BALIKPAPAN - Saat ini pemerintah tengah menjalankan program B40. Bahkan Presiden Prabowo Subianto menargetkan secepatnya bisa naik level ke B50.
Kaltim siap mendukung peningkatan produksi minyak sawit untuk mewujudkan hal tersebut. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengatakan, kendala terbesar saat ini karena kekurangan bahan baku.
Dia memberi contoh saat kunjungan kerja ke Energi Unggul Persada di Bontang. Di sana terdapat dua refinery ada dua. Setiap refinery memiliki kapasitas 3.000 metrik ton.
Artinya seharusnya total produksi bisa mencapai 6.000 metrik ton. "Tapi okupansinya sekarang baru 55 persen karena bahan baku kurang," ucapnya.
Sementara Kaltim total memilik enam refinery. Di antaranya empat di Balikpapan, satu di Kutai Timur, dan satu di Bontang.
"Semuanya pasti kesulitan bahan baku," ucapnya.
Rudy menyinggung, sebagian didatangkan CPO dari Merauke. Jika menggunakan tanker paling cepat 7 hari baru sampai di Kaltim. Kondisi juga mulai bergeser, kini refinery bukan lagi untuk minyak goreng.
Tetapi fatty acid methyl ester (FAME). Campuran ataupun blending menjadi biodiesel. Produksi maksimum 3.300 metrik ton per hari.
"Sekitar 1.700 metrik ton untuk FAME diangkut melalui jalur darat," sebutnya. Rudy berharap, perusahaan turut memperhatikan pembangunan jalan untuk memudahkan distribusi tersebut.
Seperti Bontang mendistribusikan FAME hingga Bau-Bau dan lainnya. Ini jumlah produksinya cukup banyak. "Sekitar 100 ribu ton setiap tahun. Setiap hari rata-rata 3.300 metrik ton. Termasuk di dalamnya CPO," ungkapnya.
Pemprov Kaltim sangat mendukung produksi minyak sawit. Harapannya perusahaan membangun jalur untuk memudahkan distribusi pengangkutan.
"Bagaimana akses jalan bisa terkoneksi," imbuhnya. Dia sangat khawatir dengan akses jalan di Kalimantan. Terlihat banyak titik longsor. Imbas dari aktivitas tambang hingga distribusi logistik.
Berbeda jika ada jalan distribusi kelapa sawit yang bisa menjadi alternatif.
"Mudah-mudahan pengusaha bisa bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota untuk membuat akses-akses jalan," pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan