Kalau informasi awal dari ada kabel motor mesin yang mengalami korsleting. Tetapi masih didalami melalui investigasi, kata Jayadi.
Kebakaran terjadi di salah satu plant biodisel. Adapun bahan baku berupa minyak ataupun methanol membuat api cepat membesar. Pihaknya pun sempat melakukan pemadaman secara internal menggunakan sistem hydrant yang terkoneksi dengan sistem pemadam dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan).
Jadi kami gunakan untuk penanganan, ucapnya.
Saat ini perusahaan belum bisa mengkalkulasi berapa kerugian yang ditimbulkan dari musibah ini. Tentunya aktivitas perusahaan menjadi terhambat. Karena mesin terbakar.
Sampai saat ini belum bisa produksi. Kira-kira dalam sepekan ini kami akan lakukan pemeriksaan terhadap instalasi pipa yang ada, tutur dia.
Diketahui, kejadian ini bukan pertama kali. Kebakaran pertama terjadi pada 6 Agustus 2021 di gudang biodiesel, 16 Juni 2022 di gudang ampas sawit, lalu pada 21 Januari 2023 di gudang penyimpanan minyak.
Perusahaan telah mendapatkan peringatan dari pemkot dan DPRD sebelumnya. Dalam rapat kerja DPRD dengan perusaahan dan OPD terkait, pada 30 Januari 2023, diketahui bahwa PT EUP tidak memiliki sistem tanggap darurat yang baik.
Dalam pertemuan itu, PT EUP yang diwakili Jayadi selaku humas perusahaan, mengaku tidak memiliki mobil pemadam kebakaran. Dia juga menyebut PT EUP akan membangun sistem hydrant. Api barus bisa dipadamkan oleh petugas setelah 3,5 jam mendapatkan penanganan.
Disdamkartan pun menggunakan cairan khusus busa. Karena bahan yang terbakar berjenis minyak. (ak/waz)