BALIKPAPAN – Pengamat lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul), Albert Laston Manurung, mendorong penguatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui edukasi masyarakat, pemetaan wilayah rawan, serta perubahan perilaku dalam membuka lahan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi risiko kebakaran di tengah ancaman El Nino pada 2026.
Albert mengatakan, mengubah kebiasaan masyarakat yang menggunakan api untuk membuka lahan bukan perkara mudah. Perubahan perilaku berkaitan dengan aspek psikologis sehingga membutuhkan pendekatan berkelanjutan, terarah, dan melibatkan berbagai pihak.
“Merubah perilaku itu paling susah karena berkaitan dengan psikologis,” ujarnya, Selasa (20/10).
Ia menyayangkan apabila peringatan mengenai potensi El Nino tidak diikuti dengan upaya pencegahan yang lebih masif. Prediksi cuaca ekstrem, menurutnya, semestinya menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini, bukan hanya mengandalkan penanganan ketika kebakaran terjadi.
Baca Juga: Karhutla Meluas, BPBD Kaltim Perkuat Desa Tangguh Bencana dan Minta Dinkes Pantau Kasus ISPA
Albert juga menyoroti penggunaan istilah El Nino Godzilla untuk menggambarkan besarnya potensi ancaman kekeringan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu direspons melalui langkah antisipasi yang lebih serius dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menilai El Nino 2026 berpotensi menimbulkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan fenomena serupa pada 2015. Karena itu, upaya pencegahan perlu menjangkau aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk kebiasaan menggunakan api yang berisiko memicu kebakaran.
Selain edukasi, pemetaan wilayah rawan diperlukan agar upaya pencegahan dapat difokuskan pada lokasi yang memiliki risiko tinggi. Pendekatan ini juga perlu didukung koordinasi antarpihak agar masyarakat memahami risiko dan menerapkan cara membuka lahan yang lebih aman.
Editor : Muhammad Ridhuan