Merawat Sumpah Pemuda lewat MBG, Membaca Buku Gratis 

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:41 WIB
MBG: Maharani Wulandari, inisiator gerakan Membaca Buku Gratis (MBG) bersama komunitas Daras Buku mengajak anak muda merawat semangat Sumpah Pemuda melalui budaya membaca dan ruang diskusi di Samarinda.
MBG: Maharani Wulandari, inisiator gerakan Membaca Buku Gratis (MBG) bersama komunitas Daras Buku mengajak anak muda merawat semangat Sumpah Pemuda melalui budaya membaca dan ruang diskusi di Samarinda.

 KALTIMPOST.ID - “Kalau MBG yang lain memberi makan perut, MBG kami memberi makan pikiran.” Kalimat itu menjadi cara Maharani Wulandari menjelaskan gerakan Membaca Buku Gratis (MBG) yang digagas komunitasnya yakni Daras Buku.

Walaupun sama-sama MBG tapi yang disajikan bukan makanan secara harfiah, melainkan buku-buku yang bisa dibaca siapa saja. Lebih dari itu, lapak sederhana tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda untuk bertukar pikiran dan saling mengenal.

Bagi perempuan yang karib disapa Rani tersebut, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diperingati melalui upacara atau unggahan di media sosial.

"Semangat 1928 sejatinya lahir dari ruang perjumpaan, tempat anak muda dari beragam daerah dan latar belakang duduk bersama, bertukar gagasan, lalu menemukan kesamaan arah. Ruang seperti itulah yang ingin kami hidupkan kembali, sesederhana dengan menggelar buku di taman kota," jelas perempuan kelahiran 2000 tersebut.

Baca Juga: Jangan Tunggu Bencana untuk Bersuara, Ridho Pratama Ajak Anak Muda Berani Kawal Isu Lingkungan

Kegiatan ini lahir atas inisiasi Rani bersama kawannya sesama dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda, Rahmatullah Al-Barawi, pada medio September 2026. Tepatnya penghujung pekan, di Taman Samarendah.

Awalnya, mereka hanya menunggu siapa saja yang tertarik untuk singgah. Namun, perlahan kawan-kawan lain ikut datang membawa buku untuk dibaca bersama. Beberapa bahkan menyumbangkan koleksinya agar dapat diakses lebih banyak orang.

Perjumpaan yang terbentuk dari kegiatan itu semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa lapak buku bukan sekadar alternatif tempat membaca. Ada interaksi sosial yang tumbuh, termasuk dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal.

Rani menilai, memahami perbedaan pandangan, keyakinan dan latar belakang dapat dimulai dari kebiasaan membaca serta mendengarkan. Di lapak tersebut, pengunjung dari berbagai usia bisa berbincang santai tentang buku yang sedang dibaca. Dari percakapan sederhana, tumbuh kesempatan untuk saling memahami.

Baca Juga: Sumpah Pemuda Jadi Momennya Generasi Muda Berkarya bagi Bangsa

Bersama Daras Buku, Rani memilih jalan kultural yang dekat dengan masyarakat. Mereka tidak menargetkan gerakan besar, tetapi berusaha menjaga kegiatan kecil itu tetap berjalan secara konsisten.

“Kami hanyalah sekelompok kecil anak muda yang menggelar buku di taman setiap pekan. Tetapi kerja kecil yang dilakukan dengan setia dan konsisten, menurut kami, lebih berarti daripada slogan yang megah,” tulis Rani.

Harapannya, budaya membaca semakin akrab di kalangan anak muda Samarinda. "Tentunya kami punya harapan. Pertama, semoga budaya membaca makin akrab di kalangan anak muda Samarinda. Kedua, semoga taman-taman kota makin sering menjadi ruang tumbuhnya diskusi yang sehat, terbuka, dan inklusif. Ketiga, semoga makin banyak komunitas, kampus, dan masyarakat yang ikut menyumbang buku, tenaga, dan gagasan, sehingga gerakan literasi seperti ini tidak berjalan sendirian," paparnya.

Rani sendiri merupakan dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda. Ia menyelesaikan pendidikan magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2024. Sebelum menjadi dosen, ia pernah bekerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Baitul Hikmah Universitas Gadjah Mada.

Selain itu, ia tergabung dalam Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI Kaltim. Lapak Membaca Buku Gratis dibuka setiap Minggu pukul 07.00–11.00 Wita di Taman Samarendah. Pengunjung dapat memilih dan membaca buku di tempat tanpa biaya maupun persyaratan.

Baca Juga: Kisah Sukses UMKM Binaan PHKT, Ubah Limbah Serbuk Kayu dan Sabut Kelapa Jadi Mesin Cuan

Koleksinya meliputi sastra, filsafat, keagamaan, sejarah, nonfiksi, hingga novel. Kegiatan tersebut telah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup Samarinda. Bagi Rani, anak muda tidak harus menunggu panggung besar untuk ikut berkontribusi.

Membawa buku, membacanya bersama, lalu mendiskusikannya bisa menjadi langkah sederhana untuk merawat kebersamaan. “Cukup mulai dari yang ada di tangan, yakni sebuah buku untuk didiskusikan bersama," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Membaca Buku Gratis Daras Buku literasi samarinda sumpah pemuda