Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengupas Bahasa Indonesia di Titik Simpang: Antara Bestie, Tetikus, dan Palum

Nasya Rahaya • Jumat, 1 Agustus 2025 | 15:53 WIB
BAHASA: Forum SUMBU TENGAH Edisi 3 di Balai Bahasa Kaltim, Samarinda, 28 Juli 2025. Dari kiri: Rusdianto, Felanans Mustari, Muhammad Tirta , Jacinta Maharani, Asep Juanda, Celine, Sarip dan Cinzy.
BAHASA: Forum SUMBU TENGAH Edisi 3 di Balai Bahasa Kaltim, Samarinda, 28 Juli 2025. Dari kiri: Rusdianto, Felanans Mustari, Muhammad Tirta , Jacinta Maharani, Asep Juanda, Celine, Sarip dan Cinzy.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bahasa Indonesia telah diajarkan sejak tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, namun dalam keseharian ruang publik, ia justru kerap ditinggalkan.

Di ranah digital, sumpah serapah kian marak, sementara di pergaulan Gen Z dan Alfa, bahasa Indonesia baku dianggap terlalu “formal” dan tak komunikatif.

Masalah ini menjadi sorotan utama dalam forum Solidaritas Usaha Membina Budaya Ucap, Tulis, Ekspresi, Nalar, Gagasan, Ajaran, dan Hikmah (SUMBU TENGAH) edisi ketiga yang digelar Balai Bahasa Kaltim, Senin (28/7).

Bertempat di kantor Balai Bahasa di Jalan Juanda Samarinda, forum ini mempertemukan beragam suara, mulai dari jurnalis, pegiat literasi, sejarawan, hingga siswa SMA.

“Bahasa para pemain game online sekarang itu penuh dengan umpatan seisi kebun binatang,” kata Felanans Mustari, jurnalis yang juga peraih emas cabang e-sport Porwanas XIV 2024.

Ia menyoroti bagaimana bahasa Indonesia kerap terpinggirkan di dunia digital, bahkan oleh penuturnya sendiri. “Di Jepang, bahasa nasional mereka hanya diujikan kepada orang asing. Tapi di sini, WNI harus ikut UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia),” kritik pria yang juga jadi pemimpin redaksi (Pemred) Kaltimkece.id tersebut.

Founder SUMBU TENGAH, Rusdianto, menambahkan kegelisahan lain: munculnya kosakata-kosakata baru yang sengaja dibuat pengguna media sosial, lalu viral, dan perlahan menggantikan diksi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

“Kata ‘galgah’ menggantikan ‘haus’, padahal lawan kata haus yang resmi adalah ‘palum’,” kata Rusdi, yang juga dikenal lewat lagu “Tapi Ini Samarinda”.

Sementara, Duta Baca Kaltimtara 2025, Muhammad Tirta Artesian menyampaikan bahwa keberterimaan publik menjadi kunci. “Kata tagar untuk hashtag bisa diterima, tapi siapa sih yang mau pakai tetikus untuk mouse?” katanya.

Di luar ruang formal, tantangan lain muncul. Duta Bahasa Kaltimtara, Jacinta Maharani, mengaku sering diejek teman nongkrong karena terlalu baku. Tapi ia justru menjadikannya sebagai ruang edukasi. “Bahasa itu harus dibawa ke ruang-ruang pergaulan juga. Biar nggak canggung,” ujarnya.

Sejarawan publik Muhammad Sarip menyebut bahwa kegagapan ini bukan sekadar soal kata-kata, tapi juga lintas generasi.

Ia pernah menerima kritik dari pembaca muda karena penggunaan diksi yang dinilai terlalu rumit. “Di buku terbaru saya, saya libatkan anak muda agar lebih komunikatif bagi Gen Z,” kata penulis Historipedia Kaltim itu.

Forum ini juga menghadirkan Alma Fadilla Putri, guru SD di Samarinda yang membagikan pengalaman mengajar. “Waktu saya jelaskan ‘sahabat’ dengan bahasa baku, siswa bingung. Tapi saat saya bilang ‘bestie’, semua langsung paham,” tuturnya.

Celine Huang, pelajar SMA yang juga Duta Baca Remaja Kota Samarinda, membenarkan fenomena itu. “Tapi guru tetap terikat regulasi soal etika berbahasa,” imbuhnya.

Forum ditutup dengan pertunjukan ventrilokuis dari Cinzy Grace dan bonekanya, Cinoy, yang menyampaikan dongeng Pesut Mahakam. Tak sekadar hiburan, pertunjukan ini sekaligus menghidupkan ruang tutur sebagai bentuk pelestarian ekspresi bahasa yang humanis dan inklusif.

“Penggunaan bahasa itu seperti pakaian. Harus tahu kapan dan di mana memakainya,” kata Kepala Balai Bahasa Kaltim, Asep Juanda, dalam penutupan forum. Bahasa Indonesia, katanya, bukan sekadar alat komunikasi, tapi penanda identitas bangsa yang kini tengah diuji oleh dinamika zaman. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pergaulan #sumpah serapah #balai bahasa #alfa #kaltim #sumbu tengah #Gen Z #bahasa indonesia