KALTIMPOST.ID, Pohon pulai, pule (Alstonia sp.) telah lama dikenal oleh masyarakat Kalimantan sebagai tanaman obat yang memiliki berbagai manfaat kesehatan.
Tumbuhan ini, yang dapat tumbuh hingga setinggi 30 meter, dikenal dengan getah putihnya yang pahit dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional.
Meskipun masyarakat Kalimantan umumnya hanya mengenal tumbuhan ini sebagai "pulai", sebenarnya terdapat beberapa jenis pulai, seperti Alstonia scholaris dan Alstonia wahigensis.
Beragam jenis pulai ini dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, menunjukkan pentingnya penelitian lebih lanjut terhadap kandungan kimia dari berbagai jenis Alstonia tersebut.
Manfaat Kesehatan Pohon Pulai
Pohon pulai memiliki berbagai manfaat kesehatan yang luar biasa. Ekstrak kulit kayu dan daun pohon ini mengandung senyawa kimia yang telah lama dikenal memiliki efek peluruh dahak, pereda kejang, dan penurun gula darah.
Kandungan ini membuat Pulai efektif dalam mengobati penyakit seperti kencing manis, malaria, dan tekanan darah tinggi.
Pohon pulai juga dikenal memiliki potensi dalam menekan risiko kanker dan menghambat pertumbuhan bakteri.
Senyawa alkaloid dan triterpene dalam pulai memiliki aktivitas apoptosis yang mampu mematikan sel kanker.
Selain itu, kandungan butanol pada kulit batang pulai dapat menghambat bakteri penyebab TBC dan diare.
Tidak hanya itu, daun dan getah Pulai mengandung antioksidan kuat yang mampu menangkal radikal bebas, melindungi tubuh dari penyakit degeneratif.
Selain manfaat kesehatan, kayu pulai yang ringan sering dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, seperti pembuatan batang pensil, topeng, dan kerajinan kayu lainnya.
Cara Penggunaan
Di Kalimantan, tepatnya di wilayah IKN, kulit batang pohon pulai banyak digunakan oleh etnis asli Kalimantan sebagai obat untuk berbagai penyakit.
Misalnya, untuk mengatasi kencing manis (diabetes), 3-4 gram kulit batang direbus dalam tiga gelas air hingga tersisa dua gelas, kemudian diminum dua kali sehari.
Selain itu, getahnya digunakan untuk meredakan sakit gigi pada gigi yang berlubang.
Cara penggunaan kulit kayu pulai untuk menurunkan demam dapat dilakukan dengan mencuci bersih kulitnya, lalu rebus dengan 1 gelas air selama 15 menit.
Setelah dingin maka saring hasil rebusan, tambahkan 1 sendok makan madu, lalu diaduk merata agar bisa langsung diminum.
Dengan berbagai manfaatnya, pohon pulai tidak hanya penting sebagai tanaman obat tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Potensi ini menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menggali dan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki oleh pohon pulai secara maksimal. (*)
Editor : Dwi Puspitarini