KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Fenomena perut begah dan tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar kerap dikeluhkan masyarakat. Kondisi yang sering memicu rasa tidak nyaman ini umumnya disebabkan oleh produksi gas berlebih di lambung serta adanya gangguan pada pergerakan usus.
Meski porsi makan yang berlebihan menjadi pemicu utama, para ahli kesehatan menyebut bahwa jenis asupan dan kebiasaan saat makan juga memegang peranan penting dalam memicu gangguan pencernaan ini. Biasanya, rasa begah akan mulai muncul dalam kurun waktu 30 menit setelah makan.
Terdapat beberapa faktor utama yang disinyalir kuat menjadi penyebab perut terasa penuh dan begah, di antaranya:
-
Konsumsi Karbohidrat dan Lemak Tinggi: Kedua zat gizi ini membutuhkan waktu metabolisme yang lebih lama. Akibat lambatnya proses pencernaan, perut akan terasa penuh lebih lama. Selain itu, makanan tinggi lemak berpotensi merangsang produksi asam lambung berlebih.
-
Kandungan Laktosa dan Fruktosa: Produk olahan susu (seperti keju dan es krim) serta makanan/minuman tinggi fruktosa (seperti bawang bombai dan minuman berkarbonasi) dikenal sulit dicerna tubuh, sehingga memicu terbentuknya gas di saluran pencernaan.
-
Makanan Penghasil Gas: Jenis sayuran dan buah tertentu seperti brokoli, kol, kacang merah, dan jus apel secara alami melepaskan gas saat dicerna.
-
Kebiasaan Makan Terburu-buru: Aktivitas makan yang terlalu cepat menyebabkan volume udara yang masuk ke saluran pencernaan menjadi lebih banyak, sekaligus mengganggu proses mekanis pencernaan di dalam lambung.
Solusi Medis dan Pencegahan
Untuk mengantisipasi sekaligus mengatasi keluhan tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai menerapkan pola makan yang sehat. Langkah preventif sederhana yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi makanan dalam porsi secukupnya serta mengunyah makanan secara perlahan.
Namun, bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih cepat, penggunaan produk enzim pencernaan kini mulai banyak direkomendasikan. Enzim pencernaan aktif seperti amilase, lipase, dan protease berfungsi efektif membantu mengurai karbohidrat, lemak, dan protein di dalam usus, sehingga mampu menekan produksi gas berlebih.
Kendati suplemen ini dijual bebas, masyarakat disarankan tetap mengonsumsi produk enzim pencernaan dan simetikon tersebut sesuai dengan aturan pakai yang tertera pada kemasan atau berdasarkan anjuran dokter. Kombinasi antara penanganan medis yang tepat serta perubahan gaya hidup sehat diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan pencernaan jangka panjang.(*)
Editor : Thomas Priyandoko