Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024, Kota Balikpapan tercatat sebagai wilayah dengan biaya hidup tertinggi di provinsi tersebut.
Sementara itu, dua daerah yang termasuk dalam kawasan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), yakni Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Kutai Kartanegara, mencatat biaya hidup yang lebih rendah.
Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di PPU sebesar Rp1.480.000, sedangkan di Kutai Kartanegara sebesar Rp1.720.000.
Meski tergolong lebih rendah, tingginya ketergantungan terhadap distribusi barang dari kota-kota besar seperti Balikpapan dan Samarinda membuat potensi kenaikan biaya hidup di wilayah penyangga IKN tetap menjadi perhatian.
Distribusi logistik yang memerlukan ongkos tambahan berkontribusi terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Jika dihitung per tahun, rata-rata pengeluaran per kapita mencapai Rp17,78 juta untuk PPU dan Rp20,61 juta untuk Kutai Kartanegara.
Meski demikian, kedua wilayah tersebut belum masuk dalam kategori daerah dengan biaya hidup tertinggi di Kalimantan. Posisi teratas dipegang oleh Kota Balikpapan, dengan pengeluaran per kapita mencapai Rp2,46 juta per bulan. Disusul Samarinda (Rp2,26 juta), Bontang (Rp2,18 juta), dan Kutai Timur (Rp2,16 juta).
Keempat wilayah tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi dan logistik di Kaltim, yang berdampak langsung terhadap tingginya kebutuhan dan harga barang konsumsi.
Di luar Kalimantan Timur, kota-kota besar lainnya juga mencatat pengeluaran tinggi. Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat Rp2,08 juta, sementara Banjarbaru di Kalimantan Selatan menyentuh angka Rp1,87 juta per bulan per kapita.
Menurut Kepala BPS Kalimantan Timur, Yusniar Juliana, belum tersedia data khusus untuk kawasan inti IKN. Namun, pola pengeluaran di PPU dan Kutai Kartanegara digunakan sebagai indikator sementara. “Biaya distribusi masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga barang di daerah-daerah sekitar IKN,” ujarnya.
Secara umum, struktur biaya hidup di Kalimantan Timur mencerminkan perbedaan antara pusat kota dan daerah pinggiran. Dengan pembangunan IKN yang terus berlangsung, dinamika ini diperkirakan akan mengalami perubahan dalam beberapa tahun ke depan.
Editor : Uways Alqadrie