DESA Kerta Buana kini tidak hanya dikenal sebagai kampung budaya, tetapi juga sedang menyusun langkah-langkah menuju cita-cita besar, menjadi desa wisata berbasis budaya, meniru kesuksesan Desa Penglipuran di Bali.
Salah satu yang mereka andalkan adalah keberlanjutan tradisi-tradisi lokal seperti pawai ogoh-ogoh tersebut.
Pemuda terlibat. Anak-anak belajar. Orang tua membimbing. Dan semua itu terjadi dalam satu bingkai besar bernama warisan budaya.
Ketika malam tiba, ogoh-ogoh yang siangnya menari kini berdiri diam dalam bayang-bayang cahaya obor. Pawai selesai. Tapi pesan yang dibawa akan terus bergema.
"Bahwa dalam kegelapan sekalipun, cahaya kebaikan akan selalu menemukan jalannya,” imbuhnya.
Karena di Kerta Buana, ogoh-ogoh bukan hanya patung. Ia adalah cermin jiwa, penjaga tradisi, dan penyampai pesan perdamaian.
Editor : Dwi Restu A