BALIKPAPAN – Melepasliarkan orangutan di habitat aslinya, menjadi tujuan keberadaan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Yayasan ini dibentuk sejak 1991 dan terus berkembang sebagai konservasi orangutan.
Di tempat tersebut, orangutan dirawat dan dilatih agar bisa hidup sesuai habitatnya. Sejak berdiri, BOSF telah melepasliarkan 556 orangutan ke hutan liar. Sementara saat ini, sejumlah 111 orangutan yang masih direhabilitasi, juga 75 beruang madu.
Dari data yang dipaparkan Manajer Program Regional Kalimantan Timur BOSF Aldrianto Priadjati, dari 111 orangutan ada sekitar 78 orangutan tidak bisa dilepasliarkan karena kondisi kesehatan dan fisiknya. Mirisnya, hampir setengah dari angka itu terpapar tuberkulosis (TBC).
Baca Juga: BOSF Izinkan Pemakaian Lahan untuk Aktivitas Pertanian, Libatkan Peran Warga Sekitar
“Yang menjadi concern kami saat ini itu sekitar 35 orangutan terindikasi tuberkulosis (TBC) yang harus mendapatkan penanganan atau isolasi tersendiri,” jelasnya.
Menurutnya, paparan virus ini boleh jadi disebabkan dari manusia. Mengingat, beberapa orangutan tersebut diambil dari oknum yang menjadikan orangutan sebagai peliharaan. Sebab bisa dipastikan, di habitat asli mereka yaitu hutan tidak terdapat virus itu.
Untuk itu, pihaknya sudah menempatkan orang utan tersebut di daerah yang cukup terpencil. Sayangnya, 300 meter dari sisi belakang lokasi Special Care Unit (SCU) itu telah dirambah.
Hal ini, lata Aldri, tentu sangat mengkhawatirkan jika tidak dilakukan upaya-upaya. Makanya, pihak yayasan BOS sangat membutuhkan kerja sama dengan pihak lainnya untuk menjaga satwa kebanggaan masyarakat Kalimantan, bahkan Indonesia.
“Karena 90 persen orangutan ada di Indonesia, jadi kita bisa bertanggung jawab terhadap satwa itu. Kalau bukan kita siapa lagi,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan