KALTIMPOST.ID, Belakangan ini media sosial tengah ramai membahas game TheoTown, bahkan sempat menduduki peringkat trending pencarian Google. Game simulasi yang sudah dirilis sejak tahun 2019 oleh developer Lobby Divinus ini mengalami lonjakan pemain yang masif di awal tahun 2026, di mana mayoritas pemain baru berasal dari Indonesia. Lantas, apa yang membuat game simulasi membangun kota ini kembali menjadi buah bibir?
TheoTown menghadirkan pengalaman yang mirip dengan game simulasi tata kota lainnya seperti SimCity 2000.
Pemain dapat membangun gedung, infrastruktur transportasi, fasilitas umum, hingga menangani berbagai peristiwa darurat yang dialami NPC dalam game. Di sini, pemain memegang kendali penuh layaknya seorang pemegang kuasa pemerintahan atau wali kota. Salah satu kelebihannya adalah spesifikasi yang rendah; game dengan grafis pixel art ini tergolong ringan dan dapat dijalankan di PC, Android, maupun iPhone versi lama. Sehingga mudah dijangkau oleh pemain dari berbagai kalangan jenis perangkat.
Komunitas TheoTown Indonesia di Facebook yang sudah ada sejak awal perilisan pun kini semakin membesar. Menariknya, pihak developer sempat merasa heran mengapa game mereka kembali naik daun setelah tujuh tahun sejak kemunculan pertamanya, sampai muncul pernyataan kebingungannya di loading screen game ini. Rahasia di balik ledakan popularitasnya ternyata ada pada fitur Plugin.
Fitur Plugin memungkinkan para kreator melakukan kustomisasi bangunan di luar aset asli game, seperti Menara Eiffel, hingga Monas. Banyak kreator asal Indonesia yang ikut menciptakan bangunan melokal, seperti gerai Mie Gacoan, SPBU Pertamina, gedung pemerintahan, dapur makanan bergizi gratis, Indomaret, hingga candi nusantara. Kehadiran aset-aset lokal inilah yang menarik minat banyak orang untuk mencoba membangun kota versi Indonesia mereka sendiri.
Tak berhenti sampai di situ, komunitas TheoTown Indonesia di Facebook juga sering berbagi inspirasi dalam bermain peran (roleplay) menjadi pemimpin kota.
Eksperimen kebijakan yang dilakukan pun cukup unik; mulai dari menaikkan pajak setinggi langit untuk melihat warganya meninggalkan kota, membangun dapur makanan yang berujung keracunan massal karena salah manajemen, memenuhi kota dengan pohon kelapa sawit, hingga membangun jalan tol dengan gerbang pembayaran yang sangat rapat di sepanjang jalan.
Detail dalam game TheoTown juga menjadi daya tarik utama. Para warga (NPC) di dalamnya dapat bereaksi aktif terhadap kebijakan pemain, seperti melakukan aksi demo, membakar fasilitas umum, mengeluhkan pembangunan jalan, hingga menuntut lapangan pekerjaan.
Suasana bermain game yang sangat mirip dengan realitas sosial ini membuat TheoTown bukan hanya sekadar game simulasi biasa, melainkan media bagi pemain untuk memvisualisasikan kota impian atau sekedar menerapkan kebijakan publik melalui simulasi digital.
Editor : Hernawati