Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Masalah Stunting di Kaltim Perlahan Menurun tapi Masalah Lainnya Muncul, Ini Ternyata Penyebabnya

M Hafiz Alfaruqi • Senin, 16 Juni 2025 | 10:25 WIB
TERUS DIPERHATIKAN: Permasalahan stunting di Kalimantan Timur sejatinya masih jadi catatan serius yang diperhatikan pemerintah dan OPD teknis.
TERUS DIPERHATIKAN: Permasalahan stunting di Kalimantan Timur sejatinya masih jadi catatan serius yang diperhatikan pemerintah dan OPD teknis.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Meski angka prevalensi stunting (tengkes) di Kalimantan Timur menunjukkan tren penurunan, permasalahan gizi balita masih menjadi tantangan serius.

Hal itu diungkapkan dr Resvianur, selaku kepala seksi gizi kesjaor Dinas Kesehatan Kaltim, (15/6).

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kaltim menurun dari 22,9 persen (2023) menjadi 22,2 persen.

Sementara itu, cakupan penanganan balita gizi buruk meningkat dari 96,92 persen pada 2023 menjadi 98,82 persen pada tahun lalu.

Resvianur menjelaskan, penyebab stunting dan gizi buruk bersifat multidimensional. Selain infeksi dan pola konsumsi yang buruk, faktor ekonomi, sanitasi, dan pola asuh yang kurang optimal turut memperburuk situasi.

"Bukan hanya soal makanan, tapi juga akses layanan kesehatan dan edukasi orang tua,” sambungnya.

Menurutnya, keterbatasan jumlah petugas gizi dan kader aktif menjadi hambatan serius.

“Banyak puskesmas hanya punya satu tenaga gizi, bahkan kadang merangkap tugas lain. Sementara kader belum semuanya aktif dan terlatih secara standar,” bebernya.

Meski program-program seperti pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil dan makanan tambahan untuk balita telah dijalankan maksimal, sinergi lintas sektor dinilai masih perlu diperkuat. 

Hal itu agar upaya penanganan gizi berjalan efektif dan menyeluruh.

Terkait pelaksanaan program seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT), Aman Tumbata, dan Makan Bergizi Gratis (MBG), dia menyambut baik upaya lintas sektor tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya koordinasi agar program tidak tumpang tindih dan tepat sasaran.

Upaya meningkatkan kesadaran orang tua dilakukan melalui edukasi sejak kehamilan.

“Kami libatkan ibu hamil dalam grup WhatsApp dan kelas ibu hamil. Keterlibatan suami, dan orang tua sangat penting agar pesan gizi tersampaikan lebih luas,” jelasnya.

Ada beberapa langkah konkret, seperti perbaikan data pemantauan pertumbuhan balita, penguatan intervensi dari masa kehamilan hingga anak usia dua tahun, kunjungan rumah secara berkala, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, integrasi program desa dan layanan kesehatan. 

Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya isu kesehatan, tapi juga pembangunan manusia.

“Kita butuh kerja bersama dari semua pihak agar generasi masa depan Kalimantan Timur tumbuh sehat dan kuat,” pungkasnya.

 

Editor : Dwi Restu A
#pemprov kaltim #Tengkes #balita #gizi buruk #Dinas kesehatan Kaltim #Stuntiing