KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Kalimantan Timur tak hanya membutuhkan lahan dan petani. Ada satu mata rantai yang tak kalah menentukan, pupuk. Ketika distribusinya tersendat, produktivitas pertanian ikut terancam.
Di tengah persoalan itu, pemuda justru didorong mengambil peran lebih besar dalam mengawal distribusi sekaligus masuk ke sektor pangan.
Alfons, pemuda Samarinda, mengatakan persoalan pupuk menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan pertanian di Kaltim.
Sebab, kelancaran suplai pupuk bersubsidi berkaitan langsung dengan kemampuan petani menjaga produksi.
Baca Juga: Aksi Laga Iko Uwais Kembali Pukau Penonton, Adu Silat vs Kungfu di Film Wings of Dread
"Kalau kita bicara soal Kalimantan Timur dan pupuk, ini satu hal yang sangat penting menurut saya," kata Alfons, membuka pernyataannya pada Seminar Ketahanan Pangan yang digelar BEM Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, bersama Pemuda Inspirasi Nusantara.
Menurutnya, ketika suplai pupuk bersubsidi bermasalah, aktivitas pertanian bisa terganggu. Dampaknya, hasil produksi yang diperoleh petani juga tidak maksimal.
Karena itu, rencana realisasi pupuk bersubsidi secara nasional perlu dikawal hingga tingkat lapangan.
Alfons menyebut berdasarkan rilis Pupuk Indonesia, terdapat 9,8 juta ton pupuk yang akan direalisasikan untuk seluruh Indonesia.
Di titik inilah, menurut dia, pemuda punya ruang untuk terlibat. Bukan sekadar menjadi penerima manfaat program pertanian, tetapi ikut memastikan distribusi pupuk berjalan sesuai aturan.
"Saya pikir di sini peranan pemuda sangat penting untuk mengawal, dalam artian agar tidak terjadi proses malpraktik di lapangan," ujarnya.
Salah satu yang didorong adalah distribusi pupuk melalui koperasi. Koperasi desa dinilai dapat menjadi simpul distribusi yang lebih dekat dengan petani. Terlebih, pemerintah pusat kini memiliki program Koperasi Merah Putih.
"Atau misalkan kalau sekarang ini kan ada program pemerintah pusat, yaitu Koperasi Merah Putih, ini bisa jadi alternatif distribusinya," kuncinya.
Gagasan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem pangan Kaltim. Wakil Ketua Umum Kadin Kaltim Bidang Pangan Lani Tanujaya mengatakan, Kadin mengambil posisi sebagai penghubung antara dunia usaha, petani, dan pemerintah.
Baca Juga: Karhutla Mengancam: ISPA Balita Tembus Ribuan, Diskes PPU Waspadai Peningkatan Kasus
"Kadin ini sebetulnya bukan pengusaha. Kadin ini adalah fasilitator antara pengusaha dengan petani, maupun pengusaha dengan pengusaha, pemerintah dengan pengusaha," kata Lani.
Menurut Lani, peluang anak muda masuk ke sektor pangan semakin terbuka ketika rantai pasok mulai dibangun. Salah satunya melalui masuknya pengusaha yang sebelumnya bergerak di sektor batu bara ke bisnis pangan.
Lani menyebut Kadin mendukung langkah tersebut. Sebab, keberadaan industri pengolahan akan memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani.
"Kalau misalnya ada industri-industri yang bisa menampung hasil panen petani, itu sangat kami dukung dan senang sekali kalau begitu," ujarnya.
Persoalan pasar memang menjadi salah satu tantangan petani. Menurut Lani, petani kerap kesulitan bukan hanya saat memproduksi komoditas, tetapi juga menentukan ke mana hasil panen akan dijual
Karena itu, Kadin tengah mendorong pengembangan industri pangan di Samboja. Salah satu rencananya adalah membangun kawasan industri pangan yang dilengkapi pabrik pakan ikan dan ayam serta pabrik tepung ikan.
Baca Juga: Lampaui Target! PB Platinum Borong Dua Emas di Bayan Open 2026
Industri tersebut diharapkan menjadi pasar bagi hasil pertanian dan perikanan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar daerah.
Peluang itu semakin besar seiring pertumbuhan kebutuhan pangan akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lani menilai Kaltim tak boleh hanya menjadi pasar bagi daerah lain.
"Permintaan IKN harus dipenuhi oleh petani lokal, bukan oleh impor dari luar daerah," pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie