Ternyata, secara empiris, herbal Kalimantan bernama latin Eleutherine americana Merr ini juga ampuh dalam menurunkan tekanan darah tinggi (antihipertensi) dan sebagai antiinflamasi.
Beberapa etnis Dayak Kalimantan percaya, bawang dayak merupakan tanaman obat berkhasiat. Etnis ini telah mengaplikasikannya turun-temurun.
Secara medis, bawang dayak memiliki potensi besar sebagai obat multifungsi yang telah diteliti oleh berbagai ahli bahwa berguna dalam farmakologi.
Bawang Dayak memiliki kandungan berbagai senyawa fitonutrien seperti Naphthalene, Naphthoquinone, Eleutherinoside a, Eleutherol, Isoeleutherol, Anthraquinone, Flavonoid, Fenolik, dan Eleutherin.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, menguji ekstrak etanol bawang dayak sebagai antihipertensi.
Pengujian ini diterapkan 15 tikus jantan (Rattus novergicus) yang dibagi dalam lima kelompok dengan pemberian dosis yang berbeda.
Hasil analisis pengukuran darah menunjukkan bahwa ekstrak etanol bawang Dayak dapat menurunkan tekanan darah sistol dan diastole.
Penelitian lain dilakukan oleh Poltekkes Kemenkes Pontianak untuk mengetahui perbedaan aktivitas antiinflamasi ekstrak bawang dayak yang dibandingkan dengan natrium diklofenak.
Pengujian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan menggunakan metode stabilisasi membran sel darah merah.
Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak bawang dayak memiliki potensi sebagai antiinflamasi.
Walau demikian, diperlukan penelitian lebih dalam lagi untuk mengkonfirmasi manfaat bawang dayak secara komprehensif untuk memberikan bukti yang lebih kuat.
Bawang dayak juga bisa digunakan tanpa perlu dikeringkan terlebih dulu. Di antaranya dengan mengolahnya menjadi acar, manisan, atau sebagai bumbu masak.
Menurut Buku Tumbuhan Berkhasiat Obat Etnis Asli Kalimantan, bawang dayak memiliki berbagai nama daerah.
Kalimantan Timur (Kaltim), bawang dayak dikenal dengan sebutan bawang tiwai. Kemudian di daerah Dayak Meratus, Banjar, Kalsel, dikenal dengan nama bawang seribu tawar. Sedangkan di Kalteng disebut dengan bawang lau.
Daun bawang Dayak berbentuk pita memanjang antara 15–20 cm yang mirip dengan daun palem.
Bagian umbi memiliki warna merah menyala dan permukaan licin. Bagian inilah yang kerap dikonsumsi sebagai pengobatan.
Cara mengonsumsi bawang dayak yang paling umum adalah dengan mengeringkan terlebih dahulu, kemudian diseduh sebagai minuman hangat.
Demikianlah ulasan mengenai herbal Kalimantan bawang dayak yang digunakan dalam pengobatan tradisional etnis Dayak di Kalimantan dan IKN. Semoga bermanfaat. (*)
Editor : Almasrifah