KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Industri pengolahan atau manufaktur kembali menegaskan perannya sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2024. Di tengah dinamika global, sektor itu tetap berada dalam fase ekspansi dan memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menyampaikan, produksi industri manufaktur skala besar dan sedang sepanjang 2024 tumbuh 2,61 persen. Kinerja tersebut sejalan dengan pertumbuhan PDB sektor manufaktur yang mencapai 4,43 persen.
“Dengan kinerja tersebut, sektor manufaktur memberikan kontribusi sebesar 0,90 persen terhadap pertumbuhan PDB nasional yang tumbuh sebesar 5,03 persen secara keseluruhan,” ujar Yusniar.
Baca Juga: Didominasi CV, Usaha Konstruksi Kaltim Masih Bertumpu pada Pelaku Lokal
Dua menjelaskan, capaian positif industri manufaktur juga tercermin dari indikator Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis Bank Indonesia. Sepanjang 2024, PMI Indonesia konsisten berada di atas level 50 persen. “Kondisi ini menunjukkan bahwa industri berada dalam fase ekspansi pada setiap triwulan,” katanya.
Menurut Yusniar, kuatnya permintaan domestik terhadap produk dalam negeri menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja sektor manufaktur nasional. Permintaan tersebut menjaga aktivitas produksi tetap bergerak positif meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal.
Kinerja industri pengolahan yang solid menjadikan sektor manufaktur tetap sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Perannya tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar setelah sektor-sektor utama lainnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki