KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Para orang tua diimbau untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada anak usia di bawah lima tahun (balita). Pemberian telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna berisiko tinggi menyebabkan keracunan makanan akibat infeksi bakteri Salmonella atau Salmonellosis.
Dokter Spesialis Anak, dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A, mengungkapkan bahwa balita memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Bakteri Salmonella sendiri dapat masuk ke dalam telur melalui retakan pada kulit telur.
Baca Juga: Tawuran Maut Dua Kelompok Remaja Pecah di Semarang, Pelajar SMP Asal Boyolali Tewas Dibacok
"Anak usia balita empat kali lipat lebih berisiko mengalami gejala keracunan makanan berupa Salmonellosis dibandingkan dengan orang dewasa yang mengonsumsi telur mentah atau setengah matang," kata dr. Cut, mengutip keterangan di laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Gejala Salmonellosis umumnya muncul 12 hingga 72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala tersebut meliputi diare berdarah, demam, muntah, hingga dehidrasi. Meski umumnya membaik dalam kurun waktu 4–7 hari tanpa antibiotik, kondisi ini dapat mengancam jiwa jika dehidrasi berat tidak segera ditangani.
Baca Juga: Gelombang PHK Hantam Kaltim, September 3.485 Pekerja Kehilangan Pekerjaan
Selain balita, kelompok rentan lainnya yang berisiko tinggi terkena infeksi ini adalah lansia dan ibu hamil.
dr. Cut juga mengingatkan bahaya tersembunyi pada sejumlah makanan yang menggunakan telur setengah matang, seperti mayones buatan rumah (homemade), tiramisu, dan mousse. Sementara itu, mayones olahan pabrik dinilai lebih aman karena umumnya menggunakan telur yang telah melewati proses pasteurisasi.
Baca Juga: Geger Tabungan Rp17 Miliar Raib di BTN, Investigasi Temukan Puluhan Rekening-ATM Tak Terdokumentasi
Bagi bayi yang sudah memasuki fase Makanan Pendamping ASI (MPASI) di atas usia enam bulan, orang tua diminta memastikan bagian putih dan kuning telur dimasak hingga benar-benar mengeras. Saat mengolah hidangan berbahan telur, suhu pematangan minimal harus mencapai 71°C.
Ia mematahkan anggapan bahwa proses memasak dapat merusak gizi telur. Menurutnya, telur matang tetap kaya nutrisi dan justru lebih ramah bagi sistem pencernaan anak.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.885 per Dolar AS, Won Korea dan Ringgit Malaysia Justru Menguat
"Telur yang dimasak hingga matang tidak kehilangan kandungan nutrisinya, bahkan telur yang sudah matang tersebut lebih mudah dicerna oleh saluran cerna anak," jelasnya.
Untuk mencegah kontaminasi kuman susulan, telur yang telah dimasak matang sebaiknya segera dikonsumsi dan tidak dibiarkan berada di suhu ruangan lebih dari dua jam.(*)
Editor : Thomas Priyandoko