KALTIMPOST.ID,IKN-Pemerintah akan memprioritaskan aparatur sipil negara (ASN) yang berusia muda dan memiliki tingkat kesiapan adaptasi yang tinggi dalam proses perpindahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Strategi ini bertujuan membentuk kultur birokrasi yang baru dan dinamis di ibu kota negara masa depan.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, setelah meninjau fasilitas hunian ASN di Nusantara, Kalimantan Timur, pada Selasa (11/11).
“Jika diperhatikan, wajah-wajah ASN yang dipersiapkan pindah ke IKN sebagian besar adalah generasi muda. Mereka cenderung lebih fleksibel dan belum banyak terbebani tanggungan keluarga, sehingga relatif lebih siap menjadi bagian dari Otorita IKN,” jelas Dede Yusuf.
Pemerintah menargetkan hingga tahun 2028, sebanyak 9.500 ASN akan menempati unit hunian vertikal yang telah disiapkan.
Fasilitas tersebut terdiri dari 47 tower dengan kapasitas 60 unit per tower. Politisi Partai Demokrat ini menambahkan, "Satu unit hunian memiliki tiga kamar tidur, ukuran yang cukup ideal baik untuk ASN lajang maupun yang sudah berkeluarga kecil."
Baca Juga: Batasan Hak Atas Tanah di IKN Dipangkas MK, Jangka Waktu HGU Kini Maksimal 95 Tahun
Lebih lanjut, Dede Yusuf menekankan bahwa daerah-daerah di sekitar IKN, seperti Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara, dan Balikpapan, akan memegang peran vital sebagai wilayah penyangga dan pendorong pertumbuhan ekonomi baru, serupa dengan peran Jabodetabek bagi DKI Jakarta.
“Kawasan sekitar IKN akan berkembang pesat seiring munculnya kebutuhan logistik dan berbagai layanan bagi ribuan ASN yang pindah. Suplai bahan pangan, daging, hingga jasa-jasa pendukung dapat dipenuhi oleh daerah-daerah penyangga ini,” paparnya.
Selain itu, Dede juga menggarisbawahi pentingnya memastikan bahwa masyarakat lokal ikut merasakan dampak positif dari pembangunan IKN. Ia memperingatkan pemerintah agar tidak mengesampingkan aspek kesejahteraan sosial masyarakat di sekitar proyek pembangunan tersebut.
“Harus ada jaminan konkret agar masyarakat lokal tidak tertinggal. Ini bisa diwujudkan melalui program seperti beasiswa pendidikan bagi anak-anak sekitar IKN, layanan kesehatan gratis, dan pelatihan keterampilan. Hal ini sangat krusial agar pembangunan besar ini tidak justru menciptakan kesenjangan sosial baru,” ujarnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko