Menjelang Ramadan harga beras masih belum terkendali. Walaupun Bulog secara khusus telah mendapat tugas untuk mengimpor hingga 2 juta ton.
SAMARINDA-Kenaikan harga beras juga terjadi di Samarinda. Harga beras premium menembus angka Rp 16 ribu per kilogram. Pedagang menjerit, pembeli lebih menjerit. Kenaikan harga beras tersebut terjadi untuk beras yang berasal dari Sulawesi dan Jawa.
Musim kemarau disebut-sebut menjadi penyebab utama peningkatan harga beras. Pemkot Samarinda telah membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Dalam tugasnya TPID akan segera turun ke lapangan melakukan sidak untuk meninjau pasar dan pedagang, memastikan situasi yang ada sekarang tetap terkendali.
Ketua Komisi II, DPRD Samarinda, Fuad Fakhruddin, mengatakan dalam waktu dekat dewan akan melakukan sidak ke pasar hingga Bulog, untuk memastikan ketersediaan beras. Juga melakukan fungsi pengawasan agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan kenaikan harga beras untuk keuntungan pribadi.
"DPRD mendorong pemkot untuk memperbanyak operasi pasar, terutama untuk beras seharga Rp 10 ribu per kilogram. Tadi saya sudah mendengar Pemkot akan menggelontorkan 10 ton beras untuk operasi pasar di berbagai tempat," ucapnya.
Kenaikan harga beras, lanjut dia, memang harus segera diantisipasi. Dikhawatirkan menjelang Ramadan ini kalau tidak segera teratasi bisa memicu kenaikan harga untuk kebutuhan bahan pokok lainnya. Apalagi berdasarkan pengalaman selama ini, kenaikan harga sembako selalu terjadi di setiap Ramadan.
Fuad sepakat semua pihak harus bahu-membahu untuk menurunkan harga beras. Dalam kondisi apapun, stok beras harus terkendali. Namun stok yang cukup, tentu harus dibarengi dengan harga yang tidak meningkat. Pemerintah Pusat, Pemprov Kaltim, dan Pemkot Samarinda harus melakukan berbagai upaya untuk memastikan masyarakat mendapatkan harga beras yang terjangkau.
Sementara itu, Anggota Komisi II, DPRD Samarinda, Novi Marinda Putri, meminta masyarakat jangan panik dengan kondisi yang ada. Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda sudah menjamin stok beras untuk Kaltim termasuk Samarinda cukup sampai Idulfitri nanti. Tidak perlu menumpuk atau membeli di luar kebutuhan sehari-hari. Kalau panik, beras malah langka dan harga melonjak tinggi.
"Kenaikan harga beras saat ini terjadi karena pengaruh musim kemarau akibatnya di beberapa tempat penghasil beras tidak bisa panen. Oknum penjual atau produsen tidak menyimpan beras yang menyebabkan harga beras di pasaran malah makin meningkat atau tidak stabil. Semoga jaminan Pemkot dan Pemprov akan stok beras memang benar adanya, sehingga masyarakat tidak semakin panik karena kenaikan harga,"sebut anggota Fraksi PAN DPRD Samarinda tersebut.
Dia berharap, pemerintah terus melakukan monitoring terhadap kenaikan harga. Jangan sampai setelah stok stabil, harga tidak ikut turun. Kalau kondisi itu terjadi, aparat pemerintah dan keamanan harus memanggil produsen dan penjual agar mengembalikan harga sesuai sebelum terjadi kenaikan. Tindakan tegas harus dilakukan terhadap pihak-pihak yang melakukan permainan terhadap harga atau melakukan praktik penimbunan. (adv/waz/far)