TANJUNG REDEB—Potensi wisata Berau dinilai terlalu besar jika dikembangkan tanpa pemetaan yang jelas. Melihat luas wilayah dan ragam destinasi yang dimiliki, DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kaltim bersama DPC PUTRI Berau kini membagi pengembangan pariwisata Berau ke dalam tiga zona utama.
Ketua DPD PUTRI Kaltim, Dian Rosita, mengatakan zonasi itu dibuat karena Berau memiliki karakter wisata yang berbeda-beda di tiap wilayah, dengan segmentasi pasar tersendiri.
“Berau ini potensinya besar dan unik. Semua punya potensi berbeda-beda dengan pangsa pasar yang berbeda pula. Makanya kami zonakan menjadi Zona Wisata Kota Berau, Zona Wisata Berau Kepulauan, dan Zona Wisata Berau Pesisir,” ujarnya.
Baca Juga: 15 Pengusaha Wisata Resmi Bergabung dalam PUTRI Berau, Fokus Benahi Data hingga Promosi Destinasi
Menurut Dian, langkah ini belum diterapkan di daerah lain di Kaltim. Berau menjadi satu-satunya daerah yang dipetakan secara khusus karena cakupan wilayahnya luas dengan kekayaan wisata yang sangat beragam.
“Daerah lain belum kami buat seperti itu. Berau ini luas sekali dan potensinya luar biasa, jadi harus dibagi supaya organisasi lebih mudah menjalankan tugas pengembangan,” katanya.
Ia menjelaskan, kekuatan Berau terletak pada kelengkapan sektor wisatanya. Mulai dari wisata alam, wisata buatan, sejarah budaya, hingga konservasi.
Untuk Zona Pesisir, kawasan seperti Biduk-Biduk, Kaniungan, Talisayan dengan wisata hiu tutul, hingga Biatan disebut memiliki potensi besar, terutama untuk wisata healing dan wisata alam berbasis pantai. Namun, sektor ini masih memerlukan dukungan infrastruktur dan transportasi yang memadai.
“Kalau jalan dan transportasi tersedia baik, pesisir ini luar biasa. Lebaran kemarin pengunjung membludak, homestay penuh semua, bahkan ada yang sampai tidur di masjid,” ungkap Dian.
Baca Juga: Bandara Kalimarau Terapkan Pemeriksaan Khusus saat Keberangkatan Calon Jamaah Haji asal Berau
Ia juga menyoroti Air Panas Pemapak di Biatan yang disebut mampu menarik lebih dari 10 ribu pengunjung dengan harga tiket sekitar Rp35 ribu.
Sementara Zona Berau Kepulauan diposisikan sebagai wisata minat khusus dengan kekuatan ekosistem laut kelas dunia. Kawasan ini mencakup Kakaban dengan ubur-ubur tanpa sengat, Goa Halo Tabung, Maratua, Derawan, dan destinasi bahari lain yang disebut sebagai “surga tersembunyi” Kaltim.
“Ekosistem kelautannya nomor dua di dunia. Ini kekuatan besar Berau,” sebutnya.
Adapun Zona Kota Berau difokuskan pada wisata buatan, museum, wisata kopi, kolam air panas, hingga wisata bahari perkotaan yang dinilai punya dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Yang di kota ini secara ekonomi hidup dan harus diangkat masif supaya kualitas hidup masyarakat dan ekonomi Berau ikut naik,” tegasnya.
Dian menilai, seluruh zona sejatinya memiliki peluang besar untuk berkembang jika didukung infrastruktur, promosi, dan tata kelola yang tepat.
Editor : Muhammad Ridhuan