KALTIMPOST.ID, Dunia perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran film horor terbaru, Sorop.
Film ini bukan sekadar horor biasa, melainkan sebuah perpaduan maut dari tiga elemen kuat: utas viral SimpleMan, sentuhan magis sutradara Upi, dan performa apik para aktornya. Lantas, seperti apa racikan maut ini bekerja?
Nama SimpleMan tentu tak asing bagi para pengguna media sosial. Utas-utas horornya telah melahirkan film-film box office seperti KKN di Desa Penari dan Sewu Dino.
Kesuksesan ini membuktikan bahwa cerita yang berakar dari pengalaman personal dan dibagikan di platform digital mampu memikat jutaan penonton.
Sorop pun hadir dengan DNA yang sama, diadaptasi dari utas viral yang belum sepenuhnya selesai, memberikan kebebasan bagi Upi dan tim penulis untuk meramu akhir cerita yang orisinal.
Upi bukan nama baru di industri perfilman Indonesia. Sutradara di balik film-film hits seperti 30 Hari Mencari Cinta dan My Stupid Boss ini dikenal dengan kemampuannya meramu cerita dan membangun atmosfer yang kuat.
Di Sorop, sentuhan magis Upi kembali terasa. Ia berhasil menciptakan atmosfer mencekam dan intens, membuat penonton terus waspada di sepanjang film.
Performa Apik Para Aktor
Sorop tak hanya mengandalkan cerita dan sutradara ternama, tetapi juga didukung oleh jajaran aktor yang tampil memukau.
Hana Malasan dan Yasamin Jasem berhasil membawakan peran sebagai kakak beradik dengan natural.
Keduanya mampu menyampaikan kesedihan dan ketakutan dengan ekspresi yang meyakinkan. Penampilan Egi Fedly sebagai Pakde Khair juga patut diacungi jempol.
Ia berhasil menghidupkan karakter hantu yang meneror dengan aura yang intriguing dan mencekam. Kehadiran Brilliana Arfira, bintang film pendek Tilik, juga memberikan warna tersendiri.
Alur Cerita yang Mengikat
Sorop mengisahkan tentang Hanif dan Isti, dua bersaudara yang kembali ke rumah masa kecil mereka setelah mendengar kabar duka.
Kepulangan mereka justru membawa mereka ke dalam serangkaian kejadian mistis yang mengerikan.
Teror dari arwah Pakde Khair menghantui mereka, memaksa mereka untuk mengungkap rahasia kelam masa lalu keluarga.
Upi meramu alur cerita dengan cerdas, maju mundur untuk memberikan petunjuk demi petunjuk tentang misteri yang melingkupi keluarga Hanif dan Isti.
Atmosfer dingin dan wingit di rumah masa kecil mereka semakin memperkuat kesan horor yang dibangun.
Adegan-adegan jumpscare pun dihadirkan dengan tepat, tidak berlebihan, namun tetap efektif membuat penonton terkejut.
Baca Juga: Sentuh Hati Ibu: 10 Ide Kado Hari Ibu yang Bikin Beliau Merasa Dicintai Selamanya
Lebih dari Sekadar Hantu
Sorop tidak hanya menawarkan teror hantu semata, tetapi juga mengangkat tema keluarga dan rahasia masa lalu.
Konflik antara Hanif dan Isti, serta misteri di balik kematian Pakde Khair, menjadi bumbu yang memperkaya cerita.
Film ini menunjukkan bahwa terkadang, teror yang paling menakutkan justru berasal dari masa lalu dan orang-orang terdekat kita.
Meski secara keseluruhan film ini berhasil membangun atmosfer yang kuat, ada sedikit catatan terkait detail lokasi.
Rumah yang menjadi latar cerita terkesan kurang spesifik menggambarkan suasana Solo.
Namun, hal ini tidak terlalu mengganggu kenikmatan menonton secara keseluruhan.
Sorop berpotensi menjadi kuda hitam di kancah perfilman horor Indonesia. Bagi Anda penggemar horor, film ini wajib masuk daftar tontonan Anda. Jangan lewatkan terornya di bioskop! (*)
Editor : Dwi Puspitarini