KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Laju digitalisasi dan pengendalian inflasi yang semakin matang mengantar Kalimantan Timur meraih gelar Terbaik I TP2DD (Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah) dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) tingkat regional Kalimantan. Serta TPID Kabupaten Berprestasi diraih Kutai Kartanegara. Penghargaan diterima langsung oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud dan Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Jakarta, Jumat (28/11).
Bank Indonesia Kaltim menilai keberhasilan itu lahir dari inovasi teknologi dan kolaborasi lintas lembaga. Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto menyebut percepatan digitalisasi memberi dampak besar pada efisiensi layanan publik. Implementasi pembayaran non-tunai, perluasan QRIS, dan pemanfaatan kartu kredit pemerintah daerah disebut memperkuat transparansi keuangan daerah.
“Akseptasi pembayaran non-tunai semakin luas dan ekosistem digital berkembang pesat,” ujarnya. Peningkatan juga tercermin dari pertumbuhan transaksi digital. Pada Oktober 2025, nominal transaksi QRIS di Kaltim melonjak 130 persen (yoy) dan menyumbang 48 persen dari total transaksi QRIS di Kalimantan.
"Jumlah pengguna QRIS tumbuh 7,09 persen (yoy), merchant meningkat 33 persen (yoy), dan transaksi uang elektronik naik 10 persen (yoy) sehingga menjadikan Kaltim sebagai wilayah dengan nominal transaksi nontunai terbesar di Kalimantan," jelas Budi.
Di sisi lain, pengendalian inflasi diperkuat lewat early warning system (EWS) yang memantau pergerakan harga mingguan. Sistem itu memungkinkan respon cepat saat gejolak harga muncul.
Pihaknya juga mendorong teknologi Mandau (Mekanisme Pengendalian Utama Komoditas) Kaltim yang memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai generasi lanjutan EWS. “Mandau Kaltim menjadi tools pengendalian inflasi yang bersifat preventif dan kuratif,” terangnya. Teknologi itu berbasis data perkembangan harga.
Intervensi lapangan juga dilakukan melalui toko penyeimbang inflasi di 10 kabupaten/kota. Langkah juga diperkuat dengan program LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture), sistem pertanian berkelanjutan yang berhasil meningkatkan produktivitas padi. “Ketahanan pangan adalah fondasi stabilitas inflasi,” tegas Budi.
Seluruh upaya itu berjalan melalui sinergi erat antara BI, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi. “Prestasi ini bukan hasil satu institusi, tetapi kerja bersama,” ucapnya.
Hasilnya, Kaltim memborong penghargaan beruntun untuk TP2DD. Terbaik I kategori provinsi, lalu kategori Kota disabet Balikpapan sebagai terbaik I, disusul Bontang terbaik II, Samarinda terbaik III, dan Kutai Barat terbaik II untuk tingkat kabupaten. Dengan capaian tersebut, BI dan Pemerintah Provinsi Kaltim optimistis menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat digitalisasi tahun depan. (*)
Editor : Duito Susanto