kemampuan yang saling melengkapi. Ada yang lebih menonjol dalam pengambilan gambar dan pengaturan kamera, sementara yang lain masih perlu mengembangkan kemampuan menyusun ide serta konsep cerita.

Perbedaan kemampuan itu justru menjadi kekuatan tim. Mereka belajar membagi peran, berdiskusi, dan saling mengisi kekurangan selama proses produksi berlangsung.

Baca Juga: Sekolah di Paser Alihkan Pembelajaran ke Rumah Akibat Bencana Karhutla dan Kabut Asap

Sebelum terjun ke kompetisi, para siswa juga mendapat bekal melalui sejumlah seminar dan pelatihan pembuatan film. Referensi karya pemenang FLS3N dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional pada tahun sebelumnya turut dipelajari sebagai bahan evaluasi.

“Kami bedah karya-karya pemenang tahun sebelumnya, mulai dari tingkat kota, provinsi, sampai nasional. Dari situ mereka mulai merancang ide, menentukan tema, dan menyusun konsep film,” ucapnya.

Reza menyebut, sekolah memberikan dukungan moral maupun material. Selama persiapan, siswa mendapat bantuan kebutuhan konsumsi dan pendampingan, termasuk ketika harus mengurus izin kepada orang tua. Sekolah juga memfasilitasi peminjaman peralatan produksi, seperti kamera dan perangkat pencahayaan.

Seluruh proses dikerjakan di luar kegiatan belajar mengajar. Namun, persiapan yang berlangsung hampir dua bulan membuat waktu belajar mereka sempat berkurang. Pada tahap awal, siswa masih mengikuti pembelajaran hingga sekitar pukul 10.00 atau 12.00 Wita sebelum melanjutkan pertemuan untuk menyusun konsep dan kebutuhan produksi.

“Dari sisi sekolah, dukungan material dan moral kami upayakan terpenuhi. Mereka juga kami beri tanggung jawab untuk menjaga peralatan yang dipinjamkan karena bukan milik pribadi," tutur dia.

Bagi Reya, Tasya, dan Faris, kesempatan mengikuti FLS3N bukan sekadar perlombaan. Mereka ingin mengembangkan minat sekaligus membuktikan kemampuan dalam bidang film.

Baca Juga: Keterisian Kamar untuk Penyakit Kritis di RSUD Taman Husada Tembus 105 Persen, Pasien Antre di IGD

Salah seorang anggota tim mengaku sejak awal memang tertarik mengikuti kompetisi tersebut. Pengalaman mengikuti seminar dan terlibat dalam proyek pembuatan film pendek untuk YouTube membuatnya memiliki gambaran awal tentang proses produksi.

Sementara itu, Tasya Yasmin Salsabila mengaku sempat terkejut ketika dipercaya mewakili sekolah. Meski demikian, ia merasa senang karena kesempatan itu menjadi ruang untuk mengembangkan diri.

“Saya kaget sebenarnya, tetapi senang juga karena ini kesempatan untuk berkembang. Saya juga bertanya dahulu kepada orang tua. Mereka mempersilakan selama saya bisa membagi waktu,” ungkap Tasya.

Ketertarikan terhadap dunia kreatif juga datang dari pengalaman sehari-hari. Ada anggota tim yang terbiasa membuat konten dan menyukai public speaking, sedangkan anggota lainnya memiliki hobi fotografi dan membuat video.

Baca Juga: Turis Asing Menginap Lebih Lama di Hotel Kaltim, Tembus 2,94 Hari

Modal tersebut menjadi bekal ketika mereka mulai menyusun film. Namun, menentukan cerita bukan perkara mudah. Tim sempat mempertimbangkan sejumlah konsep sebelum menemukan ide yang dianggap paling sesuai dengan tema lomba.

Mereka bahkan menghabiskan hampir satu bulan untuk memikirkan tema dan menyusun naskah. Setelah mempelajari karya-karya pemenang sebelumnya, mereka melihat banyak peserta mengangkat tema yang berkaitan langsung dengan perlombaan. Dari situ, muncul keinginan untuk mengambil sudut pandang berbeda.

Film yang mereka garap mengangkat sosok pembatik tradisional yang mengalami tekanan psikologis akibat kebuntuan ide. Cerita tersebut tidak sekadar menampilkan aktivitas membatik, tetapi juga mengeksplorasi pergulatan batin tokoh ketika menghadapi persoalan dalam proses berkarya.

Tim turut memasukkan unsur lokal Bontang, termasuk batik Enggang yang berkaitan dengan Guntung. Sejumlah lanskap daerah juga menjadi bagian dari visual film, seperti kawasan mangrove dan Pulau Beras Basah.

Melalui pendekatan tersebut, mereka berusaha memperkenalkan seni budaya sekaligus potensi wisata Kota Bontang kepada penonton.

“Pesan yang ingin kami tekankan adalah kebuntuan bukan akhir dari segalanya. Kami ingin penonton ikut merasakan pergulatan tokoh, sampai sulit membedakan mana realitas dan mana imajinasi,” ulasnya.

Baca Juga: Atasi Persoalan Lingkungan, Sangatta Selatan Matangkan Pengelolaan Sampah Berbasis RT

Menurut mereka, film tidak harus selalu menyampaikan pesan secara gamblang. Penonton justru diajak berpikir dan menafsirkan sendiri makna di balik cerita yang disajikan.

Proses produksi dilakukan dengan berpindah-pindah lokasi. Pengambilan gambar berlangsung sekitar lima hingga enam hari, sedangkan penyuntingan film membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Persiapan teknis dan perancangan konsep dilakukan lebih dahulu agar seluruh kebutuhan produksi sesuai dengan cerita.

Film tersebut kemudian diikutsertakan dalam kompetisi tingkat Kota Bontang pada Juni. Mereka harus bersaing dengan sekitar 20 peserta dari SMA dan SMK. Hasilnya, tim SMK Negeri 2 Bontang berhasil meraih juara pertama. Capaian tersebut sudah memenuhi target awal mereka.

Sejak awal, para siswa tidak memasang target muluk-muluk. Bisa melaju ke tingkat provinsi saja sudah menjadi pencapaian yang disyukuri. Apalagi, sekolah mereka belum pernah meraih prestasi di bidang film pada kompetisi yang sama hingga tahap tersebut.

Baca Juga: Mobil Dinas Bontang Disorot Parkir di Samarinda, Neni Terbitkan Edaran Teguran

Perjalanan berlanjut ke tingkat provinsi. Kali ini, penilaian dilakukan secara daring. Tim mengumpulkan film yang sama dengan karya pada tingkat kota melalui mekanisme yang ditetapkan panitia, kemudian mengikuti presentasi melalui Zoom.

Tidak ada perubahan pada film yang dikirimkan. Karya yang mereka buat untuk tingkat kota itulah yang mengantarkan tim melaju hingga tingkat nasional.

Persaingan di tingkat nasional sempat membuat mereka minder. Mereka mengamati rekam jejak daerah lain yang sebelumnya pernah meraih prestasi, termasuk Samarinda dan sejumlah provinsi dengan karya yang dinilai kuat.

Tim juga mempersiapkan presentasi selama sekitar dua minggu. Mereka mengira akan diminta menjelaskan banyak aspek teknis, mulai dari penyutradaraan, pengambilan gambar, hingga artistik. Kenyataannya, waktu presentasi hanya sekitar lima menit dengan fokus pada ide pokok, tema, dan makna film.

Ketika pengumuman pemenang berlangsung secara daring, mereka semakin tidak yakin akan membawa pulang gelar juara. Nama tim tak kunjung disebut ketika kategori juara harapan, juara ketiga, hingga juara kedua diumumkan.

“Saat juara harapan sampai juara dua disebutkan dan nama kami tidak ada, kami sudah berpikir tidak menang. Tiba-tiba nama kami dipanggil sebagai juara pertama. Rasanya seperti mimpi,” kenang Reya.

Baca Juga: Masuk Markas Dicegat Provos, Ponsel Polisi di Balikpapan Diperiksa Terkait Judol

Momen itu menjadi puncak perjalanan panjang yang sebelumnya hanya menargetkan kelolosan ke tingkat provinsi. Prestasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi siswa lain di sekolah untuk menekuni bidang perfilman.

Kemenangan di tingkat nasional tidak membuat Reya, Tasya, dan Faris ingin berhenti berkarya. Mereka justru berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti FLS3N dapat menjadi bekal untuk menghasilkan film-film berikutnya.

Mereka juga ingin berbagi pengetahuan dengan adik kelas agar prestasi di bidang film dapat berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

Bagi mereka, keberhasilan sebuah produksi bukan hanya ditentukan tiga siswa yang tercatat sebagai peserta lomba. Ada sekitar 10 kru pelajar yang terlibat dalam proses pembuatan film, mulai dari membantu pengambilan gambar, menyiapkan kebutuhan artistik, hingga mendukung produksi di lapangan.

Baca Juga: Operasi Narkoba di Balikpapan Amankan 58 Orang, Dua Pembawa Sabu Resmi Disidik

Karena itu, mereka berharap apresiasi yang diterima nantinya juga bisa dirasakan seluruh kru yang ikut bekerja di balik layar.

“Kalau hadiah nasional nanti cair, menurut saya sebaiknya dibagi rata dengan kru. Kami sama-sama capek dan bekerja. Mereka memang tidak terdaftar sebagai peserta, tetapi ikut membantu sampai film ini selesai. Jadi, mereka juga bisa merasakan hasilnya,” tuturnya.

Keinginan tersebut memperlihatkan bahwa prestasi tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan individu. Ada kerja kolektif, proses belajar, dan semangat untuk tumbuh bersama.

Dari sebuah ide tentang pembatik yang mengalami kebuntuan, Reya Deka Yusdiawan, Tasya Yasmin Salsabila, dan Faris Zuhdi Naufal menemukan pelajaran yang lebih luas: proses kreatif tidak selalu berjalan mulus, tetapi keberanian untuk mencoba dan terus berkarya dapat membuka jalan menuju pencapaian yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
SMKN 2 Bontang Berita Bontang FLS3N Tingkat Nasional Film Pendek Bontang Prestasi Pelajar Kaltim