KALTIMPOST.ID - Berawal dari minimnya sejarah daerah dalam buku pelajaran, Muhammad Sarip menelusuri masa lalu Samarinda dan Kaltim. Kini, dia ingin memastikan generasi muda mengenal sejarah melalui sumber yang valid.
Jauh dari kampung halaman ternyata membuat Muhammad Sarip mempertanyakan identitasnya sendiri. Tepatnya, ketika dia bekerja di luar Kaltim pada 2013, muncul pertanyaan tentang siapa dirinya, dari mana asalnya, hingga bagaimana sejarah kota tempatnya tumbuh, yakni Samarinda.
Pertanyaan itu kemudian membawanya menelusuri sejarah lokal asal tinggalnya. Tiap membaca kisah sejarah tentang Samarinda atau Kaltim, Sarip kerap menemukan narasi yang kontradiktif, kontroversial, dan simpang siur. Dari sana, bulat tekatnya untuk meluruskan apa yang sebenarnya salah yakni dengan menjadi peneliti dan sejarawan.
Sarip kemudian mulai mencari tulisan sejarah melalui internet dan buku-buku lama. Namun, penelusuran itu justru mempertemukannya dengan berbagai informasi yang kontradiktif dan simpang siur.
Baca Juga: Surganya Pencinta Makanan Bercita Rasa Kuat, Mercure Hotel Samarinda Hadirkan Claypot Series
“Selama bersekolah dari tingkat dasar hingga kuliah di perguruan tinggi, pelajaran sejarah daerah sendiri nyaris tidak ada, kecuali hafalan tentang narasi singkat kerajaan tertua di Nusantara di Kutai. Tidak ada sejarah Samarinda, sejarah Kaltim di buku-buku pelajaran sekolah,” ujarnya pria yang kerap tampil dengan masker di wajah tersebut.
Berbekal kegemaran membaca koran, majalah berita, dan buku sejarah, Sarip mulai meneliti secara autodidak. Dia tak puas hanya menerima narasi yang beredar, tetapi berusaha membandingkan sumber untuk mengetahui fakta di balik cerita masa lalu.
Perjalanan itu melahirkan buku Samarinda Tempo Doeloe: Sejarah Lokal 1200–1999 pada 2017. Buku tersebut lahir atas inisiatif sekaligus kritik ilmiah terhadap buku sejarah Kota Samarinda terbitan Humas Pemkot Samarinda pada 2004.
Sarip menilai buku terbitan pemerintah tersebut memiliki kelemahan dalam riset, sistematika, dan substansi. Dia juga menyoroti adanya fabrikasi data pada salah satu bagian buku itu. Untuk mendapatkan pengakuan dari negara tentang kompetensi bidang sejarah pada 2020, dia mengikuti Sertifikasi Kompetensi BNSP yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Baca Juga: Gurihnya Claypot Garlic Chicken, Menu Hainan Favorit di Mercure Samarinda
“Adapun atribusi sejarawan publik itu disematkan oleh Pak Kresno Brahmantyo, beliau akademisi Departemen Sejarah FIB Universitas Indonesia. Beliau adalah satu dari menjadi mentor saya dalam Bimbingan Teknis Penulis Sejarah Kemdikbud RI angkatan pertama 2020. Beliau juga perwakilan Federasi Internasional Sejarawan Publik (IFPH-FIHP) untuk Indonesia,” jelasnya.
SEPERTI DETEKTIF MEMECAHKAN MISTERI
Menurut Sarip, meneliti sejarah bukan pekerjaan yang membebani. Dia justru menikmati proses mencari jawaban atas peristiwa yang selama ini dipahami secara keliru. Salah satunya ketika meneliti pembakaran benda-benda pusaka Kesultanan Kutai di Lapangan Kinibalu, Samarinda, pada 1965. Saat itu beredar narasi yang menyebut PKI sebagai pelaku sekaligus pemberi perintah pembakaran.
Saat penelusuran, dia menemukan bukti autentik yang menunjukkan narasi tersebut keliru. Penelitian itu menjadi bagian dari penyusunan buku Histori Kutai: Peradaban Nusantara di Timur Kalimantan dari Zaman Mulawarman hingga Era Republik, yang terbit pada 2023. Prosesnya berlangsung sekitar satu tahun, termasuk penelusuran arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), di Jakarta.
“Keberhasilan membongkar narasi sejarah yang keliru itu buat saya seperti kesuksesan detektif menyingkap misteri kasus tertentu,” tuturnya.
Baca Juga: Astra UD Trucks Alihkan Fokus ke Truk Logistik On-Road
Selain itu, dia juga mendapat endorsement dari salah satu sejarawan terkenal Nasional yakni Prof. Asvi Warman Adam. “Saya dapat eplog alias kata pamungkas dari beliau yang dimuat dalam buku saya sebelum buku tersebut terbit, beliau merupakan salah satu penulis sejarah yang kritis dan membongkar kepalsuan teks sejarah nasional,” terangnya.
Hingga kini, Sarip telah menghasilkan 16 buku tentang sejarah lokal, mulai dari kerajaan di Kaltim, perjuangan kemerdekaan, tokoh perempuan, hingga perkembangan Islam. Pada 2023, dia menerima penghargaan Tokoh Komunikasi dan Informasi dari Pemerintah Kota Samarinda serta penghargaan Sejarawan Kalimantan Timur Berdedikasi dari Persekutuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA)
Dia juga pernah mempresentasikan sejarah Kutai dan Kalimantan Timur dalam forum Tim Komunikasi Presiden RI di Sekretariat Negara, Jakarta, pada 2023.
MENDEKATKAN SEJARAH KE GENERASI MUDA
Berbagai pencapaian tersebut tidak membuat Sarip menganggap penelitian sejarah telah selesai. Baginya, temuan dokumen dan fakta baru selalu berpotensi mengubah pemahaman terhadap narasi lama. Ke depan, dia ingin pengetahuan sejarah lokal lebih mudah dipahami generasi Z dan generasi Alfa.
Baca Juga: Siasat Bertahan Agen Perjalanan Umrah, Gandeng Perbankan dan Asuransi Buka Tabungan Fleksibel
Salah satu tantangannya ialah maraknya konten sejarah berbasis kecerdasan buatan atau AI yang tidak jelas sumber dan keakuratan informasinya. Sarip mendorong masyarakat mengakses referensi ilmiah atau menikmati konten kreatif yang sumbernya telah diverifikasi.
Upaya mendekatkan sejarah kepada anak muda juga memengaruhi cara dia menulis. Menurutnya, bahasa yang digunakan dalam buku Samarinda Tempo Doeloe mungkin kini terasa kurang dekat bagi sebagian generasi muda.
Karena itu, dia mulai mengembangkan penulisan dengan bahasa yang lebih relevan. Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam buku terbarunya pada 2026 yakni Sarekat Islam di Kaltim.
Bagi Sarip, sejarah bukan sekadar mengingat peristiwa masa lalu, melainkan memahami asal-usul masyarakat melalui bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Dia ingin generasi muda tidak hanya mengenal cerita sejarah, tetapi mampu membedakan fakta dari narasi yang belum teruji. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo