KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Mengirim beras ke pelosok Kalimantan Timur bukan perkara sederhana. Sebanyak 52 ton beras harus dikirim ke Mahakam Ulu untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah Long Pahangai dan Long Apari, dengan distribusi yang menghadapi tantangan akses darat maupun sungai baru-baru ini.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kalimantan Timur dan Utara (Kaltim-Kaltara) Musazdin Said mengatakan penyaluran tersebut dilakukan berdasarkan data pemerintah daerah mengenai warga terdampak di dua kecamatan tersebut. “Ada informasi data yang diberikan oleh Dinas Pangan untuk warga-warga yang terdampak terutama di dua kecamatan tersebut,” ujarnya.
Beras bantuan dikemas masing-masing lima kilogram untuk penerima. Total penyaluran mencapai sekitar 52 ton. Distribusi beras dilakukan dari Samarinda melalui jalur darat dan sebagian menggunakan sungai. Persoalan muncul karena kondisi akses dan debit sungai yang sedang surut.
Baca Juga: Dekat Kandang Ayam hingga Masalah Listrik, 4 Dapur MBG di Paser Disetop BGN
“Penyalurannya cukup kompleks. Karena kan dia melewati jalan darat selama berapa puluh jam. Kemudian nanti lewat sungai yang sungainya juga sudah airnya sudah surut dan itu tidak bisa muat berat,” jelas Said. Kondisi tersebut membuat pengiriman tidak bisa dilakukan sekaligus. Muatan harus disesuaikan dengan kemampuan transportasi yang tersedia.
Persoalan jarak juga berdampak terhadap biaya distribusi. Gudang induk Bulog berada di Samarinda, sedangkan fasilitas yang lebih dekat di wilayah tersebut masih berupa gudang filial yang dipinjamkan Kabupaten Kutai Barat. “Kalau gudang induknya yang milik Bulog sendiri adanya di Samarinda. Jadi memang cukup jauh kalau ngambil barangnya dari Samarinda,” katanya.
Untuk cadangan pangan pemerintah daerah Kaltim, Bulog mengelola sekitar 390 ton. Sebagian di antaranya telah digunakan untuk penyaluran ke Mahakam Ulu. Di sisi lain, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut persoalan ketahanan pangan di Mahakam Ulu perlu diselesaikan dari sisi produksi lokal. Pemerintah berencana melakukan cetak sawah di wilayah tersebut.
Baca Juga: Turap Sungai Mahakam di Kawasan Teras Samarinda Longsor, Komisi III Belum Terima Laporan
Seno menggambarkan beratnya akses menuju Long Apari, terutama ketika kondisi sungai surut. “Dari (bandara) Datah Dawai saya harus masih naik ketinting kurang lebih 4 jam ke Long Apari. Tidak bisa dilalui apapun. Tidak ada jalan, sungai kering,” ujarnya.
Menurutnya, Mahakam Ulu belum memiliki sawah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, cetak sawah diarahkan menjadi solusi jangka panjang agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan.
“Nah, untuk itu kita akan melakukan cetak sawah di Mahkamah Ulu. Kita akan berikan mereka sawah aktif yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Mahkamah Ulu,” tegas Seno.
Langkah tersebut diharapkan membuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan semakin kuat sekaligus mengurangi kerentanan terhadap persoalan distribusi dan pasokan dari luar daerah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo