TENGGARONG - Bagi banyak pelajar, museum dan tradisi lokal bukan lagi ruang yang akrab. Kondisi inilah yang mendorong Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV menggelar Jelajah Warisan Budaya 2025, mengajak anak-anak sekolah menelusuri warisan sejarah yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Kegiatan dipusatkan di Desa Kedang Ipil pada 18–20 November. Ketua Panitia, Fithriani Jamaluddin mengatakan, kegiatan ini dirancang agar generasi muda tidak makin jauh dari warisan kebudayaan di sekitar mereka.
Ia menegaskan, pihaknya tidak membebani peserta dengan pengetahuan yang rumit, justru hal-hal dasar yang ingin ditanamkan. “Harapan kami sederhana. Minimal mereka tahu sejarah keraton, kerajaan, hingga masa Islam pada masa penjajahan dulu. Di Museum Mulawarman saja masih banyak koleksi yang bisa jadi pintu masuk mengenal sejarah daerah,” ujarnya.
Karena itu, sebelum menuju Kedang Ipil, seluruh peserta diajak menelusuri Museum Mulawarman di Tenggarong sebagai rangkaian pembuka. “Mereka perlu tahu siapa tokoh-tokohnya, apa yang tersimpan di museum, dan sejak kapan bangunan itu berdiri. Gambaran umum itu penting sebagai fondasi,” tambah Fithriani.
Sebanyak delapan sekolah terlibat dalam kegiatan ini. 6 sekolah dari dari Samarinda, sisanya dari Kutai Kartanegara. Sekolah yang dipilih bukan sembarangan, melainkan yang sudah pernah terlibat dalam program kebudayaan sebelumnya. “Supaya ada kesinambungan. Ada impact yang bisa terus dibangun,” katanya.
Tiga hari berada di Kedang Ipil, para pelajar akan diajak menyelami tradisi masyarakat setempat. Desa ini dipilih karena masih aktif mempertahankan budaya lokal, salah satunya tradisi nutuk beham, sebuah ritual masyarakat saat masa panen yang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb)
“Anak-anak harus tahu bahwa tradisi seperti ini bukan sekadar cerita. Ini hidup, dijalankan hingga hari ini. Dan mereka yang akan meneruskannya nanti,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki