KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membuka peluang baru dalam penanganan infeksi yang sulit disembuhkan.
Perusahaan bioteknologi Radical Numerics mengklaim telah menggunakan virus hasil rancangan AI dalam terapi eksperimental terhadap seorang pasien yang mengalami infeksi bakteri.
Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu mengatasi bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Virus yang digunakan merupakan bakteriofag, yakni virus yang secara khusus menginfeksi dan menyerang bakteri, bukan sel manusia.
Baca Juga: Kronologi Montir di Tangerang Ditagih Pajak McLaren Rp137 Juta, Mengaku Tak Pernah Punya Mobil Mewah
Dilansir dari Mashable, Senin (26/10/2026), Radical Numerics memanfaatkan model AI bernama Omnii-1 untuk merancang bakteriofag yang ditujukan pada bakteri penyebab infeksi.
Pendekatan ini dikembangkan sebagai alternatif ketika pilihan pengobatan konvensional tidak lagi memadai. Dengan bantuan AI, peneliti berharap dapat merancang virus yang sesuai dengan karakteristik bakteri tertentu sehingga penanganan infeksi menjadi lebih terarah.
Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut masih berada pada tahap eksperimental. Klaim keberhasilannya belum didukung publikasi ilmiah yang melalui proses penelaahan sejawat.
AI Membantu Merancang Virus Penyerang Bakteri
Bakteriofag sebenarnya telah lama diteliti sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi infeksi bakteri. Virus ini memiliki kemampuan menyerang jenis bakteri tertentu dan dapat menjadi pilihan yang menarik ketika antibiotik tidak lagi efektif.
Hal yang membedakan pendekatan Radical Numerics adalah penggunaan AI untuk membantu merancang bakteriofag sesuai sasaran pengobatan.
Perusahaan tersebut menyatakan, campuran bakteriofag yang dirancang menggunakan model Omnii-1 mampu mengatasi sampel bakteri penyebab infeksi dalam pengujian laboratorium.
Hasil tersebut kemudian menjadi bagian dari pengembangan terapi eksperimental yang diberikan kepada seorang pasien.
Namun, keberhasilan menghambat atau membunuh bakteri dalam kondisi laboratorium tidak otomatis menjamin hasil serupa ketika terapi digunakan pada manusia. Respons tubuh, keamanan pengobatan, serta efektivitas terhadap infeksi yang sebenarnya masih perlu dievaluasi.
Baca Juga: Waspada Penuaan Dini, Hindari 8 Kebiasaan Buruk Ini Sekarang Juga
Radical Numerics juga belum mengungkap secara terperinci perkembangan kondisi pasien setelah menerima terapi tersebut.
Mendapat Akses Khusus untuk Satu Pasien
Penggunaan bakteriofag hasil rancangan AI itu disebut dilakukan melalui mekanisme compassionate use.
Mekanisme ini memungkinkan pasien dengan kondisi serius memperoleh akses terhadap terapi eksperimental ketika pilihan pengobatan yang memadai sangat terbatas.
Menurut perusahaan, penggunaan terapi tersebut telah mendapatkan otorisasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA untuk satu pasien.
Meski demikian, izin untuk penggunaan pada kasus individual tidak sama dengan persetujuan untuk memasarkan atau menggunakan terapi tersebut secara luas.
Baca Juga: Bea Cukai Sita 25,88 Kg Emas Senilai Rp61,95 Miliar di 5 Bandara, Ini Daftar Lokasinya
Keamanan dan efektivitasnya tetap harus dievaluasi melalui pemantauan klinis dan penelitian lebih lanjut.
Klaim Keberhasilan Masih Menunggu Bukti Ilmiah
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah belum tersedianya laporan teknis Radical Numerics yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah melalui proses peer review.
Proses penelaahan sejawat penting agar metode penelitian, hasil pengujian, dan kesimpulan dapat diperiksa secara independen oleh para ilmuwan.
Tanpa data klinis yang memadai, belum dapat dipastikan sejauh mana bakteriofag hasil rancangan AI tersebut memberikan manfaat bagi pasien.
Klaim mengenai penggunaan pertama teknologi semacam ini pada manusia juga masih memerlukan verifikasi independen.
Karena itu, perkembangan ini belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa AI telah menghasilkan pengobatan yang terbukti menyembuhkan infeksi kronis atau seluruh kasus bakteri kebal antibiotik.
Berpotensi Menjadi Pendekatan Baru dalam Dunia Medis
Resistansi antimikroba menjadi tantangan serius bagi dunia kesehatan karena bakteri tertentu dapat bertahan meski telah diberikan antibiotik yang biasanya efektif.
Dalam kondisi tersebut, dokter dapat menghadapi keterbatasan pilihan pengobatan. Penelitian terhadap bakteriofag menjadi salah satu upaya untuk mencari pendekatan alternatif.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit dari USD 3.900, Ini Faktor yang Menentukan Pergerakan Selanjutnya
Pemanfaatan AI berpotensi membantu mempercepat proses perancangan kandidat bakteriofag dengan mempertimbangkan karakteristik bakteri yang menjadi sasaran.
Jika efektivitas dan keamanannya dapat dibuktikan melalui penelitian yang memadai, teknologi ini berpeluang mendukung pengembangan terapi yang lebih spesifik bagi pasien dengan infeksi sulit ditangani.
Editor : Uways Alqadrie