KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Di tengah tren penurunan jumlah santri baru yang dialami banyak pondok pesantren, Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan justru memiliki keunggulan pada sektor sumber daya manusia.
Ketersediaan tenaga pendidik bahkan disebut melebihi kebutuhan karena kuatnya budaya pengabdian alumni yang terus dipertahankan sejak pesantren berdiri.
"Kalau dilihat dari jumlah guru dibandingkan jumlah santri, sebenarnya kami kelebihan tenaga pengajar. Tapi itu tidak menjadi masalah karena mereka datang dengan semangat mengabdi kepada pondok," kata Drs. H. Alfi Taufik, MM, salah satu pendiri Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan.
Baca Juga: Asy-Syifa Kehilangan 25 Persen Target Santri Baru, Sekolah Swasta Ikut Terdampak
Alfi berujar, sebagian besar guru agama dan pembina santri merupakan lulusan Asy-Syifa sendiri. Mereka kembali mengajar bukan semata karena faktor ekonomi, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada almamater.
Saat ini Asy-Syifa memiliki sekitar 500 peserta didik mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Dari jumlah tersebut, sekitar 390 merupakan santri yang tinggal di asrama.
Sementara jumlah tenaga pendidik mencapai sekitar 115 orang. Sebagian besar merupakan alumni yang telah menyelesaikan pendidikan strata satu, bahkan ada yang bergelar magister.
Menurut Alfi, sistem regenerasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama pesantren. Setiap lulusan kelas akhir diwajibkan menjalani masa pengabdian minimal satu tahun sebelum melanjutkan pendidikan atau bekerja.
Baca Juga: Asy-Syifa Bidik Bantuan Rp15 Miliar untuk Perluas Fasilitas Pesantren
"Kami memang mewajibkan alumni kelas akhir mengabdi minimal satu tahun. Mereka ditempatkan sesuai kebutuhan, tidak hanya di Balikpapan tetapi juga di beberapa daerah lain seperti Samarinda, Berau, Penajam Paser Utara, bahkan sampai Nusa Tenggara Timur," ujarnya.
Program pengabdian tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter dan kepemimpinan alumni.
"Mereka yang pernah merasakan pendidikan di Asy-Syifa tentu lebih memahami budaya pondok. Itu sebabnya regenerasi kami utamakan dari alumni sendiri," katanya.
Untuk mata pelajaran umum yang membutuhkan kompetensi khusus seperti Matematika dan Biologi, pesantren tetap merekrut guru dari luar sesuai bidang keahlian masing-masing.
Alfi menilai sistem tersebut membuat kualitas pendidikan tetap terjaga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada rekrutmen tenaga pengajar eksternal.
"Kalau pelajaran agama dan kepesantrenan hampir semuanya ditangani alumni. Sedangkan mata pelajaran tertentu yang membutuhkan kompetensi khusus kami ambil dari luar," jelasnya.
Ia menambahkan budaya pengabdian yang terus diwariskan selama lebih dari tiga dekade menjadi modal penting dalam menjaga kesinambungan kualitas pendidikan di Asy-Syifa.
"Nilai yang kami bangun bukan sekadar mengajar, tetapi bagaimana alumni merasa memiliki pondok dan ikut membesarkannya," ucap Alfi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo