Potongan banir pohon yang tak lagi berdiri di hutan, dimanfaatkan kembali secara bijak. Diolah tanpa menyisakan limbah. Dirangkai menjadi karya berumur panjang. Inovasi yang lahir dari kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya dengan menanam, tapi juga dengan bertanggung jawab. Memberi nilai baru tanpa mengurangi kehidupan yang tumbuh darinya.
RADEN RORO MIRA, Samarinda
KALTIMPOST.ID, AROMA ulin yang tajam juga hangat biasanya hanya akrab di bengkel kayu. Tapi kini, aroma hutan Kalimantan itu nantinya bisa hadir di rumah siapa saja, dalam bentuk parfum hingga pelembab ruangan.
Penciptanya bukan pabrikan besar, melainkan seorang pria kelahiran Loa Kulu, Kutai Kartanegara, yang tekun bereksperimen. Dialah Iendy Zelviean Adhari, pendiri brand kriya Kayu Menggeris sejak dua tahun lalu.
“Kayu itu langka, saya sayang banget sisanya itu loh, kebuang sia-sia,” ujar Iendy sambil memperlihatkan serbuk kayu yang dia tampung di dua wadah botol plastik ukuran lima liter.
Dari rasa sayang pada limbah sisa olahan itu, muncul ide sederhana tapi berdampak besar. Mengubah serutan kayu jadi aroma alami.
Perjalanannya tidak sebentar. Sejak 2023, Iendy mencari cara terbaik mengekstraksi minyak alami dari kayu ulin dan kayu menggeris, flora lokal Kalimantan. Dua tahun kemudian, tepat setelah Lebaran 2025, akhirnya menemukan formulasi dan metode yang menghasilkan aroma murni, alami, dan tahan lama.
Gagasan Iendy lahir dari praktik keberlanjutan. Di workshop Menggeris, setiap potongan kayu punya nilai. Limbah sekecil apa pun, baginya, bukan sampah. Selama ini, Menggeris dikenal sebagai produsen aksesori dari kayu ulin dan menggeris. Hasil akhirnya adalah jam tangan dan kacamata.
Ulin dan menggeris tidak hanya indah dan kuat, tapi juga punya nilai budaya. Dijelaskan Iendy, dalam tradisi masyarakat Dayak, menggeris dikenal sebagai “pohon raja”. Sebab lebih kuat dibanding ulin, bahkan keberadaannya lebih langka. Artinya, pohon itu dilindungi dan tak boleh ditebang sembarangan.
“Mungkin di antara 100 pohon ulin, baru ada satu pohon menggeris. Dan tidak bisa ditanam manusia, usianya puluhan sampai ratusan tahun,” papar dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda itu.
Iendy paham betul hal tersebut. Itu mengapa dia hanya memakai bahan legal yang sudah memiliki izin. Tidak mengambil langsung dari hutan. Terlebih, bahan kayu dipakai adalah banir atau tunggul pohon sisa penebangan, yang dibiarkan begitu saja. Dia juga mengantongi Sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), langkah yang jarang dilakukan pelaku kriya di daerah.
“Saya ini satu-satunya kriya kayu di Kaltim yang sudah punya SVLK. Karena pengin izinnya jelas. Pasarnya kan ekspor, untuk ekspor harus punya sertifikat itu untuk yang berbahan kayu,” jelasnya bangga lalu menunjukkan sertifikat yang dimaksud, meletakkannya di atas meja. Tertera masa berlakunya hingga 18 September 2031.
PROSES HIJAU YANG NYATA
Keputusan Iendy untuk meneliti parfum kayu berawal dari semangat zero waste. Dia menyadari, serutan kayu dan hasil pengamplasan produknya yang biasanya dibuang, sebenarnya menyimpan minyak alami.
Dari situlah dia berinovasi. Melakukan riset dibantu temannya di Bandung, kota tempat dia menyelesaikan S-3. Menguji kadar minyak, aroma, dan potensi antibakterinya. Lima metode ekstraksi diuji, dari perendaman hingga distilasi panas.
Hasilnya adalah minyak esensial dengan karakter aroma berbeda. Ulin menghasilkan wangi kuat dan maskulin, sementara menggeris memberikan aroma lembut dan cenderung netral. Dia membuka laci dari meja di depannya, menyodorkan botol parfum kecil ukuran 10 mililiter.
Sampel parfum yang ditawarkan dari segi warna tampak biasa. Namun ketika bagian atas ditekan, aroma kayu memenuhi udara. Hangat, lembut, dan menenangkan.
“Kalau ulin itu kentara banget. Kena panas, kena hujan, aromanya tetap keluar. Kalau menggeris lebih lembut. Selain aroma, warna yang dihasilkan juga persis seperti kayu aslinya,” lanjutnya saat ditemui di rumahnya sekaligus workshop Menggeris, Perumahan Bumi Sempaja, Samarinda, Selasa (28/10).
Kini, hasil risetnya dalam proses untuk hak paten sederhana di Ditjen Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
“Saya cari di DJKI, ternyata belum ada yang bikin metode ekstraksi dari limbah kayu serut, adanya daun. Jadi saya daftar hak paten sederhana sekalian. Sekarang juga sedang urus ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kalau sudah oke, akan lanjut produksi dan coba dikenalkan,” kata pria 35 tahun itu dengan mantap.
Inovasi Iendy bukan lahir dari ruang steril sains semata, tapi dari kesadaran sosial dan budaya. Dia tahu, ulin dan menggeris punya nilai simbolik bagi masyarakat lokal. Oleh sebab itu, dia selalu memastikan bahan baku yang digunakan tidak melanggar adat maupun aturan negara. Baginya, inovasi hijau bukan hanya soal produk ramah lingkungan, tapi juga soal menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Terbaru, produk-produk jam tangan dan kacamata kayu buatannya tampil di Trade Expo Indonesia (TEI) medio Oktober lalu. Dia adalah pelaku usaha binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim lewat program Export Kaltimpreneurs 2025. Setelah melewati rangkaian pelatihan, pembinaan dan pendampingan berbulan-bulan, TEI adalah puncaknya. Dia terkurasi karena produknya yang potensial.
Menteri Perdagangan Budi Santoso yang mampir ke stannya, tanpa pikir panjang mengambil jam couple mahakam series berbahan menggeris. Keberadaannya juga menarik pembeli asal Rusia. “Mereka bahkan minta estimasi waktu pengiriman dan biaya kirim ke Rusia,” ujarnya lalu menaikkan kedua alis diikuti sudut bibir yang tertarik ke atas.
Iendy sadar, pasar global mencari produk yang punya cerita dan tanggung jawab lingkungan. Selain menyulap kayu jadi karya bernilai, dia menemukan ruang inspirasi lain di Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Kaltim. Wadah yang dihuni para pengusaha, rata-rata bergerak di ekspor. Memberinya peluang belajar dan berbagi tentang bisnis yang cerdas, beretika dan tetap mencintai alam.
Menggeris punya kekuatan unik, bahwa setiap produk menyimpan kisah tentang kearifan lokal. Setiap tiga bulan sekali produksi dilakukan di halaman rumahnya. Dibantu tiga perajin lokal. Harga yang ditawarkan memiliki target pasar masing-masing. Mulai Rp250 ribu hingga Rp 7 juta.
FILOSOFI DI BALIK WANGI KAYU
Bagi Iendy, wangi kayu bukan sekadar aroma. Menyimpan filosofi tentang keteguhan dan waktu. “Ulin dan menggeris itu kuat banget. Dia tahan air, tahan panas, bahkan serutannya saja tetap punya aroma. Itu mengajarkan saya, sesuatu yang terlihat kecil bisa punya nilai besar kalau kita sabar olahnya,” tuturnya.
Filosofi itu pula yang jadi dasar hidupnya sebagai pengusaha. Mulanya adalah serutan kayu yang nyaris tak dianggap, lalu melahirkan produk berdaya jual tinggi, bernilai budaya, dan berkelanjutan.
Mulai legalitas bahan baku, pemberdayaan sosial, hingga inovasi riset, semua dilakukan dengan kesadaran lingkungan. Di balik wangi parfum ulin serta menggeris, tersimpan kisah tentang cinta pada alam Kalimantan, penghormatan pada adat, dan keberanian berinovasi. Dari serutan yang nyaris jadi debu, Iendy menumbuhkan nilai baru, ekonomi hijau yang harum dari Kaltim.
Di tangan Iendy, limbah bukan akhir, justru awal cerita baru. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bayuadi Hardiyanto menyebut, semangat seperti yang ditunjukkan Iendy adalah wujud nyata dari visi ekonomi hijau yang kini tengah didorong BI di daerah.
“Kami berharap, agar pelaku usaha di Kaltim dapat terus berinovasi dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan. Hal ini bisa dimulai dari langkah sederhana seperti efisiensi penggunaan bahan baku, pengelolaan limbah, atau pemanfaatan sumber daya lokal secara bijak,” bebernya.
Bayuadi menambahkan, khusus bagi UMKM kriya yang telah mengikuti program pendampingan dari KPw BI Kaltim, semangat harus tetap dijaga. “Semoga mereka bisa terus mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkan dan menjadi contoh success story agar dapat direplikasi oleh pelaku usaha lainnya,” sebutnya.
Dari tempatnya tumbuh besar, Iendy menulis kisah tentang bagaimana limbah bisa jadi keindahan. Kerja keras mengubah aroma hutan dan peluang baru. Cerita yang senada dengan harapan KPw BI Kaltim, agar pelaku usaha Bumi Etam terus menumbuhkan inovasi yang berpihak pada bumi, manusia dan masa depan. (*)
Editor : Dwi Restu A